Merokok Lebih Berbahaya daripada Menghisap Shabu? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 17 Maret 2014

Merokok Lebih Berbahaya daripada Menghisap Shabu?

Tak sedikit orang tidak menyukai, bahkan membenci apa saja yang terkait rokok. Namun kebanyakan orang hanya tahunya dan mengakui kegiatan merokok itu adalah mengisap tembakau yang dikemas dengan kertas dalam bentuk gilingan bulat panjang kemudian dibakar ujungnya, asapnya dihisap hingga masuk kedalam tubuh, lalu sisanya dihembuskan melalui hidung atau mulut atau melalui keduanya.

Padahal kalau ukurannya mengisap asap lalu dihembuskan melalui hidung atau mulut, berarti bukan mengisap tembakau saja, tapi juga yang sejenisnya seperti mengisap “sisha” dan Shabu.

Perihal merokok ini aku teringat seorang kenalan yang berkerja sebagai tenaga Paramedis, atau di kampung biasa dipanggil Mantri. Kenalanku ini tentu tak asal jadi Mantri bila tak menempuh pendidikan di bidang kesehatan. Yang artinya adalah, kenalanku yang Mantri itu tentu sangat mengetahui masalah-masalah kesehatan termasuk bahaya merokok.

Tapi yang mengherankan, kenalanku yang Mantri itu justru merupakan seorang perokok berat (heavy smoker). Ia sudah terlebih dulu merokok setelah minum air putih sebelum mandi di pagi hari. Beberapa batang rokok pasti ia habiskan sebelum mandi dan berangkat berkerja. Tak kurang dalam sehari semalam ia menghabiskan 3 bungkus rokok. Jika kita ambil rata-rata sebungkus rokok berharga 10 ribu rupiah, dikalikan 3 bungkus, berarti dalam seharinya ia mesti mengeluarkan uang sebesar 30 ribu, yang bila diakumulasikan selama sebulan (rata-rata 30 hari), maka ongkos rokoknya saja sudah sebesar 900 ribu rupiah, secara kasarnya ia telah membakar 9 lembar uang ratusan ribu kertas setiap bulannya.

Itu tentang kenalanku yang seorang Mantri itu.
Lain lagi dengan kenalanku yang lain, lebih tepatnya rekan kerja. Ia tidak suka merokok, namun ia tak menolak menghisap “shisa” yang sering disebut sebagai rokoknya orang-orang Arab. Bahkan rekanku tersebut tak jarang menghisap Shabu dengan teman-temannya.
Alasannya menghisap Shisa itu adalah bukan termasuk rokok konvensional. Sedangkan menghisap Shabu ia anggap lebih tak berbahaya daripada menghisap rokok. Terkait alasannya itu aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Dalam hati aku hanya menggumam up to you lah…….. Padahal setahuku untuk menghisap Shabu, per paket seharga 300 ribu, yang hanya dinikmati dalam beberapa hisapan. Sedangkan jika dibelikan rokok, uang sebesar itu bisa mendapatkan lebih dari 2 slop rokok atau lebih dari 20 bungkus rokok.


Nah, ini lain lagi ceritanya. Saat aku berkerja di sebuah perusahaan di bidang pertambangan batubara, seorang rekan kerjaku yang sama sekali tak pernah merokok seumur hidupnya, ternyata hasil pemeriksaan kesehatan oleh pihak perusahaan menyatakan paru-parunya rusak. Bukti paru-paru rusak tersebut bahkan dilengkapi dengan foto rontgen. Sedangkan para rekan yang perokok malah hasil pemeriksaan kesehatan mereka lebih bagus. Terkait masalah ini terdapat banyak prediksi kesehatan oleh rekan-rekan. Aku yang tak mengerti masalah kesehatan hanya bisa diam tanpa tahu jawabannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.