Ini Tempat Pelacuran - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Ini Tempat Pelacuran

Keberadaan lokasi pelacuran (bukan lokalisasi) di daerahku sudah hampir 3 dekade. Sejak daerahku masih berstatus kecamatan hingga kabupaten, tempat pelacuran tetap eksis, bahkan semakin meningkat para PSK yang mondok.

Upaya dan usaha Pemda setempat sudah sangat sering agar para PSK itu meninggalkan lokasi, tapi tetap saja setelah dipulangkan ke kampungnya, mereka kembali lagi. Apalagi dengan makin ramainya aktivitas penambangan batubara dan bijih besi, daerah saya menjadi target dan daya tarik oleh para PSK. Para pekerja tambang banyak yang membelanjakan uang gajinya ke tempat pelacuran. Upaya dengan melakukan publikasi serta sosialisasi terkait para penghuni lokasi pelacuran yang jumlahnya puluhan positif terinveksi virus HIV, tak menyurutkan langkah para PSK yang dating mengadu nasib, maupun para pemakai jasa para PSK.

Jarak lokasi pelacuran di daerahku cukup jauh dari pemukiman warga, berada di lereng gunung. Puluhan tempat mondok para PSK itu berupa rumah tinggal yang diperlengkapi ruangan tempat praktik, serta tempat memutar musik berupa mini pub. Menurut catatan Dinas Sosial setempat, terdapat sekitar 400-an PSK yang kebanyakan berasal dari pulau Jawa. Lokasi mereka ini layaknya sebuah pemukiman tersendiri yang terasing dari pemukiman warga.

Mereka biasanya pulang istirahat ke kampungnya saat minggu terakhir bulan puasa, karena di bulan suci itupun mereka tetap menerima dan melayani tamu.

Pemerintah Daerah setempat bukan tak pernah mengambil tindakan. Pernah lokasi ditutup, namun dampaknya malah para PSK itu berpraktik secara freelance di hotel, penginapan, maupun di rumah kos yang mereka kontrak yang berbaur dengan warga. Dan yang selalu terjadi mereka pun kembali berpraktik di lokasi semula bila situasi mulai mereka anggap kondusif.

Suatu kali aku sempat berbincang secara bergurau kepada salah seorang pejabat setempat yang tampaknya punya perhatian terhadap keberadaan lokasi pelacuran itu.

Aku katakan ke pejabat tersebut, keberadaan lokasi pelacuran berikut para pengunjungnya itu salah satunya disebabkan oleh lokasi yang jauh dan tersembunyi, serta ilegal. Menurutku bila saja Pemda setempat melegalisasi, menyediakan lokasi di tengah-tengah kota, namun dengan memberikan tulisan besar “ini tempat pelacuran” di 4 penjuru lokasi, maka aku katakan ke pejabat itu para calon pengunjung pasti mikir berkali-kali sebelum mendatangi tempat mesum itu. Karena tentu saja setiap orang yang akan berkunjung kesitu terlihat oleh banyak orang. (Dan ini bisa-bisanya aku yang mengarang alasan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.