Avanza Gratis Ditumpangi Wanita Transmigran - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Avanza Gratis Ditumpangi Wanita Transmigran


Tak terbayang dalam mimpi sekalipun bila akhirnya aku bisa memiliki sebuah mobil,Toyota Avanza. Memang sebelumnya aku pernah memiliki sebuah mobil yang kubeli dalam kondisi tidak baru lagi. Namun mobil itu sudah lama kujual karena ada permasalahan pribadi terkait uang pembeli mobil itu dengan seorang teman.

Beberapa minggu lalu aku diminta seorang teman pengusaha pertambangan batubara yang sudah seperti saudara sendiri. Pertemanan antara aku dengan pengusaha yang cukup sukses itu sejak kami masih sama-sama menganggur dan sering kesulitan makan sehari-hari. Aku pun sempat ikut membantunya memulai usaha di bidang perkayuan, sebelum akhirnya aku berhenti karena tidak ingin hubungan kami buruk disebabkan campur tangan istrinya terhadap usaha yang baru kami rintis.

Sejak itu jadi jarang berhubungan dengan teman pengusaha itu. Hubungan kami terjalin kembali setelah ia sukses berbisnis di bidang pertambangan yang sedang booming di daerah kami. Entah dari mana dia mendapatkan momor ponselku, sehingga dia kemudian menghubungiku.

“Ini aku. Aku sedang berada di Sungai Danau. Kamu sekarang dimana?” suara seorang pria yang sudah lama tak kudengar suaranya.

“Oh kamu. Aku sedang berada di Batulicin, memangnya kenapa?” sahutku tanpa bermaksud menanyakan dari mana ia dapatkan nomor ponselku.

“Aku ingin kamu ke Sungai Danau menemuiku. Kamu charter saja mobil untuk mengantar kamu, nanti kubayar sewanya. Temui aku di lokasi pelabuhan pemuatan batubara,” ujarnya tanpa memberiku kesempatan bicara.

“Iya, iya, aku kesana,” cuma ini jawabku sebelum hubungan telpon diputus.

Aku pun tanpa memberi tahu istri pergi mencari mobil charteran. Aku sudah terbiasa memberi tahu istri jika sudah tiba di tujuan. Dan istriku pun sudah terbiasa dengan kebiasaanku ini.

Singkatnya aku pun sudah dalam perjalanan dari Batulicin ke Sungai Danau yang akan memakan waktu sekitar dua jam lebih. Akhirnya kami bertemu setelah sekian tahun berpisah. Dia menanyakan banyak hal dari masalah keluarga hingga pekerjaanku.

“Aku sengaja menyuruhku kemari. Selain kita lama tak bertemu, aku juga bermaksud melibatkan kamu dalam usahaku ini, tentunya sesuai dengan profesi yang kamu pegang kini. Kita besok sama-sama ke Batulicin, ada sesuatu yang akan kuselesaikan disana,” ungkap teman pengusaha itu. Aku hanya manggut-manggut.

Besoknya usai sarapan pagi kami siap berangkat ke Batulicin. Ada dua mobil yang akan dipakai ke Batulicin; Toyota Hi Lux Double Cabin, dan Toyota Avanza yang tampaknya masih baru.

“Kita naik Avanza saja, ini kontaknya, kamu yang setir,” ujar teman itu seraya mengangsurkan kunci kontak ke aku.
Aku tak bisa menolak permintaannya untuk nenyetir. Padahal cukup lama aku tak pernah lagi menyetir. Aku terima saja permintaannya. Kami pun memasuki mobil. Benar, Toyota Avanza masih baru, seluruh jok masih dilapisi plastik.


Kami cuma berdua didalam mobil Toyota Avanza yang kusetir. Mula-mula aku agak kikuk menyetir, namun setelah lebih satu jam, aku mulai terasa nyaman. Sementara itu mobil satunya Toyota Hi Lux dibawa oleh dua orang menjadi anak buah dari teman pengusaha itu.

