Mudahnya Berganti Agama - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 30 Maret 2014

Mudahnya Berganti Agama

Lama tak melewati depan salon kecantikan itu semenjak kami tak lagi tinggal dekat situ.
Mulanya kupikir salon tersebut sudah beralih pengelola atau pemilik, karena nama salon pun sudah berganti pula. Dulu nama yang tertulis di papan “plang” dan kaca depan jendela; nama pemilik sekaligus pengelolanya.


Sebut saja nama salon sekaligus pemiliknya adalah Ita, ya Salon Ita. Pemiliknya seorang wanita muda, berumur belum sampai 25 tahun, lumayan cantik, maklum tiap hari bergelut di bidang kecantikan dan mempercantik diri.
Kini nama salon sudah berganti menjadi; sebut saja Salon Angel.


Ganti agama ganti nama.

“Si Ita itu ganti agama, namanya diganti habis dibaptis, makanya nama salonnya juga ikut diganti,” ungkap istriku yang memang kenal baik dengan si Ita, eh si Angel.

Menurut cerita istriku lagi, si Ita yang berasal dari keluarga Islam itu, ganti agama karena mengikuti agama suaminya yang berasal dari salah satu etnis di Sumatera Utara. Kini si Ita menjadi Angel dengan tambahan nama keluarga atau nama fam di belakang namanya, pakai nama fam suaminya.

“Sekarang Angel tampak religius; pasang kalung salib lumayan besar di leher. Bicaranya pun ikut berubah seperti seorang biarawati,” kata istriku.

Berganti agamanya si Ita alias Angel, mengakibatkan ibunya yang sudah bersatus hajjah, tak mengakuinya sebagai anak. Begitupun keluarganya yang lain; keluarga besarnya mengucilkannya.


Hampir setahun sudah percakapan aku dan istriku itu mengenai si Angel alias Ita. Aku pun meski sempat beberapa kali melewati depan salon itu, namun malas memperhatikannya.
Tiba-tiba istriku membicarakan masalah salon itu dan pemiliknya lagi.


“Tuh salon Angel ganti nama lagi, namanya agak seperti nama berbau Bali. Angel ganti agama lagi; ikut agama suami barunya yang berasal dari Bali,” cetus istriku memancing keingin tahuanku.

Menurut istriku, ia sempat mampir ke salon itu untuk memotong rambutnya. Dari situlah ia dapat informasi langsung dari sumber aslinya (seperti wartawan aja, hehe……..).
Setelah mengalami keguguran, Angel bercerai dari suaminya yang berasal dari Sumatera Utara itu. Suaminya yang pelaut itu selain jarang pulang, juga ketahuan sering selingkuh.


Angel kemudian menikah lagi dengan seorang PNS yang jadi langganan salonnya. Mungkin supaya mudah menikah dengan pujaan hatinya itu, Angel memilih ikut agama suaminya, ganti agama sekaligus ganti nama lagi, dan…..ganti nama salon pula.

Menurutku si Ita, Angel, atau siapapun namanya kini, sangat antik dan unik (memangnya barang, hehe…..).
Yah, manusia seperti itu tampaknya sangat langka di negeri ini. Tanpa banyak pertimbangan terkait masalah agama atau keyakinan; dengan mudah ganti-ganti sesuai keinginan dan keperluan.


Beberapa hari lalu istriku bertanya, “bagaimana hukumnya jika seorang mantan penganut Islam kembali lagi memeluk Islam setelah beberapa kali berganti agama ?”

“Memangnya kamu bertanya itu buat apa ?” Aku balik bertanya.

“Si Ita, Angel……..,” jawab istriku terhenti.

Menurut istriku lagi, kenalannya, mantan tetangga kami itu, bercerai lagi dari suaminya yang PNS. Lalu…….kini kembali menganut Islam setelah sempat barganti-ganti agama; berganti suami, berganti nama, termasuk ganti nama salon.

Mendengar pertanyaan istriku, aku hanya bisa geleng-geleng kepala. Menggeleng karena tak tahu jawabannya. Menggeleng karena malas mengurusi masalah orang lain. Menggeleng karena heran………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.