Mitos Kucing Mengalahkan Logika - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 08 Maret 2014

Mitos Kucing Mengalahkan Logika

“Kok mengerem mendadak sih ?” Tegurku kaget ke teman yang sedang menyetir mobil. Keruan saja tubuhku jadi terbanting cukup keras ke sandaran jok. Padahal aku tadinya sedang asyik menikmati pemandangan kebun sawit dan karet sepanjang jalan yang kami lewati.
“Ada kucing melintas, hampir ketabrak,” sahut temanku dengan muka agak pucat.
“Tabrak saja, kan nggak bakal ada yang nuntut apalagi dapat hukuman,” ujarku jengkel.
“Iya sih, tapi kita bisa kualat, kalau ketabrak sampai mati, bisa-bisa kita kena tulah, kucing itu kan hewan piaraan dan kesayangan Nabi,” tangkis temanku membela diri.

Kupikir biar aku ngotot mengatakan semua itu cuma mitos, kupastikan perdebatan kami tak akan mudah berakhir. Karena masing-masing akan tetap pada mempertahankan keyakinan.
Di daerahku tak sedikit tak sedikit orang, meski tak sedikit pula yang tergolong berpendidikan, tetap saja masih percaya mitos. Tak jarang nyawa seekor kucing lebih dihargai daripada nyawa manusia yang sedang menyeberang. Seorang manusia yang hampir tertabrak, tak jarang pula justru yang hampir menabrak itu sewot dan memaki-maki.

Mitos terhadap kucing ini masih melekat pada banyak orang. Kucing yang sedang menyeberang jalan, sangat ditakuti oleh para pengendara kendaraan bermotor bila sampai tertabrak dan mati. Mereka beranggapan mencelakai kucing akan membawa petaka. Sehingga sudah dapat dipastikan menghindari kucing merupakan hal yang wajib dilakukan. Kalaupun tanpa sengaja tertabrak kucing dan mati, tak jarang ada yang melakukan ritual tertentu agar dapat terhindar dari celaka.
Biasanya mereka yang usai menabrak kucing dan mati, akan melakukan ritual dengan mencari gedebok pisang. Bangkai kucing dipukul-pukul pelan dengan bagian gedebok pisang, lalu gedebok yang dipakai untuk memukul gedebok tersebut dipukulkan ke bagian dari kendaraan bermotor yang menabrak kucing itu.

Kucing kebanyakan hidup secara liar di berbagai tempat. Sehingga kucing-kucing liar ini tak ada harganya, kecuali memang diketahui kucing piaraan yang lepas kandang, hehe.....

Di pedalaman di daerahku, di pemukiman etnis Dayak, anjing lebih diminati untuk dipelihari ketimbang kucing. Karena anjing dapat dilatih untuk berburu hewan hutan seperti babi hutan (celeng), rusa/kijang maupun pelanduk. Menabrak anjing di pemukiman etnis Dayak ini, berarti bakal mengganti rugi hewan piaraan tersebut. Jadi anjing lebih berharga daripada kucing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.