Polisi Memang Diajari Berbisnis - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 30 Maret 2014

Polisi Memang Diajari Berbisnis

Takjub mengetahui dari banyak media; terdapat seorang anggota Polri berpangkat Bintara Tinggi, Aiptu Labora Sitorus memiliki rekening senilai Rp 1,5 triliun, fantastis.

Jika dibandingkan dengan APBD tahun 2013 kabupaten dimana aku bertempat tinggal; Kabupaten Tanah Bumbu Propinsi Kalimantan Selatan, masih lebih banyak duit Aiptu Labora Sitorus. Karena APBD Kabupaten Tanah Bumbu tahun 2013 hanya sebesar Rp 1,216 triliun.

Berbisnis lalu kaya; wajar.

Anggota polisi berbisnis di tempat ia bertugas, bukanlah rahasia. Tak peduli apakah pangkatnya cuma setingkat Tamtama hingga berbintang di bahu. Kita juga pasti memiliki asumsi jika anggota polisi berbisnis tentu akan berjalan tanpa banyak hambatan. Karena orang lain pasti berpikir banyak kali jika bermaksud main-main apalagi mau menjegalnya.

Berbisnis selama bertahun-tahun kemudian menjadi kaya; adalah hal yang wajar dan masuk akal. Karena sekian lama berusaha dengan berbagai tantangan dan kendala yang dilalui sehingga menjadi besar.
Nah, bagaimana jika seorang anggota polisi yang tak memiliki bisnis apapun, namun ia tampak kaya; naik mobil mewah, dan memiliki rumah lumayan besar ? Lalu jawabannya; karena mendapat dan menjual warisan keluarga, atau memang keturunan orang kaya, atau….semuanya diperoleh dari membeli menyicil, mengangsur, kredit ? Apakah kita dengan mudahnya bisa percaya ?


Anggota Polisi memang diajari berbisnis.

Siapa bilang anggota kepolisian tidak boleh berbisnis ?
Teorinya memang tidak boleh, tapi pada praktik dan kenyataannya mereka tetap berbisnis. Bahkan sebetulnya mereka diajari berbisnis. Lalu siapa yang mengajari berbisnis ?
Dimana-mana daerah dipastikan terdapat yang namanya Primer Koperasi Kepolisian (Primkopol) di tingkat Polres, terus ada pula Pusat Koperasi Kepolisian Daerah (Puskoppolda) di tingkat Polda, serta Puskoppol (Pusat Koperasi Kepolisian) yang menjadi induk semua koperasi tersebut.


Siapapun tahu bila yang namanya koperasi itu merupakan badan atau lembaga usaha yang tujuannya meraih keuntungan (profitable) maupun profit oriented. Yang menjalankan koperasi kepolisian itu siapa lagi kalau bukan anggota kepolisian. Tak sedikit bisnis pribadi anggota kepolisian yang dimulai dari keterlibatannya ikut mengurusi koperasi.

Koperasi milik kepolisian yang katanya bertujuan untuk menyejahterakan para anggotanya, tentu berbeda dari koperasi pada umumnya. Mereka memiliki “trade mark” yang sangat meyakinkan karena memuat embel-embel institusi penegak hukum. Lagipula siapa yang berani menolak koperasi mereka jika ingin ikut “bermain” di bidang usaha yang cukup “basah” ?

Perlu beking untuk jadi besar.

Jangankan orang biasa/umum dalam berbisnis, anggota polisi pun perlu beking agar bisnisnya berjalan mulus. Soal beking itu apakah atasanya langsung dimana ia bertugas, atau mendapat beking dari para petinggi.

Terasa sangat keterlaluan jika terdapat anggota polisi yang berbisnis selama bertahun-tahun sehingga menjadi kaya; baru diketahui oleh para anggota polisi lainnya. Karena di kepolisian itu terdapat berbagai seksi dan satuan, utamanya satuan intelijen.

Perkara anggota polisi yang berbisnis dan menjadi kaya; juga banyak di daerahku. Hanya saja kemungkinan mereka belum sebesar Aiptu Labora Sitorus. Dan juga antara mereka dengan para bekingnya belum bermasalah.
Bisnis yang dijalankan oleh para “oknum” anggota polisi di daerahku beragam; menambang batubara, penyuplai BBM, trading batubara, bisnis bidang perkayuan, bahkan “bisik-bisik” warga; ada yang bisnis pil koplo dan pengedar Narkoba.


Penampilan mereka yang berbisnis ini tentu saja mentereng; turun naik mobil mewah, dan bertempat tinggal di rumah yang tergolong mewah pula. Pangkat mereka juga kebanyakan Bintara Tinggi seperti halnya Aiptu Labora Sitorus.

Hebat.
Aku katakan hebat karena hanya berpangkat Bintara Tinggi namun bisa memiliki mobil seperti; Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, Toyota Land Cruiser, Toyota Hi Lux Double Cabin, Mitsubishi Triton Double Cabin, dan Jeep Rubicorn. Bahkan diantaranya ada pula yang memiliki motor besar yang harganya ratusan juta seperti; Ducati dan KTM.


Aku berharap suatu hari nanti ada PPATK yang datang ke daerahku, menelisik rekening para oknum polisi tersebut. Harapanku ini tidak saja di daerahku, PPATK menelisik ke seluruh seantero negeri ini, terutama rekening para anggota Kepolisian. Karena Kepolisian merupakan ujung tombak penegakan hukum (law emporcement). Bagaimana mungkin ingin membersihkan lantai kotor bila yang digunakan sapu yang kotor pula; bukan menjadi bersih, tapi malah menambah kotor.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.