Jari Tak Cukup Lidi Pun Jadi - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

Jari Tak Cukup Lidi Pun Jadi


Membandingkan suasana dan kondisi sekolah kini dengan apa yang kami alami ketika duduk di bangku SD di tahun 1970-an. Bersekolah di pelosok daerah yang jauh dari pusat kota dengan sangat minimnya berbagai fasiltas. Bangunan sekolah terbuat dari papan kasar bercampur kulit kayu, atap daun nipah, lantai tanah liat, meja berupa papan yang diberi tiang penyangga ditanam kedalam tanah sama dengan bangkunya.

Buku-buku bacaan kala itu merupakan barang yang sangat mahal sekaligus langka. Murid-murid SD mesti rajin-rajin mencatat mata pelajaran yang disampaikan oleh guru jika tidak ingin tertinggal. Hapalan pun menjadi jalan yang mesti dilakukan murid untuk menguasai mata pelajaran. Singkatnya kreativitas murid dituntut untuk menyiasati minimnya fasilitas belajar mengajar.

Tak terbayangkan olehku mesti bersekolah di pelosok kecamatan yang jauh dari pusat pemerintahan kabupaten. Dibutuhkan waktu hampir 20 jam menumpang perahu motor menempuh selat Makassar untuk mencapai ibukota Kabupaten Kotabaru dari kecamatan (istilah saya desa besar) dimana ayahku bertugas sebagai seorang PNS kala itu.

Tak ada seragam sekolah seperti murid-murid sekolah kini. Murid-murid SD kami hanya berpakaian seadanya; pakaian ke sekolah sekaligus pakaian sehari-hari terkecuali murid yang orangtuanya tergolong mampu. Begitupun murid yang bersepatu cuma beberapa orang, kebanyakan pakai sandal, tak sedikit yang tanpa alas kaki. Klop dan kontras dengan kondisi sekolah yang serba minim fasilitas berikut guru-gurunya yang mengajar masing-masing untuk dua kelas.

Tak serumit kini, murid-murid kala itu cuma mempelajari beberapa mata pelajaran; menulis, membaca, dan berhitung (bukan matematika). Mata pelajaran agama tidak diajarkan. Bagi orangtua yang menginginkan anaknya belajar agama, dapat mengirimnya ke sekolah semacam madrasah yang membuka waktu belajarnya usai pelajaran di SD. Seperti yang kualami, pagi turun bersekolah ke SD, pulang dari SD seusai makan siang kembali turun bersekolah ke madrasah hingga sore menjelang waktu shalat maghrib. Bagiku tak ada hari tanpa sekolah; hari minggu SD libur tapi tetap turun ke madrasah, hari jumat madrasah libur namun tetap bersekolah di SD, jadi hanya hari jumat dan minggu yang bersekolah satu kali.

Tak berhenti sampai disitu untuk urusan belajar. Malam hari usai makan malam, tiba giliran mengaji di rumah seorang guru yang diikuti beberapa teman satu sekolah baik di SD maupun madrasah. Waktu bermain yang tersedia cuma pagi minggu sebelum pergi sekolah ke madrasah, atau jumat sepulang dari bersekolah di SD. Kondisi seperti kualami hingga kelas tiga SD sebelum pindah sekolah ke pusat kabupaten.

Seingatku mata pelajaran yang agak sulit adalah berhitung yang mengajarkan menambah, mengurang, membagi dan mengalikan. Kesulitan akan muncul ketika kedua jari tangan dan jari kaki tak cukup untuk digunakan untuk media berhitung. Karena tiap murid hanya mengandalkan seluruh jari yang dimiliki untuk berhitung. Nah, disinilah kreativitas murid dan orangtuanya dipicu untuk membantu menyiasati guna memudahkan berhitung.

Untuk memudahkan menerima pelajaran berhitung, oleh mendiang ibu aku disuruh mencari daun kelapa untuk diambi lidinya, lalu dipotong-potong sama sepanjang sekira lima sentimeter. Potongan lidi sebanyak seratus potongan dijadikan satu diikat dengan karet gelang, inilah yang kubawa setiap pergi ke sekolah. Potongan-potongan lidi inilah yang berfungsi sebagai kalkulator saat menerima pelajaran berhitung. Langkahku inipun ditiru oleh hampir semua teman-teman. Untungnya guru memperbolehkan menggunakan lidi-lifi tersebut untuk membantu menyelesaikan soal-soal berhitung.
Oh ya, menurut guru kami kala itu; berhitung itu mengutamakan hasil. “Terserah hasilnya mau diambil dari mana,” ujar guru kami.


Mata pelajaran matematika baru kuterima ketika kelas lima SD di sekolahku yang baru di kota kabupaten. Perbedaan antara berhitung dan matematika terletak pada cara memperoleh hasil. Jika misalkan soal; 3×3=9, maka caranya adalah 3+3+3=9, inilah matematika. Begitupun dengan soal matematika lainnya yg mengutamakan cara sebelum memperoleh hasil.

Tambahan lainnya selain mata pelajaran utama yang kami terima antara lain; menulis indah, dikte atau imla, juga kesenian yang terbatas pada menghapal dan menyanyikan lagu-lagu wajib nasional.

Tulisan ini lebih kepada pengalaman pribadi ketika bersekolah dulu. Maksud lainnya adalah membandingkan banyaknya mata pelajaran yang kini diterima dan dipelajari murid di sekolah daripada dulu, sehingga beban anak-anak murid kini menjadi sangat berat dengan kepala yang tak lebih besar daripada batok kepala.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.