(Ternyata) Pelayanan Pertamina Itu Bobrok dan Curang? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 19 Maret 2014

(Ternyata) Pelayanan Pertamina Itu Bobrok dan Curang?

Urusan terkait bisnis BBM ternyata cukup rumit dan memusingkan kepala. Selain itu urusannya juga licin seperti BBM jenis solar, mesti pakai trik-trik tertentu agar tiap urusan dengan pejabat di Pertamina bisa lancar.

Seorang kenalan saya, pengelola sebuah SPBU di daerah saya tinggal, di Tanah Bumbu, mengungkapkan betapa bikin pusing jika berurusan dengan pihak Pertamina khususnya yang berada di daerah.

“Kelihatannya saja bisnis BBM ini enak dan menghasilkan uang banyak, padahal setiap bulannya mesti menombok untuk menutupi kerugian dari tindakan curang oknum Pertamina,” ungkap kenalan saya itu dengan kesal.

Ia pun menceritakan beberapa kebobrokan pelayanan Pertamina oleh para oknum petugas dan pejabatnya di daerah.
Menurutnya alih-alih ingin minta tambahan pasokan BBM dari Pertamina setiap bulannya, malahan justru tak jarang malahan dikurangi dengan alasan ada pengurangan quota oleh Pemerintah melalui Pertamina di Pusat.



Namun yang mengherankannya adalah, sementara pasokan ke SPBU yang ia kelola dikurangi, terdapat SPBU lainnya yang malahan pasokannya ditambah.

Tindakan Pertamina seperti itu tentu saja mengundang pertanyaan. “Sampai-sampai saya tanya ke seorang pejabat Pertamina di daerah; bagaimana sih caranya melobi pihak Pertamina agar pasokan ditambah dan tidak dikurangi,” ujar pengelola SPBU itu.

Selain itu ia mengaku adanya ketidak wajaran terkait muatan atau isi BBM yang dipasok Pertamina ke SPBU yang dikelolanya. “Setiap bulan total rata-rata kekurangan akibat permainan takaran isi oleh kecurangan oknum petugas, bisa mencapai 5 ribu liter,” bebernya pula.

Ia mengaku pernah menyaksikan langsung pengisian BBM oleh petugas di depot Pertamina ke mobil tangki pengangkut. Padahal ia telah dilarang oleh para petugas dengan berbagai alasan tak logis, namun ia tetap ngotot, sehingga diperbolehkan.

Menurut yang ia saksikan, pengisian BBM di depot Pertamina ke mobil tangki pengangkut dilakukan dengan peralatan berupa fuelmeter. Namun setelah diisi dengan alat tersebut, petugas kembali mengambil isi mobil tangki pengangkut. Saat ditanya kenapa isi BBM yang telah diukur dengan fuelmeter tersebut kembali diambil sebagian, dijawab oleh petugas karena tak sesuai tera.
“Kalau kondisinya seperti itu, lebih baik pengisian ke mobil tangki pengangkut tak perlu menggunakan peralatan fuelmeter, tapi ditakar saja secara manual menggunakan alat literan,” keluhnya karena merasa dikurangi.
Pantas saja dalam sebulan kekurangan isi pasokan ke SPBU bisa begitu besar jika dilakukan pengambilan dari mobil pengangkut setiap kali selesai mengisi dengan fuelmeter.


Dengan kekurangan pada isi pasokan yang jumlahnya cukup besar itu, pengelola SPBU kenalan saya itu pun mengaku mesti mencarikan solusinya bagaimana menutupi kerugiannya. Hal ini belum termasuk berbagai pernak pernik pengeluaran untuk urusan lobi-lobi ke oknum pejabat di Pertamina jika ingin tetap dilayani dengan baik.

Di negeri ini sudah bukan rahasia lagi pihak yang bertugas wajib melayani, malah sebaliknya dilayani, jika tak ikut aturan, maka tak heran akan dipersulit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.