Saatnya Menanggalkan Bahasa Sanskerta Dari Bahasa Indonesia - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Saatnya Menanggalkan Bahasa Sanskerta Dari Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia merupakan bahasa yang setiap saat berinovasi. Perkembangan Bahasa Indonesia selalu mengalami kemajuan, baik dari pengucapan maupun tulisan.

Yang membuat perkembangan Bahasa ini tidak saja dilakukan oleh para pengguna maupun pemakainya, tetapi dibantu oleh media massa baik cetak maupun elektronik.

Harus diakui perkembangan Bahasa Indonesia dewasa ini lebih banyak dipengaruhi bahasa-bahasa Eropa, terutama Bahasa Inggris. Banyak istilah ataupun idiom diambil atau dicomot dari Bahasa Inggris, baik dari tulisan dan pengucapan aslinya, atau disesuaikan dengan dialek penggunanya. Pemakaian istilah maupun idiom dari Bahasa Inggris meninggalkan Bahasa Sanskerta yang banyak dipakai sebelumnya.

Dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang pesat, para pengguna Bahasa Indonesia tampaknya mulai kurang sreg dengan penggunaan istilah ataupun idiom dari Bahasa Sanskerta, disamping itu bahasa kuno ini sulit didapatkan kamusnya, sehingga sulit pula menemukan arti sebuah kata. Hal ini tentu sangat berbeda dengan Bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, dimana sangat mudah memperoleh buku-buku pelajarannya, serta menjadi bahasa yang wajib dipelajari di berbagai sekolah.

Para pengguna Bahasa Indonesia yang mencomot istilah atau idiom dari Bahasa Inggris akan tampak intelek ketika menggunakannya ketimbang dari Bahasa Sanskerta. Apalagi sudah sangat banyaknya kata dalam Bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari berasal dari Bahasa Inggris.

Ini contoh beberapa kata yang tanpa sadar digunakan oleh penutur Bahasa Indonesia sehari-hari yang berasal dari Bahasa Inggris ; motor, mesin (machine), mobil (mobile), bis, (bus), telpon (telepone), sepeda (speed), televisi (television), radio, WC (water closed), AC (air condition), eror (error), heng (hang, hung), voltase (voltage), ngemil (meal), botol (bottle), gelas (glass), komputer (computer), listrik (electrik), meeting, airport, jeti (jetty), jurnalis (journalist), dan lainnya.

Kata-kata ini sebagian besar sulit bila ingin dicarikan padanannya dalam Bahasa Indonesia asli maupun dalam Bahasa Daerah.

Memang tak menutup kemungkinan ada sebagian kata yang dapat di-Bahasa Indonesia-kan, tapi terdengar agak lucu dan terasa ketinggalan jaman, misalnya : kata MOTOR diganti dengan “penggerak”, tapi pasti tidak efektif bila kita rangkai menjadi kata SEPEDA MOTOR, yang artinya menjadi “penggerak sepeda”, sedangkan kata SEPEDA itu sendiri berasal dari kata SPEED (Inggris, cepat), maka jadinya adalah “penggerak kecepatan”.

Lalu kata BOTOL yang diambil dari “bottle”, bisa dirubah menjadi kata BULI-BULI, atau kata WC (water closed) diganti menjadi “jamban”, GELAS menjadi “cangkir” atau “cawan”. Atau kita ingin jujur, mengganti kata RADIO menjadi “kotak bersuara”, TELEVISI menjadi “kotak bergambar” ?

Sedangkan penggunaan istilah Bahasa Sanskerta kita kenal melalui : Pancasila, swadaya, swalayan, swasembada, satyalencana, adhyaksa, purnabakti, purnawirawan, wiracarita, dan lainnya. Namun yang banyak digunakan kiranya adalah akhiran “wan” dan “wati” yang dirangkai dengan kata lainnya sehingga membentuk kata baru, misalnya : SUKARELAWAN atau SUKARELAWATI, yang merujuk kepada orang atau pelakunya. Kemudian kata WARTAWAN atau WARTAWATI, dari kata “warta” atau berita yang ditambahkan akhiran “wan” atau “wati”. Istilah ini bisa saja menggunakan kata “berita” sehingga menjadi BERITAWAN atau BERITAWATI, namun akan lebih efektif bila kedua istilah tersebut menggunakan kata JURNALIS. Kalaupun kita tidak mau menggunakan kata Wartawan atau Wartawati, dapat juga menggantinya menjadi PEMBERITA atau PEWARTA.

Nah, untuk urusan berbahasa ini tampaknya setiap orang memiliki kecenderungan tak ingin diatur-atur. Pengguna bahasa apapun akan bertahan pada kosa kata yang dimilikinya dalam menyampaikan komunikasi kepada orang lain. Dan dengan berbahasa setiap orang ingin dikenal, atau setidaknya dapat diketahui dari kalangan mana ia berasal, serta dapat pula diketahui tingkat pendidikan, pengetahuan dan pergaulannya. Namun hal yang teramat penting dalam berbahasa adalah bagaimana agar yang ingin disampaikan dapat dimengerti oleh lawan bicara sehingga tak terjadi ketimpangan komunikasi atau miskomunikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.