Mini Market Matikan Pasar Induk - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 31 Maret 2014

Mini Market Matikan Pasar Induk


Dulu namanya Batulicin; ibukota kecamatan dengan nama yang sama sekaligus nama desa. Setelah pemekaran Kabupaten Kotabaru di 2002, Batulicin menjadi ibukota Kabupaten Tanah Bumbu.

Kecamatan Batulicin pun kemudian dimekarkan menjadi Kecamatan Batulicin dan Kecamatan Simpang Empat yang dulunya merupakan desa dalam wilayah Kecamatan Batulicin yang berpenduduk lebih banyak berserta fasilitas umum yang juga lebih banyak tentunya.

Meski sudah ada pemekaran kecamatan, Simpang Empat yang kondisinya lebih ramai daripada Batulicin, namanya seolah tenggelam oleh nama Batulicin. Orang lebih tahu nama dan lebih suka menyebut nama Batulicin meski sedang berada di Simpang Empat.

Itulah sedikit gambaran mengenai Batulicin dan Simpang Empat di Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan.

Tulisan saya tidak bermaksud membahas profil lengkap Batulicin dan Simpang Empat, tapi yang terkait masalah pasar dan pedagang.
Di Simpang Empat yang menjadi pusat kegiatan ekonomi, terdapat satu pasar induk yang diberi nama Pusat Niaga Bersujud, sesuai dengan motto kabupaten “Bersujud”, Bersih, Syukur, Jujur dan Damai.


Bila kita mendengar dari namanya pasar induk, atau pusat niaga, tentu asumsi dan bayangan kita adalah satu tempat yang ramai, sangat ramai bahkan karena disana terpusat berbagai kegiatan terkait perdagangan, perbelanjaan dan transaksi antara penjual/pedagang dan pembeli.
Namun bayangan kita kali ini kurang tepat jika tak ingin disebut tidak tepat. Pasar Induk atau Pusat Niaga Bersujud di Simpang Empat, setiap harinya (kecuali Sabtu sore, Sabtu malam dan Minggu siang) tampak lengang dan sepi, sama sekali tak menampakkan kondisi sesuai namanya.


Kegiatan berjual beli di Batulicin, terutama di Simpang Empat, lebih banyak dilakukan di minimarket yang jumlahnya puluhan dan tampaknya akan terus bertambah.
Para pedagang yang membuka dan menggelar dagangan dan jualannya di Pasar Induk (lebih terkenal dengan sebutan Pasar Minggu), sudah lama mengeluhkan sepinya pembeli namun terpaksa memendam asa berharap tetap ada yang sudi mampir dan melirik barang jualan mereka.


Dari beberapa blok kumpulan kios yang berada di lokasi Pasar Induk, diantaranya tak sedikit yang tak berfungsi, tidak buka, karena sepinya pembeli.

Apa penyebab Pasar Induk sepi pembeli?

Menurut para pedagang sendiri adalah;
-Masih adanya beberapa pasar lain didalam wilayah yang sama dan berjarak tak terlalu jauh dari lokasi Pasar Induk.
-Keberadaan puluhan minimarket yang menyediakan segala kebutuhan pembeli.
-Keberadaan rumah toko (Ruko) yang jumlahnya juga cukup banyak di tepi jalan protokol, yang jualannya tak kalah dengan yang dijual di mini market apalagi di pasar tradisional.


Nah, dengan 3 faktor diatas tersebut saja sudah cukup membuat sepi Pasar Induk yang dihuni oleh para pedagang bermodal kecil, apalagi dengan rencana akan dibangunnya satu mall oleh seorang pengusaha lokal yang sangat kaya dari hasil tambang batubara.
Para pedagang di Pasar Induk Tanah Bumbu kini sedang dalam satu penantian bersiap tutup pintu kios jika Pemkab setempat terus memberi dan mengeluarkan ijin untuk Ruko, minimarket, maupun mall.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.