Guru SD Kami Mencintai Muridnya - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 30 Juli 2014

Guru SD Kami Mencintai Muridnya


Selalu pulang telat

Sudah hampir setengah jam aku duduk di kursi panjang di luar ruang kelas 5 SD dimana aku sekolah. Teman-temanku sudah pulang, begitupun murid kelas lainnya. 

Sekolah sudah sepi, hanya menyisakan aku yang sedang bengong dan menahan lapar. Sebetulnya bukan aku saja yang masih berada di sekolah. Masih ada seorang teman sekelasku yang tempat tinggalnya berdekatan denganku, juga guru kelas kami yang belum pulang.

“Kamu jangan pulang dulu, tunggu Hairiyah. Tunggu saja di luar,” ujar guru kelas kami, pak Nuryanto mewanti aku.

Ini sudah yang kesekian kalinya aku menunggu temanku Hairiyah yang akhir-akhir ini selalu pulang sekolah belakangan dari seluruh murid di sekolah kami.

Awalnya aku tak mengerti kenapa temanku yang berparas cukup cantik itu selalu dikurung dalam ruang kelas, lebih tepatnya disekap oleh guru kelas kami seusai pulang sekolah.

“Pak Nuryanto itu menyatakan cintanya kepadaku,” ungkap Hairiyah yang lebih tua hampir 3 tahun dariku, dan badannya lebih besar daripada seluruh murid perempuan di kelas 5 SD kami.

Aku tak mengerti yang diungkapkan Hairiyah kepadaku. Yang jadi pertanyaanku kepadanya kenapa mesti aku yang terkena dampaknya.

“Guru kita itu kan tidak ada istrinya, dia mau sama aku. Dia ingin aku menjadi istrinya jika kelak aku sudah lulus,” Hairiyah menerangkan ketidak mengertianku.

“Oh begitu ya. Terus kamu mau dijadikan istri oleh pak Nuryanto ?” tanyaku.

“Nah, itulah yang sedang terus aku pikirkan. Pak Nuryanto selalu meminta jawaban dan kepastianku, sehingga makanya aku selalu dikurung setelah pulang sekolah,” ungkap Hairiyah.

“Tapi kenapa justru aku pun disuruh menunggu kamu ?” tanyaku agak jengkel.

Menurut Hairiyah, aku dilarang pulang bersama teman-teman, dimaksudkan oleh pak Nuryanto agar aku pulang bersama Hairiyah. Itu dikarenakan selain aku dan Hairiyah sangat akrab, juga tempat tinggal kami yang berdekatan. Jadi jika kami pulang bersama tak ada pertanyaan dari keluarga Hairiyah.

Hairiyah memang menonjol diantara seluruh murid di kelas kami. Disamping wajahnya yang cukup cantik, badannya lebih besar dari hampir seluruh murid kelas 5, juga penampilannya yang seperti gadis remaja.

Menurut kakak perempuannya, Hairiyah telat masuk sekolah dikarenakan ayahnya meninggal, sedangkan ibunya tak sanggup membiayainya sekolah. Hairiyah kemudian dipelihara oleh kakak perempuannya yang sudah berkeluarga. “Setidaknya Hairiyah bisa lulus SD; bisa baca tulis dan berhitung sudah cukup,” ujar kakaknya.

Cinta Sang Guru

Perihal pulang sekolahnya aku dan Hairiyah belakangan daripada seluruh murid ini rupanya diketahui oleh beberapa teman kami. Bisik-bisik beberapa teman pun berkembang, sehingga banyak yang tahu. Dikarenakan para murid di masa itu masih sangat menyegani dan menghormati para guru, bisik-bisik hanya diantara para murid.

Benar pepatah para orangtua dulu, sesuatu yang disembunyikan lama-lama pasti akan ketahuan. Bisik-bisik tersebut sampai juga ke telinga kakak Hairiyah.

“Bisik-bisik mengenai kamu dengan pak Nuryanto itu benar ?” Hairiyah ditanya kakaknya di depan iparnya, Bang Hasyim suami kakaknya.

Hairiyah cuma mengangguk. Namun kakak perempuannya itu tidak puas hanya dengan anggukan adiknya. Karena dipaksa oleh kakaknya, Hairiyah pun menceritakan semua yang dialaminya selama ini.

“Kamu sempat diapakan saja oleh pak Nuryanto ?” tanya Mbak Salamah, kakak Hairiyah.

“Aku diapa-apakan, cuma terus didesak untuk menerima cintanya pak Nuryanto. Dia ingin kepastian,” jawab Hairiyah.

“Kamu mau sama pak Nuryanto ?” tanya Bang Hasyim.

Mendapat pertanyaan dari Bang Hasyim, Hairiyah diam dan menunduk. Cukup lama menanti jawaban dari Hairiyah, namun tak juga keluar.

“Mesti kamu pikirkan dengan serius keinginan pak Nuryanto itu. Dengan dia kamu sudah pasti punya masa depan. Lagi pula aku tak bisa terus membiayaimu sekolah, keponakanmu juga butuh biaya sekolahnya,” kata Mbak Salamah ke Hairiyah ketika kami akan berangkat ke sekolah.

Aku sudah berumur lebih 10 tahun, sedangkan Hairiyah berumur jalan 14 tahun. Badannya yang bongsor membuat Hairiyah sudah tampak seperti orang dewasa, apalagi payudaranya terlihat cukup besar.

“Tak ada salahnya keinginan pak Nuryanto aku terima saja. Aku kasihan padanya. Ia benar-benar serius,” ungkap Hairiyah saat kami sedang makan kue di warung belakang sekolah.

