SMS dari Penjara - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

SMS dari Penjara


Pagi ini saat menghidupi ponsel, ada pesan masuk di inbox. Sederet pesan dari seorang kenalan yang kutahu saat ini sedang meringkuk di Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) Kelas IIIC di Kotabaru. Kenalan ini sejak masih dalam Rutan Polres Tanah Bumbu, sering mengirim pesan minta pulsa, dan setiap kali pula aku kirimi; paling tidak kukirim pulsa senilai Rp 20 ribu. Aku sangat paham betapa sangat membosankannya tiap saat berada di balik tembok tahanan.

Untuk diketahui, Tanah Bumbu sebagai kabupaten pemekaran sejak 2003 lalu, hingga kini belum memiliki Lapas. Para tahanan pelaku kriminal dikirim ke Lapas Kotabaru, bekas kabupaten induk.

Bisa kirim pesan dari ponsel di tahanan ?
Tak perlu heran, semua kita sudah tahu bagaimana kondisi Lapas di negeri ini. Jangankan cuma ponsel yang bisa masuk dan dipegang oleh para tahanan, tipi, VCD/DVD player, kasur tebal, bahkan salon pun bisa masuk ke ruang tahanan. Yang penting mau dan berani bayar alias “wani piro”.


Pesan dari kenalanku itu tak cuma berhenti pada minta pulsa. Setelah kukirimi pulsa senilai Rp 25 ribu, kembali pesan baru masuk; ucapan terima kasih. Selanjutnya masuk lagi pesan yang menceritakan kondisi didalam Lapas Kotabaru. Menurut kenalanku itu, para Napi lama sering melakukan pemukulan terhadap para tahanan yang baru masuk. Bahkan para Napi nakal itu tak jarang menggunakan senjata tajam berupa pisau. Para Petugas di Lapas Kotabaru menurut kenalanku itu, tak bisa mengatasi masalah tersebut.

Dari mana mereka mendapatkan senjata tajam ? Menurut kenalanku itu, para Napi nakal membuat pisau dari potongan-potongan besi yang terdapat di bengkel pelatihan untuk para Napi yang terdapat di Lapas. Para Petugas sangat jarang melakukan razia terhadap barang-barang milik para Napi termasuk kepemilikan senjata tajam.

Membaca pesan dari kenalanku yang lebih kepada curhat ini, aku membayangkan betapa bertambah tidak nyamannya kondisi para Napi disana. Pembinaan terhadap para Napi agar mereka menjadi lebih baik sekembalinya ke tengah masyarakat agaknya tak berhasil sesuai harapan semua pihak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.