Klub Jagoanku Kalah, Radio Jadi Korban - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 06 Maret 2014

Klub Jagoanku Kalah, Radio Jadi Korban

foto : bolaindo.com

Radio butut dibawah kolong tempat tidur itu kurapikan, kulap dari debu yang sekian lama menempel.
Setelah agak kelihatan bersih, kuperiksa baterei yang ada didalamnya, masih utuh, ada enam baterei.


Kuhidupkan radio butut tersebut. Terdengar suaranya, tak terlalu nyaring padahal tombol volume-nya sudah aku setel full. Kupikir pasti baterei-nya sudah tak kuat alias soak.
Aku pun pergi mencari bohlam senter berikut kabel untuk mengetes mengetahui power baterei-baterei itu.


Ternyata setelah kutes, hampir semua power baterei didalam radio butut itu lemah nyalanya.
Aku belingsatan mencari-cari baterei lain sebagai pengganti agar bisa menghidupkan radio dengan suara agak nyaring. Sore nanti aku ingin mendengar pertandingan sepekbola antara kesebelasan daerah kami, PS Barito Putra melawan Persib Bandung yang akan disiarkan secara langsung oleh RRI Banjarmasin.


Hari ini aku memang pas lagi apes. Selembar uang 20 ribuan satu-satunya yang kumiliki sudah kubelikan rokok. Untuk membeli baterei baru, tak cukup dengan uangku yang tersisa, apalagi kalau nanti aku kehabisan rokok.
Kulihat jam dinding, masih sekitar 2 jam lagi siaran pertandingan sepakbola itu disiarkan. Kupikir masih ada waktu untuk berburu baterei bekas.
Aku jadi teringat kios Bang Annur, kenalanku ini sehari-harinya adalah tukang servis dan perbaikan peralatan elektronik dari mulai radio, tape recorder, tivi, kulkas hingga dinamo dan kipas angin.


Aku pun pergi ke kios Bang Annur. Kebetulan orangnya sedang berada di kios. Aku ungkapkan maksud kedatanganku. Bang Annur menunjukkan tumpukan baterei bekas di pojok ruangan kiosnya yang sengaja tak ia buang ke bak sampah. “Ambil aja seberapa cukup,” ujar Bang Annur.
Aku pun berjongkok di depan tumpukan baterei itu sambil mengetesnya satu-satu dengan bohlam dan kabel yang memang kubawa dari rumah.


Sebanyak 12 baterei bekas yang masih lumayan power-nya aku dapatkan dan kubawa pulang. Sebanyak 6 baterei aku pasangkan ke radio, sisanya untuk cadangan.

Sore itu sambil menyiapkan segelas kopi, aku duduk di bangku yang terbuat dari bambu di halaman rumah yang berjarak sekitar 5 meter dari jalan umum.
Radio pun mulai aku hidupkan, agak lumayan nyaring suaranya. Beberapa pejalan kaki yang melintas di depanku tampak memandang dengan mimik muka heran. Aku cuek aja, terus mendengarkan radio sambil sesekali menyeruput kopi dan mengisap rokok.


Temanku satu kos, 2 orang tadi pagi berangkat ke Banjarmasin dengan menumpang bis. Mereka akan menyaksikan langsung pertandingan PS Barito Putra versus Persib di Stadion 17 Mei.
Sebetulnya mereka mau mengajakku, tapi karena aku sedang bokek dan mereka berdua juga punya ongkos pas-pasan untuk beli tiket dan transport pulang pergi, akhirnya aku pun tertinggal dengan radio butut.
Tak apa pikirku, dapat dengar suara penyiar dan komentatornya juga sudah bagus.


Pertandingan pun dimulai, aku konsentrasi mendengarkan radio. Suara kendaraan bermotor tak mempengaruhiku untuk tetap fokus ke siaran radio. Berkali-kali aku berteriak mendengar peluang yang gagal dijadikan gol oleh pemain PS Barito Putra. Apalagi aku mendengar penyiar menyuarakan pemain Yusub Luluporo menggiring bola ke arah gawang Persib, bukan main senang dan tegangnya aku. Atau mendengar penyelamatan bola ke arah gawang PS Barito Putra oleh bek Saiman.

Selama 2 kali 45 menit yang cukup menegangkan, akhirnya klub sepakbola jagoanku, jagoan seluruh warga Kalimantan Selatan, keok oleh Persib Bandung. Betapa kecewanya aku, kecewa seluruh warga daerah kami. Saking kecewanya aku, radio butut yang masih terdengar bunyinya itu, aku raih dan aku hempaskan ke tanah, hancurlah radio itu dengan baterei bekas yang berhamburan.
Aku tak terima kekalahan klub jagoanku. Aku termenung menerima kekalahan sambil memandangi bangkai radio butut itu. Padahal radio itu turut berjasa memberiku hiburan dan informasi sebelum kami bisa membeli tivi secara patungan di kos-kosan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.