Selain Udang, yang Lainnya Dibuang Ke Laut - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 17 Maret 2014

Selain Udang, yang Lainnya Dibuang Ke Laut

Ini pengalaman saya sendiri ketika sempat ikut melaut, tepatnya menjalani pekerjaan sebagai nelayan. Karena belum mendapat pekerjaan sehabis berhenti dari sebuah perusahaan pertambangan, seorang teman mengajak saya untuk melaut, berkerja sebagai awak kapal pencari dan penangkap udang, karena harga udang yang cukup mahal.

Sebelumnya saya belum punya pengalaman menjadi nelayan. Namun daripada menganggur, saya putuskan untuk mencoba dan ikut pekerjaan tersebut.
Proses untuk ikut melaut sebagai awak kapal pencari dan penangkap udang, tidak berbelit dan banyak persyaratan; bisa berenang, dan bersedia memenuhi aturan yang ditetapkan oleh pemilik kapal.


Jadilah saya berserta 3 orang lainnya pergi melaut dengan menggunakan sebuah kapal motor dari kayu bermesin 33 PK (Pardeen Kracht; Tenaga Kuda). Kapal yang berbobot sekitar 15 ton itu tampak masih baru, diperlengkapi dengan peralatan tangkap jenis lampara dasar, serta lampu sorot untuk operasional pada malam hari.
Kami akan berada di laut selama 7 hari. Maka persiapan pun berupa bahan makanan dan minum, BBM jenis solar sebanyak 5 drum (1 ton), air tawar sebanyak 5 drum, garam 1 kwintal, serta puluhan es balok untuk keperluan pengawet hasil tangkapan.


Sebetulnya antara alat tangkap jenis lampara dengan pukat harimau (trawl), tak jauh berbeda. Bentuk peralatannya sama berupa jaring panjang berbentuk panjang mengerucut ke bagian belakang dengan mulut di bagian depan menganga. Panjang lampara mencapai belasan meter. Untuk mengoperasikan lampara, di kanan kiri mulutnya diberi beban berupa papan persegi empat dengan pemberat agar jaring dapat tenggelam dengan posisi mulut menganga.
Lampara ini ditarik oleh 2 utas tali panjang puluhan meter di kanan kiri buritan kapal untuk selama waktu sekitar 3 jam atau lebih.
Perbedaan lampara dengan pukat harimau atau trawl, terletak pada papan pemberat. Makin berat bobot papan, maka jaring akan makin tenggelam hingga mendekati dasar laut. Sedangkan posisi lampara saat dioperasikan harus berada diatas dasar laut, ini agar biota yang berada di dasar laut tak ikut terjaring.


Mencari dan menangkap udang dengan menggunakan lampara sifatnya spekulasi atau untung-untungan. Selama beroperasi 3 jam atau lebih, belum tentu dapat menangkap udang. Namun jika nasib sedang mujur, akan menangkap udang dalam jumlah lumayan banyak. Kalaupun tidak berhasil menangkap udang, atau memperoleh sedikit udang, biasanya tangkapan berupa ikan, cumi, maupun kepiting ikut terjaring. Tapi karena yang diprioritaskan udang, tangkapan lainnya tersebut diambil seperlunya untuk keperluan makan, sisanya yang kebanyakan sudah mati dibuang ke laut.

Pertama kali mengetahui dan melihat banyaknya hasil tangkapan selain udang yang dibuang ke laut, saya kaget. Karena bukan 1 atau beberapa kapal saja yang melakukannya seperti itu, tapi terdapat puluhan bahkan ratusan kapal yang membuang hasil tangkapan bukan udang ke laut. Saya membayangkan banyaknya hasil laut yang dibuang percuma dalam 1 hari hari. Karena posisi kapal-kapal motor lampara itu berada puluhan mil dari daratan, tentu saja tak ada orang yang mengambil atau memungut buangan tersebut.
Ada pula terdapat awak kapal yang rajin mengolah hasil tangkapan selain udang itu untuk dijadikan ikan kering, namun lebih banyak yang memilih istirahat usai mengangkat naik lampara yang sangat menguras tenaga.


Bila ingat pengalaman tersebut, saya jadi membayangkan betapa sangat kaya isi lautan negeri ini. Bila penangkapan hasil laut dikelola dengan baik, para nelayan mestinya dapat hidup layak.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.