Ratusan Pengidap HIV/AIDS di Tanah Bumbu (Yang Terdata) - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 19 Maret 2014

Ratusan Pengidap HIV/AIDS di Tanah Bumbu (Yang Terdata)

Menurut data dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, terdapat 141 pengidap virus HIV dan 7 orang yang posirif mengidap AIDS di wilayah Tanah Bumbu kini.

Mengetahui data tersebut saya tak begitu kaget, karena Tanah Bumbu merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Kotabaru sejak 9 tahun lalu, adalah wilayah yang perkembangannya sangat pesat. Hal itu disebabkan wilayah yang sangat kaya dengan Simber Daya Alam (Natural Resources) berupa deposit mineral; batubara, bijih besi, emas, dan gas bumi, disamping itu masih memiliki wilayah hutan yang ditumbuhi pepohonan besar.

Dengan kekayaan SDA itu, Tanah Bumbu menjadi tujuan perpindahan penduduk dari daerah lainnya, tak sebatas datang dari wilayah Propinsi Kalimantan Selatan saja, bahkan dari seluruh daerah lainnya di Indonesia. Kedatangan para warga luar daerah itu dapat dipastikan mengadu peruntungan berusaha di daerah baru yang kaya, serta banyaknya para pengusaha di berbagai bidang yang ikut menanamkan modalnya terutama di bidang pertambangan yang mulai marak dan booming menjelang tahun 2000-an.

Dengan jumlah data demografi yang semakin tahun meningkat, segala kebutuhan penduduk pun ikut meningkat di berbagai sisi kehidupan tak terkecuali di bidang hiburan.
Jika bicara tentang bidang hiburan, maka tak bisa dipisahkan dengan praktik transaksi berbau seks, narkotika dan minuman keras (Miras).


Dalam beberapa tahun saja di wilayah Tanah Bumbu terutama di 4 tempat utama; Batulicin (ibukota kabupaten), Simpang Empat (pelabuhan), Sungai Danau Satui (pintu gerbang), dan Pagatan (tempat wisata), fasilitas hiburan bertambah dengan pesatnya. Hampir di tiap hotel terdapat ruang hiburan yang disediakan pengelola untuk para tamu yang berkunjung (salah satu hotel di Batulicin pernah menjadi tempat menginap Presiden SBY dan Jusuf Kalla saat kunjungan ke kabupaten ini, dan beberapa pejabat setingkat Menteri pun pernah pula menginap di hotel ini.)
Dan di tempat hiburan hotel rata-rata menyediakan wanita muda untuk menemani para pengunjung, dan urusan menemani ini bisa berlanjut ke tempat lain.

Disamping adanya para wanita yang jadi “lady escort” di tempat hiburan hotel yang rata-rata bisa diajak kencan (tergantung nego), terdapat juga beberapa lokasi prostitusi di wilayah Tanah Bumbu. Keberadaan lokasi prostitusi itu bahkan sudah eksis sejak 3 dekade lalu ketika bisnis dan usaha di bidang perkayuan masih mendomimasi usaha masyarakat.

Di wilayah Kecamatan Simpang Empat terdapat 2 lokasi prostitusi yang jumlah para PSK-nya lebih dari 200 orang, kemudian di wilayah Kecamatan Satui terdapat beberapa tempat prostitusi yang saling terpisah, jumlah PSK-nya di perkirakan mencapai 100 orang, ini belum termasuk PSK yang berpraktik dengan modus sebagai anak kost, atau PSK freelance.
Menurut beberapa pengelola “wisma” di lokasi prostitusi Kecamatan Simpang Empat, di lokasi mereka pernah jumlah PSK mencapai lebih 400 orang ketika maraknya aktivitas penambangan batubara ilegal 5 tahun lalu.


Adanya praktik prostitusi baik yang memiliki tempat tertentu maupun yang freelance, menjadikan mudah transaksi seks.
Permasalahannya terkait dengan virus HIV/AIDS tentu saja dikarenakan tak adanya pengawasan yang ketat terhadap praktik tersebut oleh instansi terkait dan berwenang menyangkut masalah baik kesehatan maupun penanggulangan berbagai penyakit kelamin. Apalagi dengan adanya aktivitas penambangan dan pengiriman batubara, menjadikan kedatangan orang dari berbagai daerah hingga dari mancanegara sebagai pihak yang terkait dengan bisnis pembelian hasil tambang; kedatangan kapal-kapal berbendara asing pembeli batubara berikut crew/awak kapalnya yang tak mustahil turun ke darat mencari berbagai hiburan termasuk transaksi seks.

Akibat hubungan seksual diluar nikah dengan berbagai orang tanpa adanya pengawasan terhadap kesehatan para PSK, ini akan semakin mempercepat pertambahan penularan virus HIV dan pengidap AIDS. Apalagi penyuluhan (conseling) dari instansi terkait hanya sesekali saja diberikan pada saat-saat tertentu pula dalam jangka waktu lama, maka tak akan menjamin angka penularan cepat berkurang.
Dari data KPA Tanah Bumbu itu saja, diketahui yang relah terdeteksi dan terdata, belum lainnya yang tak terdeteksi dan terdata. Karena diketahui selama ini para PSK yang berpraktik di tempat dan lokasi tertentu; mereka datang dan pergi silih berganti. Kepulangan para PSK biasanya menjelang puasa dan lebaran, akan berdatangan kembali setelah lebaran; ada yang balik lagi, ada juga yang datang wajah baru (bisa juga stok lama). Ini tentu sangat menyulitkan pendataan terhadap mereka untuk mendapatkan data yang benar-benar akurat.

Tanah Bumbu, kabupaten baru dan termuda di Kalimantan Selatan, berkembang pesat di berbagai bidang, termasuk cepat pula penularan virus HIV/AIDS, terrible……………..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.