Acara Ritual Nelayan Mappanretasi, Syirik? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Acara Ritual Nelayan Mappanretasi, Syirik?

Setiap bulan April di daerah dimana aku tinggal kini, digelar sebuah acara ritual adat oleh para nelayan setempat.

Acara ritual tersebut seingatku sudah dilaksanakan puluhan tahun oleh para nelayan yang bermukim di tepi pantai beberapa desa di wilayah Kecamatan Kusan Hilir yang kini termasuk Kabupaten Tanah Bumbu Kalsel (dulu masuk Kotabaru). Kebanyakan dari para nelayan itu merupakan keturunan etnis Bugis. Memang bila ditelusuri hampir tak seorangpun diantara para nelayan itu berasal dari etnis selain Bugis.

Acara ritual sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa itu dalam bahasa Bugis mereka namakan “mappanretasi”, yang jika diartikan secara harfiah adalah “memberi makan laut.”

Untuk diketahui, para nelayan yang melaksanakan acara ritual tersebut mengaku seluruhnya beragama Islam. Entah mengapa mereka masih tetap mempertahankan acara adat yang jika ditinjau dari namanya saja sudah berbau animisme dan dinamisme.

Masih belum hilang dari ingatanku, acara ritual tersebut sempat dilarang oleh pihak Kementerian Agama di era pemerintahan Orde Baru yang mana saat itu yang menjabat sebagai Menteri Agama adalah Munawir Sadzali. Kementerian Agama menuding acara tersebut sebagai acara yang berbau syirik, tak berlandaskan ajaran agama Islam.

Agar acara ritual masih bisa dilaksanakan, mereka mengubah namanya menjadi “mappanre ri tasi’e”, atau jika diartikan secara harfiah adalah “pesta laut.”

Prosesi ritual tetap sama, cuma nama yang beda. Dirubahnya nama acara ritual tersebut membawa dampak, acara menjadi sepi dari para pengunjung. Akhirnya setelah beberapa tahun kemudian namanya pun kembali menjadi “mappanretasi” alias memberi makan laut.

Sebetulnya acara ritual adat yang menjadi dan masuk dalam kalender tahunan wisata nasional ini, dilaksanakan hanya satu hari saat puncak acara. Dengan dipimpin oleh seorang Sanro, orang yang dianggap memiliki kekuatan supra natural, membawa berbagai macam jenis sesaji untuk kemudian dilarung ke tengah laut jawa dengan menggunakan perahu motor.

Yang justru membuat ramai mappanretasi ini justru para pedagang yang menggelar dagangan mereka di lokasi acara, serta digelarnya berbagai hiburan musik dan pertunjukkan, maupun pagelaran kesenian daerah dari warga etnik terutama kesenian Bugis, Banjar, dan Jawa.

Dalam beberapa tahun terakhir, mappanretasi digelar selama 2 minggu.

Jika diperhatikan secara seksama, acara ritual tersebut agak mirip dengan acara ritual dalam agama Hindu, yakni Mlasti yang melepaskan sesaji ke tengah laut.

Bukan maksudku sebenarnya menggugat acara adat yang sudah dilaksanaan cukup lama ini, namun yang kusesalkan adalah, praktik acara yang sama sekali tak mencerminkan ajaran Islam dari mereka yang mengaku beragama Islam.

Acara ritual yang sudah sangat menyatu dengan para warga nelayan secara turun temurun ini, teramat sulit untuk dihentikan, apalagi dihilangkan. ada saja dalih maupun argumen dari mereka agar tak disalahkan.

Dengan tujuan untuk menarik para pengunjung atau wisatawan , mereka dengan berani tanpa takut dosa besar, tetap saja mengerjakan pekerjaan yang sama sekali tak pernah dianjurkan oleh syariat Islam.

“Ketika mereka ditanya kenapa menyembah berhala, merekapun menjawab, kami hanya mengikuti apa-apa yang dicontohkan dan diajarkan oleh orangtua kami dulu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.