Buaian Alkohol - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Buaian Alkohol

Meski masih mengantuk, dan kepala agak pening, Syahrul tetap memaksakan diri bangun subuh. Dari kejauhan masih terdengar lantunan ayat-ayat suci usai mengantar shalat subuh.

Tadi malam Syahrul pesta minuman keras oplosan yang dibuat dan diramu sendiri bersama teman-temannya sesama penjaga parkir.

Beberapa botol kecil larutan alkohol yang biasa untuk membersihkan luka, dicampur dengan energy drink dalam bentuk bubuk, dan dicampur air putih, kemudian disatukan dalam botol, dikocok-kocok agar menyatu. Minuman oplosan itu dituangkan kedalam sebuah gelas, diminum bergiliran beberapa orang.

Syahrul melangkah ke bagian belakang rumah kontrakannya, mengambil air dan membasuh mukanya yang kusut. Ia jarang mandi pagi, biasanya agak siang sepulang dari tempat parkir jagaannya.

Syahrul pun hanya menenggak segelas air putih untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Sarapan ia lakukan di warung teh yang berada di sekitar tempat parkiran.

Sudah hampir 2 tahun sejak kedatangannya di kota kecil itu, Syahrul mengontrak sebuah bilik rumah kos yang lumayan mahal untuk ukuran koceknya sebagai penjaga parkir.

Beberapa toko sudah mulai tampak dibuka oleh pemiliknya ketika Syahrul tiba di lokasi tempatnya menjaga parkir. Udara pagi masih terasa dingin, meski sinar matahari mulai tampak semburat.

Syahrul duduk di emperan sebuah toko yang sedang dibuka oleh pemiliknya, sambil menyulut sebatang rokok. “Sendiri, Rul ? mana yang lainnya ?” sapa H. Rahmat, pemilik toko berbasa-basi. “Masih tidur mungkin,” sahut Syahrul sekenanya.

Sambil menghembuskan asap rokoknya, pikiran Syahrul menerawang. Ia membayang kehidupan keluarganya di kampung halaman, yang berjarak sehari semalam naik taksi dari tempatnya kini berada. Ia ingat ayahnya yang setiap subuh berangkat menyadap karet milik perusahaan pemerintah, sementara ibunya berangkat pagi-pagi bekerja sebagai buruh tani di sawah milik orang lain. Penghasilan kedua orang tuanya sering tak cukup menghidupi dirinya beserta 3 orang adiknya yang masih sekolah. Ia pun terpaksa harus putus sekolah di kelas 5 SD, karena orang tuanya tak sanggup lagi membiayainya.

Betapa sulit mencari penghasilan di kampungnya, lapangan pekerjaan pun susah didapat.

“Hei ! Pagi-pagi sudah melamunkan perempuan,” suara Burhan mengagetkan lamunan Syahrul. “Sialan kamu, bikin orang jantungan saja,” sungut Syahrul kepada temannya yang baru dating itu.

“Sudah sarapan belum ?” tanya Burhan. “Belum, uangku habis buat tadi malam,” sahut Syahrul. “Jangan kuatir, aku masih ada uang buat sarapan,” kata Burhan sambil menarik lengan Syahrul mengajaknya ke warung Bi Imah yang sudah mulai buka. Syahrul pun menurut saja ditarik oleh Burhan.

Orang-orang yang akan berbelanja sudah mulai berdatangan. Beberapa sepeda motor sudah memasuki areal parkir, Syahrul pun meninggalkan warung untuk mengatur tempat sepeda motor, namun ia kembali lagi ke warung. “Kita mesti hati-hati sekarang, akhir-akhir ini sering terjadi pencurian sepeda motor,” ujar Burhan. “Ya, kita mesti betul-betul mengawasi sepeda motor di parkiran,” kata Syahrul pula.

