Hanya Cinta 1 Malam - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Hanya Cinta 1 Malam

Sumi masih asyik mematut-matut dirinya di depan cermin yg sudah mulai kusam. Meski tak terlalu tampak cantik, ia mengagumi sendiri wajahnya yang mulai tampak berkerut.

Hari menjelang malam, Sumi pun bersiap akan parkir di tempat mangkalnya biasa, tak jauh dari pangkalan tukang ojek di pasar induk.

Sambil menunggu usai shalat maghrib, Sumi merebahkan dirinya di kasur tipis yang sudah tampak lusuh, kontras dengan sepreinya yang sudah beberapa hari tak dicuci. Ia membayangkan malam ini akan mendapatkan pelanggan baru, cukup ganteng, berduit, dan royal.

Lamunan Sumi pun bermain di pelupuk mata, berpindah ke masa lalu, sisi lain dari kehidupan yang sedang dijalaninya kini.

Ia masih mengingat tatkala masih tinggal di kampungnya, di pelosok sebuah desa di tepi pegunungan. Setiap hari ia membantu suami ke kebun karet dan ladang. Hidupnya cukup berbahagia bersama suami dan anak semata wayangnya yang kala itu masih berumur sekitar 6 tahun.

Namun sejak suaminya kepincut seorang temannya untuk pergi merantau, kehidupan Sumi pun berubah. Kepergian suami merantau, mula-mula masih ingat akan diri dan anaknya, namun lama kelamaan lupa, tak ada kabar beritanya. Sumi mengambil alih tugas suami sebagai orangtua tunggal. Berat, karena Sumi tak memiliki kecakapan dan modal untuk berusaha, membesarkan anak.

Keadaan ekonomi memaksa Sumi harus mencari pekerjaan, menghidupi dan membesarkan anak.

Seorang tetangga Sumi sekampung, Isah mengajaknya ke sebuah kota kecil yang baru berkembang. Isah menawarkan mencarikan pekerjaan sebagai penjaga warung minum. Pekerjaan sebagai penjaga dan pelayan warung minum ini sempat dilakoni Sumi beberapa tahun. Tak ada peningkatan berarti, karena upah yang tak seberapa pekerjaan ini ia tinggalkan.

Ketika Sumi masih sebagai pelayan warung, ia sempat berkenalan dengan seorang wanita yang sering mangkal di depan warungnya. Namanya Ida, selalu berpenampilan menor dengan pakaian yg juga selalu seksi. Ida selalu terlihat tiap malam dengan lelaki yang berganti-ganti mengajaknya jalan. “Mbak Ida banyak cowoknya, ya,” Sumi memberanikan diri membuka percakapan. “Ah biasa mbak, pasien,” sahut Ida sambil senyum kenes. “Maksudnya apa to mbak Ida, pasien ?” Tanya Sumi agak lugu. “Mbak Sumi ini kayak nggak ngerti aja,” sahut Ida lagi. Mendengar jawaban Ida, Sumi cuma geleng-geleng kepala dengan wajah blo’on.

“Cowok-cowok itu buat cinta 1 malam. Diajak kencan, lalu aku dapat duitnya,” jawab Ida tambah kenes. “O…..gitu toh mbak,” Sumi bergumam mulai mengerti.

Ida yang dikenal Sumi dulu itu kini tak ada lagi mangkal di depan warung minum bekas tempat Sumi bekerja. Menurut seorang temannya, Ida sudah hidup enak, dinikahi oleh seorang pengusaha tambang ilegal. Dan kini pekerjaan Ida digantikan oleh yang lain, termasuk Sumi, yang mulanya lugu.

Sumi masih mengingat ketika pertama kali dibujuk dan diajak oleh seorang pria yang sering mengunjungi warungnya. Namanya Udin, paling sering duduk minum di warungnya, betah berlama-lama menggoda Sumi. “Sum, kamu itu nggak capek apa, tiap malam begadang, sekali-sekali istirahat cari hiburan,” kata Udin. “Capek sih mas, tapi namanya juga kerjaan ikut orang,” jawab Sumi. “Ngomong kek ke pemilik warung minta ijin istirahat buat cari hiburan, masa nggak boleh,” saran Udin. “Iya juga sih, selama ini aku belum pernah nyoba aja ngomong,” jawab Sumi pula.

“Terus bila dikasih ijin, mau pergi kemana juga ?” Tanya Sumi yang mulai dapat angin. “Gampang, yang penting dapat ijin, soal nanti mau kemana, aku siap kau ajak kemana kau mau,” tawar Udin dengan sumringah.

Jadilah Sumi dan Udin jalan mencari hiburan. Mereka mengunjungi tempat hiburan karaoke di sebuah hotel yang ada di kota mereka. Seumur-umur Sumi baru kali ini menginjakkan kakinya ke tempat hiburan seperti itu. “Santai aja, nggak usah kikuk begitu,” melihat Sumi yang canggung berada diantara para pengunjung.

