Untuk Sukses, Pendidikan Saja Belum Cukup - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

Untuk Sukses, Pendidikan Saja Belum Cukup

“Buat apa berlama-lama dan sekolah tinggi-tinggi ?”

Kalimat tersebut masih saja terdengar meski sudah jarang.
“Yang penting sudah bisa membaca, menulis, berhitung; menambah, mengurang, mengalikan, dan membagi.”


Pemikiran yang sangat sederhana jika tidak ingin dikatakan pasrah; pasrah dalam kondisi ketidak berdayaan secara ekonomi. Pemikiran seperti ini kebanyakan menghinggapi kelas sosial kalangan bawah, meski kalangan menengah juga ada, entah kalangan atas yang sangat mementingkan prestise.

Persaingan untuk merubah status, perbaikan secara ekonomi, ingin berada diatas, membuat setiap orang mengerahkan berbagai potensi yang dimilikinya; pikiran, kepandaian, ilmu, mental, serta kerja keras pantang menyerah dan tidak mudah puas.
Dengan ilmu dan kepandaian yang diperoleh dari sekolah bergengsi belum bisa menjamin seseorang bisa sukses secara ekonomi tanpa kerja keras dan sikap pantang menyerah.


Beberapa orang sukses di daerah saya bukanlah mereka yang berpendidikan tinggi apalagi pernah belajar di sekolah-sekolah terkenal baik di Indonesia apalagi di mancanegara. Mereka hanyalah bersekolah di sekolah setempat yang segala fasilitasnya serba minim. Bahkan terdapat diantaranya yang cuma sempat duduk di bangku SD; yaitu tadi, yang penting sudah bisa membaca, menulis dan berhitung.

Seorang teman saya hanyalah lulusan SD dan drop out dari sebuah SMP di kampung. Tapi teman saya ini berkat kegigihannya bisa menduduki jabatan sebagai seorang Supervisor Quality Control di sebuah perusahaan kontraktor asing di bidang pertambangan batubara. Dengan posisi yang dipegangnya teman saya ini membawahi puluhan anak buah yang pendidikannya semua melebihi teman saya ini, beberapa diantara bawahannya adalah sarjana lulusan dari universitas terkenal di Indonesia. Dan teman saya ini tentu saja bukanlah seorang “tukang insinyur”.

Beberapa pengusaha sukses di daerah saya, bukanlah orang berpendidikan tinggi. Mereka cuma berpendidikan dasar; SD, SLTP dan SLTA, sekolah mereka pun di kampung yang minim fasilitas.
Seorang pengusaha sukses yang menguasai bidang pertambangan di daerah saya, juga bergerak dalam bidang kelautan, perkebunan, konstruksi, hotel dan penerbangan lokal, hanyalah seorang yang tidak lulus SMA. Pengusaha ini sangat terkenal dan disegani di wilayah Kalsel bahkan di luar daerah. Konon ia bisa memindahkan pejabat yang tak disukainya. Tentu saja pengusaha ini tidak pernah belajar di sekolah-sekolah terkenal di negeri ini apalagi kuliah di Harvard University, Cambridge maupun Oxford University.


Seorang anggota DPRD di daerah saya, dia ini dulunya sempat santer diberitakan di berbagai media lokal sebagai orang yang tidak lulus SD. Semua ijazah anggota DPRD Kabupaten ini diduga palsu. Banyak orang dekat dan kenalan anggota DPRD ini mengungkapkan perihal sekolah dan ijazah palsu si anggota legislatif. Namun hebatnya Sang Legislator bisa terpilih sampai dua periode, dan kini kembali maju sebagai Caleg untuk periode berikutnya. Dan hebatnya lagi Sang Legislator selama dua periode menduduki jabatan sebagai Wakil Ketua DPRD.

Tulisan ini saya maksudkan bukan untuk melemahkan dan menganggap pendidikan tidak atau kurang penting dikarenakan saya pribadi juga berpendidikan rendah. Maksud dari tulisan saya ini memotivasi siapa saja yang ingin meraih sukses dengan upaya dan kerja keras tak cuma mengandalkan pendidikan tinggi dengan sederet gelar dan titel dari sekolah ataupun perguruan tinggi terkenal.
Bagi saya menjalani kehidupan ini tidak bisa menggunakan rumus ilmu pasti seperti memecahkan soal matematika; 2+2=4 atau 2×2=4, tapi mesti menggunakan hitung-hitungan dagang; 2+2=5,6,7 dan seterusnya atau 2×2=5,6,7 dan seterusnya. Bila menggunakan rumus ilmu pasti atau matematika, tak akan memperoleh keuntungan yang berarti tak akan pula mendapat kemajuan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.