Kali ini Burhan yang beranjak dari warung, karena seorang pemilik sepeda motor akan meninggalkan tempat parkir. Orang itu mengangsurkan selembar uang ribuan ke Burhan sebagai bayaran parkir. Ketika Burhan akan kembali ke warung, seorang pria setengah baya memasuki tempat parkir yang kosong. Burhan pun melangkah mendekati pria yang wajahnya masih tertutup helm. Ketika pria itu membuka helm, Burhan mengenalinya. “Tumben hari ini pagi-pagi sudah ke pasar, bang,” sapa Burhan. “Iya nih, aku mau cari sepatu sama jaket,” jawab pria itu.

“Mana Syahrul ?” tanya pria itu pula. “Tuh, lagi duduk di warung,” sahut Burhan sambil menunjuk kea rah warung.

“Sudah sarapan kalian ?” tanya pria itu lagi. “Sudah bang, tapi belum selesai,” jawab Burhan. “Yo kita kesana, aku belum sarapan juga,” ajak pria yang biasa dipanggil Bang Heri itu.

Mereka pun duduk di warung menikmati sarapan. “Kata anak-anak, kamu tadi malam mabuk berat, Rul ?” tanya Bang Heri ke Syahrul. “Ah, nggak juga bang !” jawab Syahrul. “Habis berapa ?” Tanya Bang Heri lagi. “Nggak tau juga, bang. Anak-anak tadi malam pada banyak ngumpul, masing-masing nyumbang untuk tambahan,” jawab Syahrul pula.

“Jangan keseringan tiap malam minum terus, entar sakit, juga nggak punya uang,” kata Bang Heri. Baik Syahrul maupun Burhan yang mendengar perkataan Bang Heri cuma diam sambil manggut-manggut.

“Sudah deh, aku mau cari sandal sama jaket dulu, nih bayari sarapan kita,” ujar Bang Heri sambil menyerahkan selembar uang limapuluh ribuan ke Syahrul.

Bang Heri pun beranjak sambil berkata,” uang kembaliannya kalian bagi.”

Anak-anak penjaga parkir hampir semua mengenal Bang Heri yang pengusaha tambang batubara. Meski ia cukup berada, tapi ramah dan tidak sombong. Ia pun sering kumpul-kumpul dengan anak-anak parkiran. Tak jarang ia ikut pula begadang sambil minum-minum. Anak-anak pasti senang bila Bang Heri ikut kumpul mereka, biasanya Bang Heri yang traktir semua.

Pagi terus beranjak tengah hari. Puluhan sepeda motor berganti dating dan pergi dari tempat parkir. “Coba dihitung dulu berapa perolehan kita,” pinta Burhan ke Syahrul. Sambil duduk di salah satu sepeda motor, Syahrul mengeluarkan uang dari tas pinggangnya. Ia mulai dan terus menghitung hingga selesai. “Semuanya ada enampuluh tiga ribu, tidak termasuk kembalian dari Bang Heri tadi ada tigapuluh ribu,” kata Syahrul. “Keluarkan duapuluh ribu untuk beli alkohol sama campurannya,” pinta Burhan. Syahrul memberikan uang yang diminta Burhan sambil berucap,” nih sekalian kamu yang pergi beli.”

Sambil menikmati minuman keras oplosan buatan sendiri, mereka menjaga parkir. Makan siang pun mereka lakukan di tempat parkiran, karena tak jauh dari tempat mereka terdapat gerobak dorong yang menjual sate dan bakso.

Tak terasa hari telah beranjak sore. Sepeda motor yang masih berada di parkiran tinggal dua. “Sepulang sepeda motor dua itu kita istirahat pulang saja,” ujar Syahrul. “Ya, setuju,” sahut Burhan.

Hari itu Syahrul dan Burhan membagi hasil parkiran mereka, masing-masing dapat hasil duapuluh tujuh ribu. Azan maghrib mulai terdengar berkumandang dari kejauhan, keduanya melangkah meninggalkan tempat parkiran, menuju pulang, kehidupan malam telah menanti mereka, menjanjikan buaian aroma alkohol lagi. “Habis isya kita kumpul lagi di warung, tempat biasa,” kata Syahrul sebelum mereka berpisah. (Spicesland, 28 Januari 2011)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.