Farhat Abbas dan Kecerdikan Memanfaatkan Media - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Farhat Abbas dan Kecerdikan Memanfaatkan Media


Cari sensasi.

Itulah sering kali dilontarkan pemirsa terhadap seseorang (kebanyakan selebriti) yang jadi objek berita infotainment baik di media cetak maupun elektronik.

Memang tudingan cari sensasi tersebut tidak seluruhnya salah, juga tak sepenuhnya benar. Akhir-akhir ini di hampir semua saluran tipi ramai tayangan menyangkut perseteruan antara Farhat “Sumpah Pocong” Abbas dengan Ahmad Dani dan anak-anaknya. Perseteruan tersebut konon bermula dari kicauan Farhat Abbas di media sosial Twitter yang nadanya menyudutkan pihak Ahmad Dani.

Bukan masalah tersebut yang ingin saya bahas, tapi saya disini melihat kecerdikan Farhat Abbas dalam memanfaatkan keberadaan media untuk mendongkrak popularitas dirinya. Farhat Abbas, menurut saya begitu cerdik dalam memancing para insan pencari berita dan tayangan infotainment. Farhat Abbas dengan kecerdikannya itu sengaja memanfaatkan media jejaring sosial seperti Twitter sebagai batu pijakan untuk melompat ke media yang lebih umum dan familiar seperti tipi.

Dengan langkah cerdik seperti itu, Farhat Abbas tidak perlu membayar untuk dengan sengaja membuat iklan tayangan di tipi seperti yang dilakukan oleh beberapa publik figur lainnya.
Yang kita ketahui selama ini Farhat Abbas bukan sekali ini berbuat hal yang sama. Farhat Abbas selaku seorang Lawyer yang berada di lingkaran para selebriti di negeri ini, sangat tahu dan paham benar apa yang harus dia lakukan agar dirinya menjadi man of the shot dengan cara gratis.


Setiap orang yang ingin dirinya dikenal oleh khalayak umum diakui atau tidak memiliki kecenderungan untuk membuat sensasi, baik berdiri sendiri maupun melibatkan pihak lain. Jadi, membuat sensasi yang mengundang keterlibatan pihak media adalah sah-sah saja, terlepas apakah itu dikatakan sensasi murahan ataupun tidak, yang jelas pasti akan punya pengaruh bagi si pembuat sensasi itu sendiri.

Media mengakomodir sensasi.

Tengoklah beberapa media yang tersedia secara gratis yang bisa digunakan kapan saja untuk membuat sensasi. Contohnya Youtube, sudah berapa banyak tayangan yang menjadi sensasi meski cuma bisa bertahan untuk beberapa lama. Video tayangan Norman Kamaru, Udin Sedunia, Shinta dan Jojo, Arya Wiguna, dan lainnya adalah beberapa contoh tayangan sensasi yang sempat membuat para pelakunya menjadi terkenal.

Tentu saja bukan cuma Youtube yang dapat digunakan untuk cari sensasi. Banyak wahana atau kanal lain yang dapat berfungsi sama meski dengan format berbeda, ada Twitter, Facebook, Instagram, Pinterest, Twoo, Netlog, dan sebagainya termasuk Kompasiana sendiri.

Nah, mumpung banyak wahana dan kanal yang tersedia, tak ada salahnya para Capres RI, Caleg, maupun calon-calon apa saja, mengikut langkah Farhat Abbas, memanfaatkannya secara gratis untuk jadi pusat perhatian khalayak umum.
Farhat Abbas memang cerdik, andai di cerita Fabel, dia adalah Kancil yang bisa mengelabui hewan apa saja. Sedangkan pihak Ahmad Dani yang terpancing dengan kecerdikan Farhat Abbas, mereka pun ikut terdongkrak popularitasnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.