Surau yang Merana Tanpa Tempat Buang Air - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 19 Maret 2014

Surau yang Merana Tanpa Tempat Buang Air

Sebuah surau yang ukurannya tak terlalu besar itu, saya perkirakan cuma dapat menampung 30-an anggota jamaah shalat, sudah berdiri lebih dari 2 dekade.

Tak ada yang aneh ataupun menarik dari segi bentuk bangunan surau tersebut kecuali tempat ibadah umat Islam itu sejak pertama kali didirikan tak dilengkapi dengan tempat buang air, kerennya WC (jamban).

Saya cukup lama mengetahui kondisi surau tersebut, karena hampir setiap hari saya berada di sekitarnya, duduk dan nongkrong di sebuah warung yang tak jauh dari surau itu. Padahal surau tersebut terletak di lokasi sebuah pasar induk kabupaten dimana puluhan toko dan pedagang yang beraktivitas setiap hari.


Karena surau tak dilengkapi oleh tempat buang air, sehingga para pedagang yang “kebelet” ingin buang hajat, mesti merogoh kocek sebesar Rp 1.000 untuk BAK (Buang Air Kecil), dan Rp 2.000 untuk BAB (Buang Air Besar) masuk ke WC atau toilet yang dibangun seorang warga di sekitar situ. Selain itu, para pedagang pun menjadi enggan untuk melaksanakan shalat di surau itu, kebanyakan memilih pulang ke rumah maupun pergi ke surau atau mesjid yang fasilitasnya lengkap untuk sekedar shalat. Mereka yang melaksanakan shalat di surau itupun sangat sedikit, dapat dihitung dengan jari, dan tak jarang cuma penjaga surau (modin) saja yang shalat disitu.

Beberapa minggu lalu menurut si Modin yang kebetulan sama-sama minum di warung langgananku; pihak pengelola surau ditawari pihak Pemkab setempat melalui Dinas Pekerjaan Umum (DPU) untuk dibangunkan tempat buang air. Namun masih menurut Modin itu, tempat buang air itu nantinya akan dijaga dan dikelola oleh sesorang yang ditunjuk, memungut bayaran terhadap siapa yang memerlukan. Keruan saja tawaran itupun langsung ditolak. “Aneh, dimana-mana yang namanya fasilitas yang terdapat di tempat ibadah itu gratis, tak ada pungutan, bila yang bersangkutan memberikan sesuatu untuk ikut membantu perawatan dan kebersihan fasilitas, tentu akan diterima sebagai bentuk bantuan maupun sedekah,” ungkap Modin.

Ada-ada saja memang di jaman ini, hal-hal kecil seperti urusan buang air saja ingin dibisniskan, memikirkan hasil keuntungan. Padahal itu untuk keperluan orang banyak yang terkait dengan tempat ibadah pula. Makanya tak heran jika urusan mencetak al qur’an pun ada saja yang nekat mengkorupnya.

Beberapa hari lalu kembali saya ketemu si Modin, ia cerita pihak pengelola surau telah menghimpun dana dari para warga dan dermawan untuk membangun tempat buang air. “Pelan-pelan saja, biar pembangunannya lambat yang penting fasilitas itu gratis digunakan oleh siapa saja,” ujar Modin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.