Mereka pun memesan sebuah ruangan tempat hiburan musik karaoke, berdua saja berada didalamnya. Udin yang tampaknya sudah terbiasa, tanpa sungkan menyanyi sambil melingkarkan sebelah tangannya ke bahu Sumi. Berdesir darah Sumi tatkala merasakan tangan Udin berada di bahunya. Sudah sekian lama sejak kepergian suaminya Sumi tak merasakan sentuhan lelaki. Ia mendiamkan saja tangan Udin yang melingkar di bahunya, ia pura-pura asyik menikmati alunan musik dari perangkat karaoke. Tangan Udin tak cukup berada di bahu Sumi. Tangan lelaki yang cukup kekar itu pun berpindah ke pinggangnya, dan ke bagian tubuh Sumi lainnya. Apalagi Udin yang sejak tadi terus minum bir sambil nyanyi, mulai terlihat agak mabuk. “Sudahlah mas jangan minum terus, nanti mabuk lho,” tegur Sumi. “Nggak papa, nggak mabuk kok, cuma bir, nggak bakal bikin mabuk, kamu yang malah bisa bikin aku mabok,” sahut Udin sekenanya.

Malam pun sudah mulai larut. Sumi pun gelisah ingin pulang. Udin agaknya dapat membaca gelagat Sumi. “Malam ini kamu nggak usah pulang,” kata Udin. “Nggak berani mas, aku sudah janji pulang ke rumah pemilik warung,” jawab Sumi. “Kita tidur di hotel ini aja,” bujuk Udin. “Nggak mas, aku nggak berani nanti dimarahi,” tolak Sumi. “Percaya aku, nggak akan marah tuh si ibu, besok aku yang ngomong ke dia sambil ngantar kamu pulang,” bujuk Udin ngotot. “Benar ya mas, besok ngomong ke ibu,” pinta Sumi. “Pasti, pasti aku ngomong,” pungkas Udin.

Sebelum meninggalkan ruang karaoke, Udin sudah terlebih dulu memesan kamar hotel untuk mereka berdua tidur.

Sumi tak dapat lagi mengingat berapa kali dirinya tidur dengan Udin, sebelum Udin meninggalkannya dengan perempuan lain. Padahal Udin sudah berjanji akan menikahinya, sehingga ia berhenti bekerja di warung, dan sempat hidup serumah dengan Udin tanpa nikah. Udin yang kerjaannya sebagai makelar batubara, rupanya selain suka mabuk-mabukan, juga doyan main perempuan. Dan akhirnya kepincut dengan perempuan lain yang tak lain adalah juga seorang penjaga dan pelayan warung minum.

Sumi sakit hati, patah, dan dendam, berkecamuk jadi satu dalam perasaannya. Ia pun ketika itu mulai coba-coba ikut gabung dengan beberapa perempuan yang sering mangkal di ojekan. Sumi ikut-ikutan mengisap rokok, dan menenggak minuman keras. Yang lebih jauh lagi, Sumi pun terbawa profesi teman-temannya sebagai pelacur jalanan.

Suara azan maghrib terdengar berkumandang, lamunan Sumi buyar. Ia bangkit dari pembaringan, berjalan ke arah pintu rumah kontrakannya, dan pergi berlalu menuju tempatnya biasa mangkal.

Disana, sudah ada beberapa orang temannya yang lebih duluan mangkal. Mereka sedang menanti para lelaki yang iseng, yang ingin menikmati cinta 1 malam. Ada lelaki yang langsung datang sendiri ke tempat Sumi dan teman-temannya mangkal, ada yang lewat telpon, ada pula yang melalui orang lain. Sumi dan teman-temannya sering minta bantuan anak-anak parkiran untuk mencari “pasien”, dengan memberi komisi tentunya.

Para lelaki hidung belang yang iseng itu kebiasaannya membawa Sumi ke penginapan yang tarifnya tak terlalu mahal, atau bisa juga mereka ke kontrakan Sumi, untuk menghemat biaya, atau menghindari supaya tak banyak yang tahu.

Malam ini Sumi sedang menanti seorang lelaki yang sudah menelponnya sejak tadi siang. Lelaki itu sudah beberapa kali mengajak Sumi tidur di sebuah penginapan tak jauh jaraknya dari tempatnya mangkal. Pasien Sumi itu adalah seorang pekerja tambang batubara, sopir mobil angkutan. Lelaki dari luar pulau, tak jelek-jelek amat, dan lumayan dermawan bila memberi bayaran.

Lebih dari 1 jam Sumi menunggu, akhirnya lelaki yang ditunggu pun datang menjemputnya. Mereka pun beranjak dari tempat mangkal Sumi, menuju ke tempat peraduan, mengayuh bahtera cinta semu kenikmatan sesaat, hanya cinta 1 malam, namun terus bersambung hingga sampai kapan. (Spicesland, Februari 6’ 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.