Foto Promosi Gratis dan Jembatan Madura - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 05 Maret 2014

Foto Promosi Gratis dan Jembatan Madura

Keinginan saya dan teman-teman untuk berfoto ria di jembatan Madura terpaksa batal. “Kalian tidak akan bisa berfoto di jembatan itu, karena para pengguna jembatan dilarang berhenti,” ungkap sopir taksi argo yang kami tumpangi.

Masih menurut sopir itu, di jembatan itu selalu standby para petugas polisi dari PJR (Patroli Jalan Raya) yang juga siap memberikan Tilang kepada tiap pengendara kendaraan bermotor yang berhenti di jembatan itu, atau melarang para pejalan kaki yang berlaku sama.

Kami yang datang jauh-jauh dari pulau ketiga terbesar di dunia ini, tentu saja sangat kecewa setelah mendengar ungkapan sopir tersebut. Dan kekecewaan kami ini rupanya dialami oleh si sopir. “Tak semestinya pemerintah melarang mereka yang bermaksud berfoto di jembatan itu sebagai kenang-kenangan bahwa telah pernah menginjakkan kaki di jembatan Madura. Jembatan itu mestinya tak cuma dijadikan sebagai prasarana transportasi, tapi sekaligus sebagai obyek wisata,” ungkap sopir itu lagi mencetuskan kekecewaannya sebagai bentuk solidaritas atas kekecewaan saya dan teman-teman.

foto : panoramio.com
Keinginan saya untuk berfoto di jembatan Madura ini muncul pagi itu saat sarapan di sebuah hotel. Dari balik kaca restoran tempat saya sarapan, saya melihat seorang pedagang asongan yang menawarkan kaos bergambarkan jembatan Madura kepada para tamu hotel tempat saya menginap. Dan keinginan ini saya sampaikan kepada 3 orang teman, mereka setuju dan sepakat untuk ke jembatan itu. Namun yaitu tadi, kami kecewa setelah mengetahui larangan untuk berfoto-foto disana.

Hal hampir serupa pernah saya alami saat saya dan kedua orang teman mengunjungi Bali pada 1995. Waktu itu kami berkunjung ke pantai Sanur, tepatnya memasuki area sebuah hotel yang terkenal disana. Seorang petugas Satpam (security) melarang kami masuk dan mengambil foto. Alasan petugas tersebut adalah, wisatawan lokal dilarang masuk ke area hotel itu. Alasan yang diajukan Satpam itu sangat melukai perasaan kami; saya dan kedua teman saya adalah warga negara Indonesia asli, bukan hasil naturalisasi di negeri ini, namun justru dilarang memasuki dan berfoto di area hotel itu. Padahal maksud kami hanya untuk sebagai sebuah kenang-kenangan yang akan kami perlihatkan dan bahan cerita kepada para kerabat, famili dan teman-teman di kampung. Bukankah ini merupakan sebuah bentuk promosi gratis bagi tempat wisata itu untuk menarik pengunjung lainnya datang kesana ?

Suatu tempat atau obyek terkenal di suatu daerah, menurut saya selalu mengundang keinginan dari para pengunjungnya untuk mengabadikan sebagai bentuk kenang-kenangan. Dan langkah paling tepat tentu saja dengan berfoto maupun mengambil foto tempat atau obyek kunjungan tersebut. Dengan melihat foto-foto tersebut, maka akan menimbulkan keinginan pula bagi yang melihatnya untuk berkunjung kesana. Nah, ini justru bentuk promosi gratis bagi tempat atau obyek tersebut.
Kalaulah cuma pulang hanya membawa kaos bergambar obyek atau tempat tertentu tanpa menunjukkan foto-foto diri disana, rasanya seolah percuma bila hanya bercerita tanpa dukungan bukti visual. Karena bahasa gambar atau foto akan lebih efektif menceritakan dirinya sendiri tanpa harus sepatah kata pun keluar dari mulut kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.