Requeim Aeternam Deo, Istirahat Kekal Bagi Tuhan, Tuhan Telah Mati - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 26 Februari 2014

Requeim Aeternam Deo, Istirahat Kekal Bagi Tuhan, Tuhan Telah Mati

Ungkapan “Requiem aeternam” diucapkan untuk menghormati & mendo’akan orang yang telah mati, yang kira-kira artinya : semoga engkau beristirahat dalam kedamaian abadi.

Nietzsche mengganti ungkapan itu menjadi “requiem aeternam deo”, ini lalu berarti “semoga Tuhan beristirahat dalam kedamaian abadi”, ungkapan ini termasyur dalam satu aforisme Nietzsche, dimana ia berseru : “Tuhan sudah mati ! Kita telah membunuhnya”.

Ucapan Nietzsche yang terkenal itu dapat ditemukan dalam buku yang ditulisnya di Genoa (1880) berjudul “Die Frohliche Wissenschaft”. Dengan gaya bahasa yang indah & penuh metafora ia memaklumkan bahwa Tuhan sudah dibunuh dan secara beramai-ramai sudah dikuburkan.

Rumusan yang ditemukan dalam aforisme yang berjudul “Orang Gila” (Der Tolle Mensch, The Madman) itu masih akan diulang-ulang dalam karya Nietzshe sesudahnya.

“Tidakkah kau dengar orang gila yang menyalakan pelita di pagi yang cerah. Dia berlari menuju alun-alun kota dan tak henti-hentinya berteriak : ‘Aku mencari Tuhan ! Aku mencari Tuhan !’ Ketika banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan, datang mengerumuninya, orang gila itu mengundang banyak gelak tawa. ‘Apakah dia ini orang yang hilang ?’, tanya seseorang. Apakah dia tersesat seperti anak kecil ? Apakah ia baru saja mengadakan pelayaran ? Apakah dia seorang perantau ? Demikianlah mereka saling bertanya sinis & tertawa.

Orang gila itu melompat dan menyusup ke tengah-tengah kerumunan dan menatap mereka dengan pandangan yang tajam. ‘Mana Tuhan ?’, serunya. ‘Aku hendak berkata kepada kalian. Kita telah membunuh Tuhan — kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya. Bagaimana mungkin kita telah melakukan perbuatan semacam ini ? Bagaimana mungkin kita meminum habis lautan ? Siapakah yang memberikan penghapus kepada kita untuk melenyapkan cakrawala ? Apa yang kita lakukan jikalau kita melepaskan bumi ini dari mataharinya ? Lalu kemana bumi ini akan bergerak ? Kemana kita bergerak ? Menjauhi seluruh matahari ? Tidakkah kita jatuh terus menerus ? Ke belakang, ke samping, ke depan, dan ke semua arah ? Masih adakah atas dan bawah ? Tidakkah kita berkeliaran melewati ketiadaan yang tak terbatas ? Tidakkah kita merasa menghirup ruangan yang kosong ? Bukankah hari sudah menjadi semakin dingin ? Tidakkah malam terus menerus semakin meliputi kita ? Tidakkah kita mendengar kebisingan para penggali liang kubur yang sudah memakamkan Tuhan ? Tidakkah kita mencium bau busuk Tuhan ? Ya, para tuhan juga membusuk ! Tuhan telah mati ! Tuhan tetap mati ! Dan kita telah membunuhnya !

Bagaimana kita –pembunuh para pembunuh– merasa terhibur ? Dia yang mahakudus dan mahakuasa yang dimiliki dunia ini telah mati kehabisan darah karena pisau-pisau kita — siapakah yang hendak menghapus darah ini dari kita ? Dengan air apakah kita dapat membersihkan diri kita ? Perayaan tobat apa, pertunjukan kudus apa yang harus kita adakan ? Bukankah kedahsyatan tindakan ini terlalu dahsyat bagi kita ? Tidakkah kita harus menjadikan diri kita sendiri sebagai Tuhan supaya tindakan itu menjadi bernilai ? Belum pernah ada perbuatan yang lebih besar, dan siapa saja yang lahir setelah kita –demi tindakan ini– akan termasuk kedalam sejarah yang lebih besar daripada seluruh sejarah sampai sekarang ini !

Sampai disini orang gila itu lalu diam dan kembali memandang para pendengarnya ; dan mereka pun diam dan dengan keheranan memelototinya. Akhirnya orang gila membuang pelitanya ke tanah dan pelita itu hancur, kemudian padam. ‘Aku datang terlalu awal’, katanya kemudian. ‘Waktuku belum tiba. Peristiwa yang dahsyat ini masih terus berjalan, masih terus berkeliaran dan belum sampai pada telinga orang-orang. Kilat dan guntur memerlukan waktu, cahaya bintang-bintang memerlukan waktu, tindakan, meskipun sudah dilakukan, masih memerlukan waktu untuk dapat dilihat dan didengar. Tindakan ini masih lebih jauh dari mereka daripada bintang-bintang yang paling jauh –namun mereka sudah melakukannya untuk diri mereka sendiri,.

Masih diceritakan lagi bahwa pada hari yang sama orang gila itu nekat masuk kedalam berbagai gereja dan disana menyanyikan lagu ‘Requiem aeternam deo (istirahat kekal bagi Tuhan). Setelah keluar dan diminta pertanggungjawaban, dia hanya selalu menangkis dan berkata, “Apalagi gereja-gereja ini kalau bukan makam-makam dan nisan-nisan bagi Tuhan ?”

Inilah kisah panjang bagaimana Nietzsche harus memaklumkan kematian Tuhan pada khakayak yang masih menggenggam keyakinan mereka akan Tuhan. Tepatlah jika Nietzsche memberi judul aforisme-nya dengan “Orang Gila”. Kegilaan ini tak hanya terasa dari kontras antara sikap Nietzsche dengan khalayak, juga tampak dalam kontras antara sikap baru Nietzsche sang pembunuh Tuhan dan sikap lama Nietzsche sang calon pendeta yang sangat religius.

Nietzsche, orang yang membunuh Tuhan ini adalah orang yang pada masa remajanya pernah berlutut penuh khidmat di depan altar untuk menerima sakramen-sakramen dari gereja.


(Dikutip dari buku tentang pemikiran nihilisme Nietzsche, seorang filsuf Jerman)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.