Modal Duit Dari Orang Asli kampung - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Modal Duit Dari Orang Asli kampung

Gurdan hanyalah anak seorang Kepala Desa di kampungnya. Tapi ayah Gurdan yang bernama Badra, selalu mencari peluang mengumpulkan lahan atau tanah yang belum bertuan. Tak heran bila Badra yang cuma Kepala Desa itu memiliki ratusan hektar tanah yang hanya dilengkapi dokumen kepemilikan berupa surat pernyataan hak milik, yang ia tanda tangani serta ia stempel sendiri.

Adanya kegiatan penambangan batubara yang masuk di wilayah kampungnya, Badra ketiban rejeki besar, tanahnya ternyata memiliki cadangan deposit batubara yang cukup besar. Badra tak serta merta setuju saja bila lahan miliknya ditambang oleh pihak perusahaan. Ia hanya bersedia bila setiap ton batubara yang digali dan diambil dari dalam perut bumi lahannya itu dibayar oleh perusahaan sebesar Rp. 10 ribu per metrik ton. Bayangkan betapa besar dan betapa banyak uang yang masuk ke kocek Badra.

Singkatnya keluarga Badra tak lagi memikirkan mesti bekerja susah-susah, uang terus mengalir tanpa henti, dan keluarga Badra dalam waktu singkat sudah berubah menjadi OKB alias Orang Kaya Baru di kampungnya mengalahkan kehidupan Camat.

Kesejahteraan dan kemakmuran keluarga Badra tentu saja secara langsung menaikkan pamor Gurdan selaku anak sulung di keluarga itu. Apapun yang menjadi permintaan Gurdan selalu dituruti ayahnya. Namun meski sudah bergelimang uang, Gurdan yang cuma sempat menamatkan SMA itu, tak lantas lupa diri ikut larut dalam kehidupan remaja yang sudah banyak rusak ; mabuk, maupun mengkonsumsi narkoba.

Gurdan, dengan uang ayahnya memanfaatkannya bergaul dengan orang-orang yang jika berbicara berbau siasat alias berpolitik. Salah satu parpol berlogo singa mengajak Gurdan bergabung sebagai kader. Meskipun Gurdan harus merogoh kocek yang cukup dalam, Gurdan bersedia bergabung dengan Partai Singa Garang dengan janji akan diusung untuk merebut kursi anggota DPRD Kabupaten setempat.

Atas dukungan penuh dari ayahnya, Gurdan pun mulai mengatur siasat, membangun pencitraan diri dan mencari dukungan para tokoh kampung dan luar kampung agar dapat terpilih menjadi Wakil Rakyat.
Ratusan stiker, spanduk, bahkan baliho yang sudah Gurdan cetak dan persiapkan pun mulai disebar kemana-mana. “Asli Orang Kampung”, adalah motto yang dimunculkan tim sukses Gurdan, ini mengingat banyaknya orang pendatang di kampung itu yang sudah menetap sejak datuk mereka.

Dalam pikiran Gurdan, dengan isu Asli orang kampung, warga mayoritas pasti akan memberikan suaranya dan memilihnya. Apalagi dengan memperkerjakan kelompok pemenangan dari luar kampung yang sudah terbukti mampu memenangkan pemilihan Bupati.
Gurdan tak ingin kerja setengah-setengah. Ia sudah mempersiapkan lumayan banyak dana untuk meraih kursi di DPRD. Dalam kesempatan mengunjungi para tokoh kampung maupun ulama, Gurdan tak pernah lupa menyelipkan amplop tebal berikut sembako. Begitupun kepada warga, Gurdan royal membagi rejeki yang diperoleh keluarganya. “Ditambah nanti bagi-bagi uang menjelang saat pemilihan, pasti warga akan memilihku,” bathin Gurdan.

Dan akhirnya Gurdan memang berhasil memperoleh banyak suara yang mengantarnya melenggang ke gedung DPRD Kabupaten.

Beberapa bulan setelah keluar masuk kantornya di gedung DPRD, rupanya Gurdan kepincut ingin menduduki kursi jabatan Bupati di kabupatennya. Keinginannya tersebut didudukung oleh banyak temannya baik sesama anggota partainya, rekan kerjanya di DPRD, serta beberapa pengusaha yang bahkan bersedia mendanainya. Apalagi Bupati yang sedang menjabat tak lagi boleh mencalonkan diri, disamping itu si Bupati mencalon Gubernur.

Gurdan tak ambil peduli dengan berbagai selentingan yang mengatakan dirinya cuma pantas jadi pemimpin grup pemain domino. Yang mengatakan dirinya cuma modal menghambur duit pun ia acuhkan saja. “Mereka yang menyebar isu cuma iri saja karena tak punya banyak duit,” ujar Gurdan menepis isu kurang sedap itu.

Warga di kampung Gurdan senang saja menerima pemberian apapun dari Calon Bupati. “Terima saja duitnya, urusan memilih atau tidak memilih dia kan nanti di bilik suara aja,” ungkap seorang warga menggurui warga lainnya. “Ya iyalah, kita kan diberi, bukan minta,” sahut lainnya.

Sikap warga yang seperti itu bukan tak diketahui Gurdan bersama tim suksesnya. Mereka sudah tak asing dengan sikap pemilih busuk sebagian warga itu. “Yang penting kita perlu menjaga para pendukung fanatik jangan sampai mereka terpengaruh menjadi pemilih busuk,” jelas Ketua Tim Sukses yang selalu rajin keliling pelosok desa dan kecamatan.

Perasaan Gurdan semakin berbunga bila membayangkan dirinya terpilih dan menjabat sebagai Bupati kelak. Pikirnya, semua potensi SDA milik daerahnya akan mudah ia kelola sesukanya. Ia pun akan membuat peraturan daerah yang menguntungkan guna menjaga kepentingan bagi daerahnya.

Gurdan, anak Kepala Desa itu bakal bertarung dengan calon lainnya yang diantaranya terdapat yang sudah berpengalaman mengurus dan menata daerah. Tapi Gurdan tak peduli, semua dapat dikondisikan dan diselesaikan dengan uang, dan lagi-lagi uang ! Di depan gapura di tiap pelosok kampung tampak baliho besar bergambar sosok Gurdan yang sedang menatap ke depan dengan sorot mata tajam dengan tulisan, “Mohon Do’a Restu, Gurdan Anak Badra Kepala Desa, Asli Orang Kampung, Siap Membangun Kampung Untuk Semua.” Di tengah kota dekat lokasi pasar, terpasang pula baliho lainnya bertuliskan, “Orang Kampung yang Mandiri dan Peduli, Siap memimpin.” Tak cuma sampai disini pembangun citra sang calon, pada tiap pagi di beberapa stasiun yang terdapat di ibukota kabupaten terdengar, “Saya Gurdan anaknya Badra Kepala Desa akan mensejahterakan dan memakmurkan daerah bila terpilih menjadi Bupati periode mendatang. Dukung dan pilih saya yang mandiri serta peduli dengan perbaikan daerah.” Suara Gurdan yang keluar dari radio itu diperdengarkan berkali-kali di waktu pagi, tengah hari, petang dan malam. Konon Gurdan sudah menghabiskan 3/4 uang ayahnya untuk dapat terpilih menjadi Bupati. Kita do’akan saja semoga Gurdan terpilih. Dan bila tidak terpilih pun, kita do’akan dia semoga tidak terbalik memasang baju, celana, dan sepatu, serta tak tertawa sendiri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.