Wanita Tukang Pijat Plus Itu Bernama Manohara - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Wanita Tukang Pijat Plus Itu Bernama Manohara

foto : malaysiaria.com.my
Beberapa perempuan setengah baya alias setengah tua (STW) berdandan cukup menor, duduk berbaur dengan sopir taksi dan penarik becak di teras sebuah kafe di kawasan jalan Pasar Besar yang tak seberapa jauh dari Pusat Grosir Pasar Turi.

Para wanita STW ini baru tampak nongkrong seusai shalat isya. Mereka menunggu rejeki kepada pria yang memerlukan jasa mereka. Apalagi kafe tempat dimana mereka nongkrong tersebut bersebelahan dengan sebuah hotel yang lumayan banyak tamunya dari berbagai daerah di Indonesia. Para wanita STW tersebut akan menawarkan jasanya kepada para lelaki yang mendekat di sekitar mereka nongkrong.
“Mau pijat, mas ?” tawar mereka saat aku bersama temanku berdiri sekitar mereka menunggu sopir taksi yang akan mengantar kami ke daerah Sidoarjo malam itu.
“Pijat gimana, mbak ?” Aku balik tanya.
“Terserah mau pijat yang gimana, mau yang biasa atau pijat plus,” jawab seorang diantara mereka.
“Tarifnya berapa ?” Tanyaku lagi.
“Kalau pijat biasa per jamnya Rp 100 ribu, yang pijat plus Rp 300 ribu per jam,” balasnya.
Itulah percakapanku dengan seorang wanita STW yang menawarkan pelayanan pijat instant.


Ternyata yang model begini terdapat juga di Banjarmasin. Bedanya yang di Surabaya dengan di Banjarmasin adalah, di Banjarmasin mereka tak nongkrong di depan hotel, tapi ditawarkan melalui petugas Satpam.
Sepulang dari Surabaya aku tak langsung pulang ke kampung, tapi menginap dulu di sebuah hotel di Banjarmasin yang cukup representatif.
Malamnya saat aku keluar hotel mau mencari makan, seorang Satpam mendekatiku sambil berbisik menawarkan jasa pijat dan plus-nya.
“Orangnya bungas (cakep), kayak (seperti) Manohara,” ungkap Satpam itu dalam bahasa daerah sembari mengangkat jempolnya menandakan sip.
“Bisa mijat ga ?” Tanyaku.
“O bisa mas, sama yang lainnya juga bisa,” jawabnya sambil senyum-senyum.
“Tarifnya berapa ?” Tanyaku lagi.
“Kalo cuma pijat tarifnya per jam Rp 150 ribu, tapi kalo sama plusnya semua Rp 750 ribu,” jawab Satpam itu.
“Kok mahal sekali,” ujarku.
“Ya iya mas, namanya juga barang bagus, dijamin ga kecewa, bayangkan mirip Manohara lho,” kata Satpam itu berpromosi.

Karena perutku belum diisi, aku menyudahi pembicaraan sambil janji akan mencoba pijatannya si Manohara.
Usai makan di sebuah warung yang tak seberapa jauh dari hotel, aku kembali menemui Satpam itu. Aku katakan bahwa aku mau pijat.
“Oke mas, tunggu aja di kamar, setengah jam nanti si Manohara sudah berada di kamar mas,” kata si Satpam sembari menanyakan nomor kamarku.


Lebih setengah jam kemudian suara ketukan terdengar di pintu, aku pun berjalan ke arah pintu dan membukanya. Di luar pintu berdiri seorang wanita yang kutaksir berumur lebih dari 30 tahunan, bertampang etnis terbesar di pulau jawa, berkulit coklat, dan……..wajahnya sama sekali tak ada sedikitpun mirip dengan Manohara, juga tubuhnya.
Karena memang niat dan keinginanku mau tahu dan membuktikan omongan si Satpam, aku pun mempersilakan wanita itu masuk.
“Bisa mijat, mbak ?” Tanyaku.
“Bisa, mas,” jawabnya.
“Oke kalo begitu, tolong saya dipijat,” ujarku.


Malam itu aku benar-benar dipijat oleh si Manohara, yang pijatannya tak lebih nyaman daripada pijatan istriku di rumah.
Usai pijat, wanita itu menawarkan yang plus.
“Cuma dipijat aja, mas ? Ga ingin yang lain ?” Tawarnya.
“Ga, cukup dipijat aja. Aku sudah ngantuk mau tidur aja,” kataku beralasan sambil mengeluarkan uang Rp 150 ribu membayar upah pijat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.