Ponsel Pertamaku Bermerek Nemu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Ponsel Pertamaku Bermerek Nemu

Pagi itu hatiku sangat galau. Sudah beberapa hari belum juga gajian. Sementara utang di kios sembako milik tetangga, makin menumpuk. Aku dan istri sampai malu melewati kios itu. Tiap kali mau keluar rumah, baik aku maupun istri memilih jalan lain menuju jalan umum untuk menghindari melewati kios tersebut.

Meski tak yakin gajiku akan cepat dibayar, aku coba juga pergi ke kantor tempat aku bekerja dengan berjalan kaki. Jarak antara tempat tinggalku dengan kantor cukup dekat, kurang dari satu kilometer. Aku bekerja di kantor yang bergerak di bidang bisnis batubara. Dan di perusahaan itu bekerja sebagai tenaga quality control atau pengendali mutu.

Karena pikiran yang galau, selepas menyeberangi jalan umum yang cukup padat, aku berjalan sambil menunduk. Sekitar jarak 20-an meter sebelum memasuki halaman kantor yang ditumbuhi rumput, kakiku terantuk sesuatu. Kupikir pasti cuma batu kecil yang tertendang kakiku. Namun terasa agak ringan, lagi pula kakiku yang cuma pakai sandal tidak mengalami luka.

Aku pun menunduk dan jongkok menyibak rerumputan, disana kulihat sebuah benda berwarna kuning dengan keypad yang melekat, dan di bagian kepalanya terdapat tonjolan seperti antena.

Aku memungut benda itu. Di bagian atas keypad bertuliskan Siemens Mobile, kemudian terdapat pula tulisan lainnya C 35. Kutimang-timang benda itu sambil mengamatinya. Dalam pikirku benda apa ini, aku tak tahu. Karena selama ini aku belum pernah melihat benda seperti itu.

Aku memandangi tulisan yang melekat di benda itu, mengingat-ingat kata Siemens dan Mobile. Tapi aku tak juga menemukan arti kedua kata itu.

Akhirnya kupikir daripada ada orang yang melihat dan memperhatikan tingkahku, benda itu aku masukkan ke saku celana bagian belakang, biar dari luar terlihat seperti memuat rokok.

Aku pun meneruskan menuju kantor. Di kantor setiap hari kecuali minggu adalah hari kerja. Yang bekerja pada shift siang adalah operator komputer, tenaga pembukuan, dan kasir. Sedangkan aku bekerja pada shift malam.

Kasir mengatakan hari itu belum ada dana yang masuk, kemungkinan gajian akan ditunda beberapa hari lagi. Aku tak begitu kaget, karena sudah kutebak pasti belum gajian.

Kupikir daripada berlama-lama di kantor lebih baik pulang, mencari tahu benda apa yang barusan kutemukan. Aku pun pamit pulang.

Sesampai di rumah benda yang kutemukan, kuperlihatkan ke istriku. Dia pun sama sepertiku, tidak tahu.

Aku ingat terdapat sebuah kamus bahasa Inggris-Indonesia yang tersimpan di lemari. Aku pun mengambinya, membolak balik mencari arti kedua kata di benda tersebut. Kata untuk Siemens tak kutemukan, yang ada kata Mobile yang artinya bergerak, atau alat komunikasi yang bisa dibawa-bawa.

Barulah pikiranku agak terbuka. Kepada istriku kukatakan benda itu pastilah semacam alat telpon. Dia cuma memandang bengong kepadaku.

“Coba tanyakan ke H. Bustami, teman abang itu, siapa tahu dia ngerti,” saran istriku.

Benar juga saran istriku. Soalnya temanku itu setahuku sering berpergian keluar daerah, paling tidak ia lebih tahu daripada aku (swear, aku gaptek sekali waktu itu).

Dengan berjalan kaki lagi aku pergi ke rumah H. Bustami. Untunglah temanku sedang berada di rumahnya.

Tak banyak basa basi benda itu aku keluarkan dan kuserahkan ke dia. “Ini telpon seluler atau biasa disebut ponsel,” kata H. Bustami setelah menerima benda aneh itu (maklum waktu itu tahun 2000, belum ada yang pakai polsel di daerahku).

“Kapan kamu beli ini, disini kan belum ada jaringannya ?” Tanya H. Bustami.

“Siapa juga yang beli, aku barusan menemukannya di jalan,” sahutku.

“O……kukira kamu yang beli,” ujarnya manggut-manggut.

Benar juga dugaanku, benda itu pastilah semacam telpon. Maklum yang namanya telpon aku cuma sering lihat di film ataupun di tivi.

“Daripada nggak bisa dipakai disini, aku saja yang pakai untuk keperluan diluar daerah, nanti bila sudah terpasang jaringan disini, aku belikan kamu yang baru,” kata H. Bustami.

Setelah aku pikir-pikir, biarlah benda itu dipakai oleh temanku saja.

“Nggak apa-apa, pakai aja, tapi aku nanti diajari cara menggunakannya jua,” ujarku.

“Jangan kuatir, nanti kuajari kamu biar bisa nelpon juga,” balas H. Bustami.

Akhirnya benda itu pun berpindah tangan. Sebagai imbalan pinjam pakai, temanku memberiku uang Rp 100 ribu.

Itulah kisah pertama kali aku kenal ponsel.

Sekitar 2 tahun kemudian baru di daerahku terpasang jaringan. Orang-orang sudah banyak yang menggunakan alat komunikasi itu. Tapi aku sudah tak tinggal di daerah itu lagi, aku sudah lama berhenti dari perusahaan dimana aku bekerja dulu. Aku bekerja di daerah lain yang jaraknya dari tempat tinggalku sebelumnya cukup jauh, dipisahkan oleh lautan pula.

Melihat orang-orang menggunakan ponsel, aku pun teringat akan ponsel temuanku dulu. Namun apalah dayaku, kemana akan kucari temanku itu, sudah lama tak pernah lagi bertemu sejak aku pindah tempat.

Sudahlah pikirku, lupakan saja ponsel temuan itu. Yang jelas aku pernah memiliki ponsel meski itu hasil nemu alias ber-merk Nemu.

Karena memang perlu, aku pun mengumpulkan uang untuk membeli ponsel, meski punya uang cuma cukup untuk membeli ponsel second hand, aku membeli ponsel keduaku, Motorolla T-190.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.