Sesama Orang Indonesia Pakai Penerjemah - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Sesama Orang Indonesia Pakai Penerjemah

Jika membicarakan bahasa Indonesia, saya jadi teringat 2 orang teman sekerja saya saat berkerja di perusahaan di tahun 1990-an.
Di awal tahun 1990-an saya sempat berkerja di sebuah perusahaan pertambangan batubara terbesar di daerah kami. Bersama 9 rekan lainnya saya ditempatkan pada sebuah divisi yang menangani pekerjaan perawatan dan perbaikan armada angkut di laut; tongkang dan kapal tarik (tugboat). Dalam sebuah tim yang terdiri dari 10 orang itu, kami berasal dari latar belakang etnis yang berbeda. Saya dan 2 rekan lainnya berasal dari etnis yang sama. Selain itu beberapa pengawas kami, atau istilah di perusahaan disebut Foreman, berasal dari etnis di pulau Jawa, dan bahkan terdapat yang dari Australia.



Salah seorang dari rekan kerja saya sesama etnis, sebut saja namanya Syahrudin, selalu menyusahkan saya jika berkomunikasi dengan para pengawas. Rekan kerja yang hanya tamatan SMP ini tak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia. Ia selalu berbicara dalam bahasa daerah. Dan ia tak perduli apakah lawan bicaranya mengerti atau tidak, ia tetap berbahasa daerah, sehingga komunikasi pun menjadi tidak lancar alias miskomunikasi.

Nah, untuk itu saya selalu diminta menjadi semacam penerjemah oleh para pengawas kami jika ia berkomunikasi dengan rekan kerja tersebut. Ini tentu sangat mengganggu pekerjaan saya. Sudah sering pula saya sarankan agar ia belajar berbahasa Indonesia, namun saran saya tak ia hiraukan. Malah jawabannya diluar dugaan saya, “tidak penting berbahasa Indonesia, yang lebih penting itu bahasa kita jangan sampai punah tergusur oleh bahasa lain.”
Dan menurut rekan saya itu, mereka yang datang dan berkerja di daerah itulah yang mesti mempelajari dan berbahasa daerah, bukan sebaliknya kita yang menanggalkan bahasa daerah.


Kejadian seperti itu kembali berlanjut ketika saya berkerja di sebuah perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) di pertengahan tahun 1990-an setelah berhenti dari perusahaan pertambangan. Disini kembali saya menemukan seorang rekan kerja sesama etnis yang tak kalah dari sebelumnya.
Sebut saja namanya Fathur. Rekan saya ini tamatan STM di ibukota propinsi. Berbeda dengan rekan saya sebelumnya, Fathur ini mengerti dan sangat paham bahasa Indonesia. Namun ia tetap bersikukuh tak menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang lain.


Menurut rekan saya itu, bahasa merupakan identitas dan ciri pribadi. Ia pun mencontohkan orang-orang Jepang yang lebih mengutamakan bahasa mereka daripada bahasa lain. Ia pun bertekad untuk tetap menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi dengan siapapun. Prinsipnya hampir sama dengan rekan kerja sebelumnya, “mereka yang harus belajar dan berbicara dalam bahasa kita,” tegasnya.

Akibat prinsip dan ulah rekan kerja itu, maka kembali saya yang diminta menjadi semacam penerjemah jika berkomunikasi dengannya. Beberapa kepala divisi dan departemen di perusahaan HTI tempat kami berkerja itu berasal dari pulau Jawa dan Sumatera, yang tak mengerti bahasa etnis kami di Kalimantan. “Aneh juga, sesama orang Indonesia pakai penerjemah untuk berkomunikasi,” sindirku kepada rekan tersebut.
Namun apa hendak dikata, itulah prinsip, ingin berbeda dari orang lain, meskipun harus menyulitkan orang-orang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.