Siapa Bilang Suku Banjar Tak Bisa Sebut O, Itu Buhung ! - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Siapa Bilang Suku Banjar Tak Bisa Sebut O, Itu Buhung !

Indonesia yang terdiri dari bermacam ragam suku dan etnis, merupakan kekayaan budaya yang tergolong unik. Tiap suku dan etnis masing-masing memiliki sendiri bahasa pengantar pergaulan (mother tounge) dalam berinteraksi sosial baik dengan sesamanya maupun dengan yang bukan sukunya. Masalahnya lagi meski sudah ada bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia, namun tak setiap orang nyaman menggunakannya bila saling bertemu dengan orang yang memiliki latar belakang suku dan bahasa ibu yang sama. Bahasa suku maupun bahasa etnis tetap masih nyaman dan relevan digunakan diluar kebiasaan resmi, atau dengan anggota masyarakat berbeda suku dan etnis di suatu komunitas yang umumnya disebut pendatang.

Bila berbicara menyangkut bahasa, maka berarti juga termasuk abjad, aksara, huruf dan pengucapan. Kita ketahui bersama abjad terdiri dari huruf A sampai Z. Namun saya yakin tak seluruh bahasa yang terdapat di dunia ini yang menggunakanseluruhnya A sampai Z dalam tiap pengucapan dan penulisan bahasanya.

Okelah kalau begitu, kita batasi saja membicarakan bahasa beberapa suku di Indonesia. Misalnya bahasa Jawa, lebih banyak menggunakan huruf vokal O baik dalam percakapan maupun dalam penulisan. Makanya bila seseorang menggunakan mesin ketik manual untuk menulis dalam bahasa Jawa, dapat dipastikan tuts yang bertanda huruf O lebih dulu lecet atau cepat pudar. Sebaliknya bahasa Sunda malah lebih banyak menggunakan huruf vokal A, dan bahasa Bali mengambil jatah huruf vokal E.

Ada pula bahasa suku yang amat jarang menggunakan huruf konsonan W, contohnya bahasa Madura. Sebuah daerah di Jawa Timur yang bernama Bondowoso akan berubah namanya manakala disebut dalam bahasa Madura, yaitu menjadi Bendebeseh, sebutan “orang jawa” berubah jadi “oreng jebeh”, bahkan konsonan Y pun diganti menjadi J, misalnya kata “Surabaya” berubah jadi “Sorabejeh”, kata “boyo” yang artinya buaya akan menjadi “bejeh”.

foto : melayuonline.com

Kemudian terdapat bahasa suku yang banyak menggunakan huruf konsonan Q, yaitu bahasa Lombok (untuk contohnya silakan Tanya ke orang Lombok :)).
Karena sehari-hari saya lebih banyak berbicara dalam bahasa suku Banjar (suku mayoritas di Propinsi Kalsel), maka lebih panjang lebar saya akan bicara tentang bahasa suku ini (hitung-hitung promosi gratis :)).

Kosa kata dalam bahasa suku Banjar diambil dari kosa kata yang dari berbagai bahasa baik di Indonesia maupun bahasa Mancanegara , misalnya untuk menyebut “celana” adalah “salawar” yang dalam bahasa Melayu disebuat “seluar”, mungkin karena memakainya diluar :).

Ini beberapa contoh kosa kata comotan lainnya ; iwak = ikan, uyah = garam, salikur = duapuluh satu, salawi = duapuluh lima (dari bhs Jawa), pamali = tabu, kulawarga = keluarga (bhs Sunda), bakamih = berkemih/kencing (bhs Melayu), gubir = besar (bhs Spanyol, gober), apdal = lebih baik, bakda = sesudah (bhs Arab), kulir = malas (kemungkinan dari kata “cooler”, bhs Inggris), satrat = jalan (bhs Belanda, straat), dan banyak lagi yang lainnya (seperti penggalan syair lagu Bang H. Rhoma Irama :)).

Namun yang jelas kebanyakan kosa kata bahasa Banjar itu berasal dari bahasa Indonesia. Hanya saja biasanya ada beberapa huruf vokal yang dirubah, karena bahasa Banjar tak menggunakan huruf vokal E dan O. Perihal vokal O ini mereka menyebutnya sebagai O bulat, sedangkan vokal U disebut O pecah, ini untuk membedakan antara vocal O dengan U.
Sedangkan vocal E yang terdapat pada kosa kata bahasa yang akan dicomot, diganti dengan vocal I atau A.

Untuk contoh penggantian vokal tersebut sebagai berikut ; botol berubah jadi “butul”, kesana jadi “kasana”, kerupuk > karupuk, sepeda > sapida, sepeda motor > sapida mutur, mobil > mubil, mesin > masin, bohong > buhung, pentol > pantul, dsbnya.

Perlu juga diketahui, bahasa Banjar terbagi menjadi beberapa dialek antara lain, dialek Banjar Hulu dan Banjar Kuala. Dialek Banjar Hulu banyak dipergunakan oleh masyarakat yang berada di wilayah yang dikenal dengan kawasan Banua Anam (dulunya Banua Lima), sedangkan dialek Banjar Kuala digunakan oleh sebagian besar wilayah Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tanah Laut, Tanah Bumbu, Kotabaru dan Barito Kuala.

Beda kedua dialek tersebut terletak pada penggunaan vokal di tiap kosa kata. Dialek Banjar Hulu tak menggunakan vokal O dan E, apalagi E pepet, sedangkan dialek Banjar Kuala cenderung seperti bahasa Indonesia yang digunakan sehari-hari meski masih tetap mencampurnya dengan kosa kata yang memang asli bahasa Banjar.

Nah, bila anda sewaktu-waktu berkunjung ke wilayah Propinsi Kalsel, misalnya mengunjungi Pasar Terapung yang terkenal itu, anda tak lagi kaget bila mendengar “orang Banjar” berbicara.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.