Beringin Tak Mau Tunduk ke Banteng - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 30 Juli 2014

Beringin Tak Mau Tunduk ke Banteng

Sore itu Amat Himpal sedang menikmati segelas kopi hitam kesukaannya di kedai minum milik Bu Ardi. Angin bertiup sepoi-sepoi, segar, apalagi sebelum ke kedai Amat Himpal sudah mandi. Kedai Bu Ardi jadi tempat mangkal favorit Amat Himpal bersama teman-temannya. Selain tempatnya cukup lega, bersih, juga Bu Ardi orangnya baik; mau terima bon dulu untuk keperluan minum, makan serta rokok untuk Amat Himpal dan teman lainnya.

Seperti sudah berjanji, tak lama Amat Himpal nongkrong di kedai, Utuh Kangkung pun datang menyusul. Mereka berdua ini sudah layaknya seperti alat berat Grader dengan Steamwall (compactor) yang tak terpisahkan saat bikin jalan.
“Sudah mandi kelihatannya nih, rapi begitu,” tegur Utuh Kangkung ke Amat Himpal yang sedang asyik mengisap rokoknya.
“Ya iyalah. Paling-paling kamu saja yang belum mandi,” ledek Amat Himpal sembari terkekeh.
“Sembarangan kamu. Jaga mulutmu yang penuh asap itu,” balas Utuh Kangkung lalu duduk bersampingan dengan Amat Himpal.
“Ada kabar apa nih selain kabar tentang pencarian kangkung yang tak kunjung padam ?” tanya Amat Himpal sambil senyum-senyum.
“Kali ini bukan kabar tentang kangkung makanan kesukaanmu itu,” sahut Utuh balas terkekeh.
“Sialan ! Kau kira aku sejenis marmut,” sahut Amat kesal.
Pembicaraan keduanya terhenti karena Utuh Kangkung memesan segelas kopi hitam pula ke Bu Ardi. Dan sudah kebiasaan Utuh Kangkung yang suka sekali dengan rokok cap min alias minta, rokok Amat lah yang jadi targetnya.
“Kali ini aku bawa kabar serius, tentang Pemilu 2014 di kampung kita ini,” Utuh menyambung bicara dengan wajah benar-benar serius.
“Hebatnya apa kabarmu tentang Pemilu yang tiap saat sudah banyak diberitakan di berbagai media massa ?” tanya Amat meremehkan.
“Jangan salah bro, kabarku ini sangat berbeda dari berita di media itu,” sahut Utuh meyakinkan.
“Oke kalau begitu, lanjutkan. Aku kali ini jadi pendengarmu yang terbaik di dunia,” ujar Amat yang kemudian kembali menyalakan sebatang rokok dan menghirup kopi hitamnya.
Nah, begini kabar yang dibawa Utuh Kangkung, silakan para pemirsa sekalian menyimak.
Seorang Caleg untuk DPRD Kabupaten, sebut saja namanya H. Rudi, telah mengeluarkan dana tak kurang Rp 2 milyar untuk bisa terpilih. Dengan dana sebesar itu tadinya ia berharap dapat meraup suara pemilih setidaknya 4 ribuan. Disamping untuk memuluskannya duduk di kursi DPRD, juga untuk membantu raihan suara Parpol-nya, Banteng gemuk moncong putih. Tapi apa lacur, H. Rudi cuma mampu meraup suara sekitar 2.300. Untunglah dengan suara yang diperolehnya tersebut ia dipastikan duduk di kursi DPRD.
“Tapi raihan suara segitu tak sesuai dengan semua biaya yang kukeluarkan,” sungut H. Rudi.
“Wah, banyak sekali yang yang ia keluarkan,” ujar Amat.
“Yah begitulah, risiko jika bermain politik uang,” sahut Utuh.
“Terus bagaimana kelanjutannya ?” tanya Amat penasaran.
Utuh Kangkung meneruskan kabarnya.
H. Rudi yang merupakan petahana anggota DPRD itu merasa sudah ditipu oleh para orang yang menjadi tim suksesnya. Untuk meraup suara pemilih, H. Rudi membekali tiap anggota tim suksesnya rata-rata Rp 50 juta untuk melakukan serangan malam, serangan fajar, dan serangan pagi.
“Dasar pengkhianat !” H. Rudi mengumpat geram setelah mengetahui perolehan suaranya.
“Masih untung dia dapat kembali duduk. Dan tim suksesnya pun benar-benar sukses, ya sukses menipu H. Rudi,” Amat Himpal tergelak.
“Itu risiko. Masih mau mendengar kabar lainnya tidak ?” tanya Utuh Himpal sembari meneguk kopinya dan kembali minta rokok Amat Himpal.
“Mau, mau, mau,” sahut Amat dengan mimik lucu menirukan tokoh Upin.
Kali ini Utuh Kangkung melanjutkan tentang seorang Caleg petahana pula. Caleg itu, sebut saja namanya Rahman. Untuk bisa kembali duduk di DPRD Kabupaten, ia melego sebuah rumahnya yang masih belum rampung. Rumah tersebut ia jual laku sebesar Rp 400 juta untuk modal politik. Itu pun masih kurang. Rahman masih merogoh dari simpanannya tak kurang Rp 100 juta. Ia benar-benar berjudi (gambling), untunglah perolehan suaranya cukup untuk mengantarnya kembali ke tempat duduknya semula.
“Hebat, nekat, dan untung. Padahal beberapa petahana yang lain bukannya lulus tapi lolos,” ujar Amat Himpal tertawa kecut.
“Nah, kabar yang satu ini cukup unik,” ujar Utuh Kangkung sengaja membuat Amat Himpal penasaran.
“Tak usah bikin penasaran, cepat lanjutkan bila ingin kopimu aku yang bayar,” kata Amat Himpal berlagak mengancam.
Caleg ini sudah dua Pemilu gagal tembus. Kali ini ia yang bernaung di bawah Parpol berlambang pohon beringin ini, berhasil tembus. Namun anehnya, setelah mengetahui hasil perolehan suara Parpol-nya keseluruhan tingkat kabupaten, yang mana Parpol-nya cuma berhasil meraih 3 kursi, Caleg yang sebut saja namanya Marwan ini, jadi patah arang. Dia bermaksud menyerahkan kursi perolehannya kepada rekannya yang perolehan suaranya berada di bawahnya.
“Kok dia bisa patah arang seperti itu. Mungkin karena dia tak bisa bangun pagi. Setahuku si Marwan itu kan semacam Batman, manusia kalong yang berkerja malam hari tidur menjelang pagi,” ujar Amat Himpal heran.
“Memangnya kamu kenal sama dia ?” tanya Utuh Kangkung juga tampak heran.
“Tentu saja aku kenal dia. Sebagian besar orang di kampung ini kenal dia kok. Dia itu terkenal berangasan dan kasar terhadap orang,” ungkap Amat Himpal.
“Tapi bukan karena itu ia patah arang. Menurut sumber yang bisa dipercaya, si Marwan itu tidak mau dipimpin oleh orang-orang dari Parpol Banteng yang meraih 10 kursi dari 35 yang disediakan,” Utuh Kangkung bergaya seperti seorang presenter pembaca berita.
Amat Himpal : ?!#*%^¥£€

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.