“Maksudmu kamu mau jadi istrinya pak Nuryanto ?” tanyaku.

Hairiyah menatapku tajam, lalu mengangguk.

Pak Nuryanto, sudah mengajar lama di sekolah kami. Ketika pertama kali aku masuk sekolah duduk di kelas 1, pak Nuryanto sudah berada di sekolah kami.
Menurut yang kutahu, pak Nuryanto yang berperawakan cukup tinggi, atletis dan berkulit sawo matang itu berasal dari sebuah daerah di Jawa Tengah. Jika diamati secara seksama, pak Nuryanto itu lumayan tampan juga.

Tak menamatkan sekolah

“Jika memang kamu sudah memutuskan menerima pak Nuryanto, suruh dia datang ke rumah ini,” ujar Mbak Salamah yang diiyakan oleh Bang Hasyim.

“Iya Mbak,” sahut Hairiyah dengan wajah yang bersemu merah sambil menunduk.

Perasaanku sedih nengetahui Hairiyah yang memutuskan menerima pak Nuryanto untuk menjadi suaminya. Kesedihanku bukan karena aku punya perasaan seperti seorang pria terhadap lawan jenisnya. Perasaan sedihku karena persahabatan kami selama ini bakal tak seperti dulu lagi; bebas bersama dan bercanda.

“Sepertinya kita tak bakal bisa lagi bersama ke sekolah,” cetus Hairiyah dengan wajah murung ketika jam istirahat. Ia sengaja memintaku agar tak keluar dari ruang kelas. Cuma kami berdua berada dalam ruangan, teman-teman kami semua keluar, begitupun dengan pak Nuryanto setelah sempat melirik sebentar ke arah Hairiyah.

“Kenapa ?” tanyaku sambil duduk di samping Hairiyah.

“Pak Nuryanto sudah tak sabar menunggu hingga aku lulus, dan Mbak Salamah setuju jika aku berhenti saja sekolah,” ungkap Hairiyah nyaris tanpa ekspresi.

Perasaan sedihku tiba-tiba menyeruak, perasaan akan kehilangan seorang sahabat yang selama ini sangat akrab tak dapat kusembunyikan. Yang dapat kulakukan hanya menghela nafas mendengar ungkapan hati Hairiyah.

“Akan secepatnya kah kamu menikah dengan pak Nuryanto ?” tanyaku tanpa memandang Hairiyah.

“Tidak, kukira masih beberapa bulan ke depan,” jawab Hairiyah datar.

Hari ini sepulang sekolah usai makan siang, aku duduk di pelataran rumah sambil membaca buku cerita dan menikmati semilirnya angin.
Tak berapa lama ayahku pulang dari kantor tempatnya berkerja dengan berjalan kaki. Ayah berkerja sebagai seorang PNS di kantor Camat yang tak seberapa jauh dari tempat tinggal kami.

“Mana ibumu ?” tanya ayah.

“Di dapur,” sahutku.

Beberapa saat kemudian kudengar ayah sedang berbicara dengan ibu. Mereka berbicara cukup keras sehingga suaranya terdengar hingga ke tempatku berada.

“Berarti kita mesti siap-siap dari sekarang,” terdengar suara ibu.

“Ya, barang-barang kita yang kurang terpakai sudah harus dikemas,” sahut ayah.

Karena merasa terganggu dengan percakapan ayah dan ibu, serta keingin tahuanku, aku pun menutup buku yang kubaca sambil menandai halaman yang sudah kubaca.

“Bulan depan kita akan pindah ke kota kabupaten. Ayahmu dipindah tugaskan kesana, karena kita sudah cukup lama disini,” ungkap ibu ketika aku menanyakan percakapan mereka kemarin. Disamping itu aku melihat ibu yang sudah mengemas beberapa barang.

“Terus sekolahku bagaimana, bu ?” tanyaku.

“Ayahmu akan segera menemui kepala sekolah mengurus kepindahanmu,” jawab ibu.

Aku sengaja tak ingin bercerita kepada Hairiyah perihal akan pindahnya keluarga kami. Kupikir nanti juga surat pindah sekolahku sudah didapat ayah. Namun karena tempat tinggal kami saling berdekatan, Hairiyah ternyata sudah tahu.

“Kamu tahu dari mana ?” tanyaku.

“Ibumu kemarin cerita ke Mbak Salamah,” sahut Hairiyah.

“Yah begitulah……,” ujarku menghela nafas.

Lebih dari seminggu kemudian kapal yang akan akan membawa kami berikut barang-barang kami sudah sandar di dermaga kecamatan.

“Besok menjelang siang kapal berangkat. Teman ayah di ibukota kabupaten sudah menyiapkan rumah dinas untuk kita, tadi pagi dia memberitahu melalui telex,” ungkap ayah.

Mendengar perkataan ayah, aku pun pergi ke rumah Hairiyah yang berjarak hanya sekitar 20 meter.

“Besok siang kami berangkat,” ujarku ke Hairiyah.

“Ya, aku sudah dengar dari ibumu,” sahutnya.

Aku kehabisan kata-kata yang akan kuucapkan ke Hairiyah. Lama kami dalam diam, terhenyak dengan perasaan masing-masing.

“Sayang kamu tak sempat menemui aku menikah,” cetus Hairiyah.

“Yah, semoga berbahagia, dan semoga kita bisa bertemu lagi,” ujarku.


Sejak itu tak kuketahui lagi kabar tentang Hairiyah dan pak Nuryanto. Pikirku mungkin mereka berdua sudah punya banyak anak. Hanya saja setiap kali kuteringat masa-masa masih di SD, kenanganku kembali teringat Hairiyah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.