Politik Mohon Doa Restu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Politik Mohon Doa Restu


foto : tempo.co
Tulisan ringan ini sebetulnya sudah lama, aku tulis menjelang Pemilukada di Kabupaten Tanah Bumbu Kalsel beberapa bulan lalu. Keluar dan mengalir begitu saja karena mengetahui dan melihat realita di masyarakat, dimana para Tim Sukses masing-masing Calon Kepala Daerah gencar-gencarnya membagikan uang dan sembako di tiap-tiap RT. Dan kenyataannya adalah Calon yang paling banyak menghamburkan uang lah yang menang dan terpilih menjadi Bupati.

Kira-kira 2 dekade lalu kalimat “Mohon Do’a Restu” atau sering diplesetkan menjadi “Mohon Dua Ratus”, hanya akan ditemui di dinding rumah mempelai.
Kini, kalimat tersebut tampak bertebaran dimana-mana dengan kegunaan yang berbeda, untuk minta dukungan politik ; jadi wakil rakyat, maupun kepala daerah.

Pergeseran penggunaan, atau pemanfaatan istilah, tak tahulah aku. Tahunya aku dulu sempat menggunakan kalimat tersebut saat duduk menjadi mempelai bersama mantan pacar.
Membaca baliho maupun spanduk, stiker yang “Mohon Do’a Restu” itu, aku jadi berasumsi sendiri ; kenapa tak menggunakan kalimat yang tegas, misalnya “Pilih saya sebagai Kades, Bupati, Gubernur, Presiden, atau anggota DPR/DPRD”, kenapa mesti tersamar dibalik kalimat yang juga sering dipakai oleh para calon jemaah haji itu (?)

Orang kita (Indonesia) memang suka menggunakan istilah atau ungkapan yang kurang tegas, berbelit, mbulet, dan samar-samar. Padahal maksudnya ini, bicaranya kemana-mana ; tujuannya ke utara, ambil jalannya ke barat dan ke timur, ribet istilah bahasa slank-nya.

Bicara soal urusan politik, aku tentu bukan ahlinya, pengamat politik pun bukan. Namun sebagai seorang warga negara, tentu paling tidak ikut peduli dengan perbaikan dan pencerahan politik bagi masyarakat yang menurutku selama sekian dekade cuma menjadi alat komoditi oleh para praktisi politik. Yang lebih parah lagi rakyat atau masyarakat ditipu secara halus, samar-samar, bahkan kasar. Iming-iming, janji semanis madu, atau money politik berkedok pemberian sebagai take for granted, namun menelikung di belakang, celakanya tak menjadikan rakyat sadar telah ditipu, bahkan seperti orang tobat makan sambal.

Dengan uang pemberian (politik uang), rakyat senang tanpa memikirkan bahwa pemilik uang yang mereka terima itu telah membeli hak suara untuk sebuah status politik selama 5 tahun, bukan 5 jam, 5 hari, atau 5 minggu. Dengan pemberian uang, kebanyakan rakyat yang telah menjadi pemilih busuk, dibutakan mata dan nuraninya tanpa mau mengetahui sejauh mana kredibiltas dan kapabilitas seorang yang akan minta dukung dan pilih.

Kupikir jika seseorang yang ingin minta dukung dan pilih untuk menjadi seorang Kades, tanpa pernah satu hari pun menjabat sebagai Ketua RT, apakah ia layak ? Apalagi untuk menjadi seorang Bupati, Gubernur, Presiden.
Entahlah, aku belum pernah menjadi seorang pemimpin walau sekejap pun terkecuali jadi pemimpin bagi isteri dan anak-anakku.

Kupikir lagi jadi seorang Ketua RT yang memimpin dan mengatur ratusan warga saja, kubayangkan sangat sulit bila tak punya ilmu kepemimpinan. Yang dipimpin itu merupakan sekumpulan manusia dengan berbagai karakter dan kepentingan serta permasalahan, kompleks, bukan seperti seorang gembala yang cukup membawa ternaknya ke padang rumput, lalu meninggalkannya.

Tapi itulah realitas yang sedang kita lihat, alami dan berlangsung di depan kita. Seseorang yang dengan sejumlah uang dan kekayaannya, meski mungkin dalam hati nuraninya sendiri ia tahu bahwa tak punya kredibiltas dan kapabilitas memimpin, namun demi prestise, berani gambling mengucurkan dana sekian banyak membeli hak suara ; serangan di waktu fajar, siang, dan malam.
Nurani kita lah yang mesti kita perangi untuk mengalahkan keinginan politik yang bertentangan dengan norma-norma dan kaidah yang benar. Jangan menambah parah kondisi yang sudah berlangsung sekian lama, dijadikan objek penderita, komoditi politik sesaat, dan ditipu.

Jangan memilih Cabub-Cawabup yang cuma mengandalkan uang banyak, ikut mencatut nama besar orangtua, tapi dukung dan pilih yang benar-benar diketahui memiliki ilmu kepemimpinan. Jika salah memilih Kepala Daerah yang di kemudian hari ternyata tidak berkualitas, maka disitulah kita akan sadar bahwasanya beberapa lembar uang seratus ribuan yang pernah kita terima dulu tak sanggup menafkahi untuk waktu 5 tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.