Terlalu panjang kukira pembuka ceritaku ini. Baiklah, ku persingkat saja. Setelah pertemuan kembali dengan teman yang sudah jadi oengusaha sukses itu, aku jadi sering bersamanya; ke Banjarmasin, Surabaya, maupun Jakarta.

Pada suatu kesempatan, seorang kenalanku yang juga pengusaha pertambangan batubara, yang mengetahui hubungan baikku dengan temanku yang sudah sukses itu memberiku saran. “Temanmu itu termasuk pengusaha besar. Dia memiliki lahan tambang yang cukup luas. Ini kesempatan buat kamu,” ujar kenalanku itu.

“Maksud kesempatan buatku itu bagaimana?” tanyaku tak mengerti.

“Maksudku kamu bisa minta ikut menambang sendiri di lahan miliknya, minta semacam Surat Perintah Kerja. Kalau temanmu itu mau memberi, nanti aku yang mengerjakannya. Kamu tak usah ikut berkerja, kamu cukup terima fee dari aku,” ungkap kenalanku itu.

Pikirku boleh juga saran kenalanku itu.

“Aku yakin kalau kamu yang minta akan diberi. Pokoknya begitu dia mau memberikan kamu ijin untuk berkerja di lahannya, kamu ikut aku ke Banjarmasin ke show room mobil. Kamu boleh pilih mobil yang kamu suka, aku yang bayar untuk kamu,” kenalanku itu memberi harapan.

Aku pun berjanji kepada kenalanku untuk menemui teman pengusaha itu dan menyampaikan keinginan untuk ikut menambang di lahannya.

“Cukup aku saja yang usaha menambang, kamu tak usah. Catat keperluanmu untuk setiap bulan, akan kupenuhi. Kita ini sudah seperti saudara,” begini tanggapan teman pengusaha itu menjawab keinginanku untuk ikut menambang.

“Tapi aku juga ingin seperti kamu; ingin punya rumah dan sebagainya dari usaha sendiri. Jangankan punya rumah, punya sepeda motor saja tidak apalagi mobil. Apa kamu tidak malu punya teman atau saudara seperti aku?” ujarku sedikit kesal.

Temanku itu terdiam sesaat, akhirnya ia berkata,”kalau begitu kamu bawa saja Toyota Avanza itu, jarang dipakai juga, cuma untuk jemput tamu sesekali ke bandara. Ambil kunci kontak berikut surat-suratnya sama istriku.”

Aku pun membawa Avanza dari Banjarmasin ke Batulicin. Istriku terkejut begitu aku datang ke rumah dengan mengendarai Avanza yang masih tampak baru. Kepada istri kuceritakan perihal Avanza yang kini parkir di halaman rumah kontrakan kami.

Toyota Avanza pemberian dari teman itu sempat menemaniku lebih dari dua tahun sebelum akhirnya kujual untuk modal berusaha yang tak pernah sukses.

Beberapa kenangan yang masih kuingat dengan Avanza itu antara lain; pernah suatu kali aku membawa seorang wanita tua transmigran yang rupanya sepulang berjualan sayur, tapi tak ada taksi yang bersedia memberinya tumpangan. Wanita itu berdiri di tepi jalan dengan beberapa jenis sayuran yang tidak habis ia jual. Aku memberinya tumpangan gratis. Maka Avanza-ku pun penuh dengan barang-barang milik wanita itu.

Pernah juga seorang temanku datang meminjamnya untuk keperluan membawa temannya untuk keperluan pemberkatan pernikahan di gereja. Pokoknya setiap kali aku melakukan perjalanan jauh dengan Avanza itu, tak jarang aku memberikan tumpangan secara gratis kepada yang memerlukan. Aku pikir, membawa atau tidak membawa orang pun tetap saja menghabiskan bensin dalam perjalanan.

Itulah sekelumit cerita dengan Avanza. Kunjungi dan like facebook-nya di Facebook Avanzanation, dan follow Twitter-nya di @ToyotaID.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.