100 Milyar Untuk Sembako Berlabel COVID-19 - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 21 April 2020

100 Milyar Untuk Sembako Berlabel COVID-19

Wow !

Saya kira anggaran untuk pencegahan penyebaran COVID-19 di Tanah Bumbu tadinya cuma Rp 10 milyar lebih saja, atau angkanya di bawah Rp 20 milyar seperti yang pernah saya dengar dari perkataan Ketua DPRD. Ternyata.....angkanya berada di Rp 100 milyar.

Mantap memang Tanah Bumbu. Hebat. Sesuai mottonya beberapa tahun terakhir 'Tanah Bumbu Hebat'.

Namun dengan angka yang nyaris separuh PAD Tanah Bumbu itu apakah memang sesuai dengan apa yang dilakukan oleh pengguna anggaran ? 
Saya pribadi hanya mereka-reka alias mengira saja duit sebanyak itu untuk pembelian APD yang konon cuma untuk sekali pakai atau single use seperti masker (ada yang bisa dicuci dan dipakai lagi), hand sanitizer (steril tangan yang penggunaannya berkali-kali), sarung tangan (kebanyakan dipakai petugas medis), rapid test, dan Sembako, lalu insentif para petugas di Posko baik dokter, perawat, paramedis maupun petugas lainnya, selain itu biaya operasional.

"Kesempatan. Kondisi darurat begini adalah suatu kesempatan untuk menggunakan anggaran sesukanya." 

Itu kata Bekas Pacar saya (bukan Mantan apalagi Eks). Karena ia hanya merasakan apa yang dia alami sendiri dan juga mengetahui kondisi teman, sahabat dan kenalannya yang kalau dikumpulkan paling-paling cuma satu RT jumlahnya.

"Pemerintah Daerah kan juga mendapat bantuan dari berbagai pihak, pribadi hingga lembaga yang nyaris setiap hari muncul berita bantuannya di media online."

Nah, yang ini kata banyak orang, yang bila dihitung dengan jari tangan pasti lebih dan harus mengikutkan jari kaki sehingga saya menyebutnya orang banyak.

Selain Pemerintah Daerah yang mengucurkan dana untuk COVID-19 ini, tak sedikit para donatur yang turut andil membantu, dari yang bagi-bagi masker, jas, hand sanitizer, hazmat hingga Sembako.

"Kok kita tak kebagian Sembako, padahal kita ini meski tak terpapar COVID-19 tapi juga terdampak (?)" 

Beberapa warga yang mungkin baru sadar kalau diri mereka juga terkena dampaknya secara tak langsung.

Saya sih yes dengan anggaran Rp 100 milyar untuk penanganan COVID-19 di Tanah Bumbu meski saya agak susah menuliskan angkanya Rp 100.000.000.000 atau Seratus Ribu Juta. Ini pasti duit semua, bukan bercampur daun apalagi sampah. Yang mungkin membuat saya ragu adalah; penggunaan anggaran itu apakah lebih banyak untuk di luar tubuh apakah yang masuk ke dalam tubuh. Karena selain tetap memperhatikan tubuh bagian luar yang bisa menjadi media berjangkitnya virus, tapi dalam tubuh yang juga harus tetap diisi meski berbagi dengan cacing.

Warga butuh makan minum, butuh Sembako baik yang terpapar langsung maupun yang terdampak, karena kondisi darurat ini mengharuskan banyak orang tak bisa melakukan aktivitas penuh dalam keseharian mereka. Pusat aktivitas perekonomian jadi sepi; pasar, toko, kios, kakilima hingga penjaja keliling.

"Biasanya jualan saya selalu habis, kini merosot jauh," ungkap penjaja makanan.

Belum terhitung di sektor lain semisal hotel, guest house, losmen yang sepi penginap. Kafe, bar, pub, kedai dan sejenisnya juga sama. Tempat hiburan yang terpaksa tutup; tak ada penghasilan. Dampak dari semua itu adalah tiap orang terkecuali mereka yang banyak stok fresh cash alias dana tunai pribadi yang kapan pun bisa menggunakan duitnya untuk mendapat kebutuhannya (asalkan ada yang jual), yang lain.......mereka membutuhkan dan menantikan bantuan Sembako bermerk COVID-19 bergambar si Donatur yang ingin dikenal apalagi yang sedang jadi Bakal Calon Kepala Daerah. (ISP)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.