Peduli Yang Tak Dipedulikan - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Peduli Yang Tak Dipedulikan

Sepasang suami istri manula itu amat senang ketika aku mempersilakan mereka menumpang mobil yang kusopiri. “Hampir 2 jam kami menunggu taksi di tepi jalan itu,” ungkap bapak tua itu yang diiyakan istrinya.
Namun belum sempurna kegembiraan mereka, seorang pria bertubuh gemuk berparas sangar datang mendekati mobil dengan mengendarai sepeda motor. “Mana uang makelar untuk saya ?” Katanya tanpa basa basi.
“Mobil ini bukan taksi, aku cuma bermaksud memberikan tumpangan kepada bapak dan ibu itu,” jawabku.
“Bukan urusanku, pokoknya siapa saja yang menaikkan orang ke mobil di lingkungan ini harus bayar sebesar Rp. 10 ribu per orang,” katanya dengan nada memaksa dan sedikit ancaman.


Betapapun aku beralasan dan mengungkapkan niatku sekedar menolong orang, sama sekali tak digubris oleh pria itu. Aku pun berpikir untuk tidak melayaninya, lembaran Rp. 20 ribuan aku berikan kepadanya.

Hari itu aku seorang diri meninggalkan Bandara menuju pulang sehabis mengantar 3 orang teman yang berangkat ke Jakarta. Aku pikir daripada aku sendirian di mobil, ada baiknya mengajak orang yang butuh tumpangan ke tujuan yang searah, disamping itu ada teman buat ngobrol. “Aku sendirian di mobil, atau dengan 10 orang didalamnya, bensin tetap harus habis sesuai takarannya,” bathinku.

Aku pun ada teman didalam mobil. Bapak itu berkata ia dan istrinya akan turun di Kota P, yang jaraknya sekitar hampir 1 jam dari perempatan dimana kami tadi bertemu. Sambil menyetir mobil, aku dan bapak tua yang duduk disebelahku, terus mengobrol, sementara istrinya yang duduk di belakang tampak terkantuk-kantuk menjadi pendengar yang baik.

Bapak tua itu menceritakan dirinya ketika masih remaja. Ia ternyata seorang pensiunan polisi berpangkat Pelda (kini setingkat Aipda). Di Kota P yang menjadi tempat istirahatnya di masa tua, pak tua itu mengaku berkebun macam-macam tanaman ; ubi, jagung, dan sayuran. “Lumayan untuk kegiatan di masa tua, daripada diam, kan tidak perlu beli sayuran,” ungkapnya.
Tak terasa tujuan ke tempat bapak itu pun sampai. Ia mengangsurkan uang untuk membayar biaya tumpangan. “Tidak usah pak, simpan saja uangnya buat keperluan lain. Saya cuma membantu, lagian saya sudah ditemani di mobil,” kataku.
Sambil mengucapkan terima kasih, mata pak tua dan istrinya itu tampak berkaca-kaca. Aku pun jadi ikut terharu dengan moment itu. Hingga tak tampak lagi kedua punggung orang tua itu, baru aku kembali menjalankan mobil meneruskan perjalanan.


Dalam kesendirianku di mobil, aku merenung, andai terjadi pada diriku yang sedang berjam-jam menunggu tumpangan di tepi jalan, apakah kira-kira ada orang yang dengan senang hati berhenti menawarkan kebaikan. Atau aku mesti teriak-teriak sambil melambaikan tangan meminta mobil berhenti (?) “Ah, cukuplah aku saja yang merenung, dan biarkan hatiku tetap memiliki kepedulian yang mulai jarang dilakukan orang,” aku membathin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.