Kota Sekumpulan Para Babi - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

Kota Sekumpulan Para Babi


City of pigs.
Jika diartikan secara harfiah; maka maknanya adalah kota para babi. Sungguh mengenaskan, istilah ini sanggup membalikkan istilah lama “Paris Van Java” yang disandang oleh Kota Bandung selama ini.


Adalah seorang Blogger asal Bulgaria bernama Inna Savova yang selama beberapa tahun terakhir ini menetap di Bandung. Blogger inilah yang memunculkan istilah atau sebutan baru bagi Bandung.

Jika kita merenungkan kalimat “City of pigs” ini, terdapat sarkasme didalamnya, ungkapan kejengkelan yang boleh jadi teramat dalam. Entah kenapa Inna Savova tak menggunakan kalimat “city of trashes” saja misalnya untuk menggambarkan kondisi kota yang bertebaran sampah dimana-mana, hanya ia yang tahu. Yang jelas, meski saya bukan warga Bandung, saya sangat tersinggung jika digambarkan sebagai babi-babi yang berada di kota.

Bandung adalah bagian dari Indonesia, bagian dari kita semua. Bandung tentu tak berbeda jauh kondisinya dengan kota-kota lainnya di negeri ini. Bahkan dibanding kota lainnya, sebutan sebagai Paris Van Java untuk Bandung merupakan nilai tambah tersendiri. Bukanlah sembarangan julukan yang mengacu kepada ibukota Prancis itu jika Bandung itu tidak indah. Namun dalam beberapa waktu terakhir ini predikat Bandung yang baru itu, menyentak kita semua, membuka dan memunculkan kesadaran kita semua. Bandung yang selama ini dikenal cukup fenomenal, ternyata tak lebih dari satu kota yang dihuni oleh sekumpulan babi dalam jumlah besar, tragis.

Permasalahan sampah ini bukan urusan sepele. Yang jelas dampak dari sampah selain merusak keindahan kota, mengganggu kesehatan, juga dapat mengakibatkan banjir jika dibuang ke sungai.
Jika sampai kota sekelas Bandung saja bisa mendapat julukan “kota para babi”, bagaimana dengan kota-kota lainnya yang tersebar di seantero negeri ini ?
Lalu bagaimana dengan penilaian terhadap kota terbersih selama ini yang ganjarannya memperoleh penghargaan Adipura ? Apakah kota-kota hanya akan tampak dan menjadi bersih menjelang penilaian saja ?
Itulah pertanyaan yang kiranya patut menggugah kesadaran kita semua. Inna Savova tak elok kita persalahkan, ia sudah menggugah kesadaran kita semua selaku anak negeri ini. Berterima kasihlah kepada Inna Savova. Jika tak juga menggugah kita, boleh jadi akan ada Inna Savova lainnya yang tidak lagi memberikan julukan seperti itu tapi; State of pigs, ataupun Land of pigs, tak seronok.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.