SELAMAT DATANG DAN BERKUNJUNG DI ISP 68 BLOG
Alkisah Bisnis Lendir di Kadipaten Rempahbumi - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

TONTON CERAMAH USTAD KHALID BASALAMAH DISINI

Senin, 30 November 2020

Alkisah Bisnis Lendir di Kadipaten Rempahbumi

Alkisah tersebut lah satu Kadipaten bernama Rempahbumi yang bertetangga dengan Kadipaten Pugapura yang kaya dengan Batuarang dan sumber daya alam lainnya; perikanan, perkebunan, pertanian dan lainnya.

Kadipaten Rempahbumi ini baru berdiri sekitar 2 dekade lalu, namun pembangunan lumayan pesat sejak diperintah oleh Adipati Muda; jalan-jalan yang dulu super becek bak kubangan kerbau dibangun menjadi mulus beraspal. Banyak fasilitas umum yang dibangun oleh Adipati Muda itu. Kadipaten Rempahbumi pun bisa berdiri sejajar dengan kadipaten lain tetangganya.

Dulu sebelum Adipati Muda memerintah, jamannya Adipati sebelumnya Rempahbumi banyak didatangi oleh para Penambang Liar Batuarang; yang mengeruk kekayaan alam, setelah diantaranya banyak yang menjadi kaya dan berduit mereka pun raib entah kemana menyisakan banyak kolam-kolam buatan berukuran besar. Namun tak sedikit pula diantara para penambang liar itu yang bernasib sial tanpa hasil dan sama menghilang entah kemana.

Jaman dulu, waktu masa-masa penambangan liar masih eksis Rempahbumi menjadi tujuan para warga dari kadipaten lain untuk mengadu nasib mencari penghidupan. Warung-warung jablay dan remang-remang pun banyak bermunculan untuk melayani para pekerja tambang yang mencari hiburan setelah bergelut dengan pekerjaan. 

Tempat pelacuran pun marak dengan jumlah para kupu-kupu malam ratusan orang yang datang dari luar pulau. Para Germo bergelimang 'duit lendir', para kupu-kupu malam pun jadi laku jualannya. Pemerintah Kadipaten kala itu pun dibikin pusing oleh keberadaan tempat pelacuran yang berlokasi di dalam hutan yang disulap menjadi perkampungan. 

Hingga pemerintahan berganti di Kadipaten Rempahbumi dengan Adipati Muda; tempat pelacuran masih eksis memberikan servis nikmat kepada para pelanggannya dari semua kalangan.
Namun Adipati Muda yang gerah dengan keberadaan tempat pelacuran tersebut pun akhirnya rela merogoh kocek pribadi untuk memulangkan seluruh para kupu-kupu malam itu ke daerah asal mereka. Ribuan ikat duit pun dikeluarkan oleh Adipati Muda. Para Germo dan 'dayang-dayangnya' pun hengkang dari perhelatan bisnis lendir.

Namun agaknya para 'Pramusyahwat' itu hanya pulang beberapa waktu ke daerah asal mereka. Duit 'pesangon' mereka habis mereka pun ada yang kembali ke tempat semula berjualan 'apem'. Pemerintah Kadipaten tentu saja tak mau begitu saja membiarkan tempat pelacuran tetap eksis. Bhayangkara lokal pun sering dikirim merazia mereka sehingga lama-lama mereka mengubah pola baru berkedok warung remang-remang alias Warem dan tempat Karaoke.
Di samping itu kegiatan penambangan Batuarang mulai menurun dikarenakan peraturan semakin ketat sehingga yang bisa menambang akhirnya hanya mereka yang benar-benar memiliki ijin yang sah, yang liar ditangkapi. 

Nah, begitulah sekelumit kisah tentang Kadipaten Rempahbumi di alam entah berentah. Kalau ada kemiripan dasar cerita, figur, karakter dan lainnya; hanya kebetulan belaka. Kalau diantara para pembaca ada yang ngotot menyamakan dengan daerah tertentu, berarti ada yang paham kalau kisah ini hanyalah satu anekdot yang benar-benar terjadi di dunia nyata. (ISP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.