Nasi Bungkus untuk Guru - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Jumat, 28 Maret 2014

Nasi Bungkus untuk Guru


Meski masih mengantuk, apalagi cuaca diluar lumayan dingin, aku memaksakan diri untuk bangun di subuh itu.
Ibu tampaknya sudah lama bangun. Itu bisa kulihat dari pakaian dan dandanannya yang sudah rapi, meski ia sedang sibuk di dapur mempersiapkan masakan.


“Cepat mandi, ibu sudah siapkan air hangat sejak tadi,” seru ibu yang mengetahui aku sudah bangun.

Aku melangkah ke kamar mandi yang lebih tepatnya adalah ruangan yang terpisah dari ruang dapur, tak berdinding karena berada diluar rumah.

Usai mandi dan berpakaian rapi, aku mendatangi ibu yang masih tampak sibuk menyiapkan makanan. Selain menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga, ibu juga menyiapkan nasi bungkus untuk kubawa ke sekolah hari ini.

Kali ini aku tak memakai seragam sekolah. Tiap pembagian rapor, kami dibebaskan untuk tak memakai seragam sekolah. Hari ini aku memakai pakaian yang masih baru bekas digunakan di hari lebaran lalu.

“Ini yang pengikat karetnya 2 untuk kamu, yang karetnya 1 untuk guru,” jelas ibu sambil memasukkan kedua nasi bungkus kedalam tas yang terbuat dari anyaman sejenis tanaman rumput.

Hari ini aku berserta seluruh murid di sekolah kami, dari kelas I hingga kelas VI SD akan menerima rapor kwartal I.
Sudah menjadi kebiasaan sejak lama, entah sejak kapan, setiap hari pembagian rapor, tiap murid akan membawa makanan berupa nasi bungkus untuk dimakan usai pembagian rapor.


“Lauknya ibu kasih 2 macam; ada telur rebus dan ikan goreng bumbu manis pedas,” kata ibu.

Saat-saat pembagian rapor merupakan kegembiaraan tersendiri bagi kami khas anak-anak. Masing-masing kami akan memperlihatkan lauk pauk nasi bungkus yang kami bawa, bahkan tak jarang saling bertukar.

Di kelas III SD, kelas kami; terdapat 30 murid. Tiap murid akan memberikan nasi bungkus bawaannya masing-masing sebungkus kepada guru kelas. Jadinya guru kelas kami akan mendapatkan 30 bungkus nasi dengan beraneka ragam lauk pauk. Begitupun guru di kelas lain akan memperoleh banyak nasi bungkus dari para muridnya di hari itu.

Aku tak tahu persis, dan memang tak pernah mencari tahu dikemanakan nasi bungkus yang kami “setor” ke guru kelas itu. Namun kupikir paling-paling dibawa pulang untuk dibagikan kepada anggota keluarga sang guru.

Perihal kebiasaan membawa nasi bungkus ini, berbeda jika waktu pembagian rapor untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Nasi bungkus yang dibawa akan bertambah, bukan lagi 2 bungkus, bisa 3 sampai 4 bungkus. Karena selain untuk dimakan oleh murid, diberikan ke guru kelas, juga untuk makan orangtua/wali murid, serta untuk para undangan seperti tokoh masyarakat dan pejabat setempat.
Adapun untuk pembagian rapor kwartal I dan II, orangtua/wali murid tak diharuskan datang ke sekolah, rapor cukup diberikan ke masing-masing murid.


Dengan riang aku berserta beberapa teman menyusuri jalan tanah setapak menuju ke sekolah kami. Belum ada satu jalan pun di kampung kami kala itu di tahun 1970-an yang beraspal. Jangankan mobil, sepeda motor saja cuma ada 1 unit yang menjadi inventaris Mantri yang bertugas di Balai Pengobatan (Puskesmas belum ada). Pak Camat dan Kepala Desa pergi pulang kantor menggunakan sepeda, kami menyebutnya sepeda onta, karena bentuknya mirip-mirip lekukan leher binatang padang pasir itu.

Lumayan jauh jarak ke sekolah kami, melewati semak belukar di kanan kiri jalan. Namun karena banyak teman, sambil bercanda sepanjang jalan, lelah tak terasa, sampailah ke sekolah.
Perasaan berdebar di dada ingin mengetahui hasil dari nilai pelajaran di rapor, menghinggapi masing-masing murid. Berharap akan dapat kebanggaan bila nilai tinggi, serta siap-siap dapat petuah hingga kemarahan dari orangtua jika memperoleh nilai yang buruk.


Terkait nilai di rapor, berpengaruh juga terhadap nasi bungkus. Jika dapat nilai bagus, makan akan lahap. Sebaliknya yang mendapat nilai buruk, salah-salah nasi bungkus tak disentuh, atau diberikan kepada teman lainnya.

Nasi bungkus di hari pembagian rapor, tak sekedar menjadi kenangan kami kini dan kegembiraan usai menerima rapor kala itu. Terdapat nilai yang tersimpan dibaliknya; nilai kebersamaan dan kedekatan antara murid dan gurunya, serta orangtua/wali murid.
Kini tak ada lagi nasi bungkus untuk guru. Era itu sudah lama sekali bergeser. Kalaupun masih ada dan dipertahankan, bukan nasi bungkus yang dimasak sendiri oleh masing-masing ibu si murid, tapi nasi kotak yang dibeli di rumah makan, bahkan dari restoran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.