Asal Bergamis dan Bersorban Dikira Tuan Guru - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 17 Maret 2019

Asal Bergamis dan Bersorban Dikira Tuan Guru

courtesy : katabaca
"Sudah tau belum teman kita si Muhdar sekarang penampilannya sudah berubah seperti penampilan seorang Ustad," ungkap seorang teman bernama Matnur saat kami suatu pagi sedang duduk di kedai bu Sarah sambil menikmati kopi.

"Belum tau tuh, memangnya siapa ?" ujarku balik tanya.

"Yah siapa lagi kalau bukan teman kita yang sok-sokan ingin dianggap seperti orang alim," jawab Matnur

"Biarkan sajalah maunya dia seperti apa, haknya dia, tapi haknya orang lain juga untuk tak percaya begitu saja dengan penampilan seseorang," kataku.

Rahim, teman kami yang sejak tadi cuma menyimak pembicaran kami pun akhirnya ikut bicara.

"Memangnya si Muhdar itu selama ini belajar dan berguru ilmu agama dimana, perasaan selama ini sama saja dengan kita-kita kesana kemari menenteng kamera," ujar Rahim.

"Katanya sih setahu yang aku pernah dengar dia itu berguru ke Mbah Jarwo yang biasanya dimintai tolong meramal nasib, juga didatangi orang yang minta air kesembuhan penyakit," balas Matnur.

"Oalah begitu toh kejadiannya," kataku pula sambil manggut-manggut seperti burung pelatuk.

Perbincangan kami pun jadi ramai membicarakan si Muhdar dengan kondisi kekiniannya, kesana kemari berbusana gamis dan bersorban pula, pokoknya kalau penampilan Ustad Abdul Somad ataupun Ustad Khalid Basalamah saja bisa lewat alias kalah jauh.

"Aku kemarin sempat ketemu Muhdar di acara yang banyak dihadiri oleh para pejabat. Wuidih gayanya sudah sama seperti Ustad kondang yang tenar di seantero jagat, duduknya pun di kursi yang disediakan untuk para pejabat," ungkap Matnur.

"Halah paling-paling kalo disuruh membaca surah alfatihah pun bisa-bisa ga tau pakai tajwid," ujar Rahim yang biasa jadi imam di surau di komplek perumahan tempat ia tinggal.

Begitulah memang kondisi masyarakat kita (baca Muslim) tak jarang mau saja percaya dengan cuma melihat penampilan seseorang yang berbusana ala Arabia, lalu dipercaya pula kalau yang berbusana begitu identik dengan orang alim; Ustad, Ulama, Tuan Guru, padahal tak diketahui jelas keilmuannya di bidang agama apakah sudah hapal banyak hadits, hapal dan fasih bacaan ayat alquran, mengerti ilmu tentang ushuluddin, fikih, ilmu kalam, paham pula tentang asbab annudzul serta asbab alwurudz. Ini berbeda jika dibandingkan dengan seorang pemuka di agama lain, misalkan seorang Pendeta yang wajib menempuh pendidikan secara berjenjang hingga mendapat gelar akademik.

"Kalau cuma pakai gamis dan sorban sudah dianggap seperti seorang Ustad, maka Abu Lahab dan Abu Jahal pun dulu semasa hidup mereka berserta para pengikut jahiliyahnya juga berpakaian seperti itu," ujar Matnur pula.

"Setahu aku sih ulama besar dan sohor tempo dulu seperti Buya Hamka tak pernah ada fotonya yang berpakaian gamis dan bersorban, beliau yang dianugerahi gelar Profesor oleh Universitas Al Azhar Mesir itu setiap fotonya hanya mengenakan kemeja biasa dan berkopiah hitam. Dan yang masih hidup saja, juga tak diragukan keilmuannya seperti Profesor Quraish Shihab yang konon menolak dipanggil Habaib pun tak bergamis dan bersorban, beliau sama seperti Buya Hamka memakai kopiah hitam di kepalanya," jelasku.

"Iya juga sih," ujar Matnur dan Rahim nyaris bersamaan mengiyakan. 

-----------------------------------------------------------------------------

*Nama dalam tulisan diatas, tempat dan karakter hanya kebetulan semata, dan ini hanyalah tulisan bersifat fiktif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.