Sesal Menanti Waktu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 02 Maret 2014

Sesal Menanti Waktu

Mimin tak mengira hidupnya bakal berada di sebuah barak tempat pelacuran yang berjarak belasan kilometer dari pusat kota.
Kumpulan puluhan barak itu berderet membentuk sebuah pemukiman setara dengan desa kecil. Disini suasananya selalu ramai ; hingar bingar dan dentuman suara musik dari peralatan audio visual, aroma parfum bercampur minuman keras , dan tawa berderai. Disini seolah tak kenal kesedihan.

Hari ini Mimin sudah melayani 4 orang tamu di tempat tidur. Ia pun sebelumnya sempat menemani beberapa tamunya berkaraoke sambil menenggak bir. Hingga menjelang tengah malam, Mimin baru mendapat waktu luang untuk sekedar melepas kelelahan. Tubuhnya penat, jiwanya terlebih sangat menderita.

2 bulan lalu Mimin masih merupakan ibu rumah tangga dengan seorang anak berumur sekitar 4 tahun yang hidup di pelosok sebuah desa di pulau jawa. Perpisahan dengan suaminya, Parno yang kepincut janda kembang, membuat kehidupannya berubah drastis. Mimin yang berasal dari keluarga miskin, harus memelihara & membiayai anak semata wayangnya, juga membantu 3 orang adiknya yang masih sekolah, pun membantu kehidupan orantuanya yang buruh tani.
Parno, mantan suami Mimin sudah tak diketahui entah kemana bersama Parti si janda kembang, tak peduli lagi dengan anaknya.

Tanggung jawab yang cukup berat untuk menghidupi anak & keluarganya, membuat Mimin menerima tawaran tetangganya, Sugik yang menawarinya kerja sebagai penjaga warung di kalimantan.
Mimin tak pernah curiga apalagi menyangka bakal ditipu oleh Sugik yang di desanya sering bolak balik ke perantauan. Bujukan penghasilan bulanan yang lumayan besar, membuat Mimin setuju mengikuti Sugik. Kepergian Mimin dari desanya pun diantar oleh doa dan deraian air mata keluarganya.

Di tempat tujuan, mula-mula Sugik menempatkan Mimin di sebuah warung yang berada di lokasi pelacuran itu. Sementara itu Sugik pergi entah kemana. Namun beberapa hari kemudian datang seseorang menjemput Mimin sambil memperlihatkan bukti-bukti pengambilan uang oleh Sugik dengan jaminan atas nama Mimin. Meski bersikeras, akhirnya Mimin dengan terpaksa harus menuruti & mengikuti kemauan si penjemputnya.

Mimin tak henti-hentinya menyesali kebodohannya yang telah ditipu Sugik. Ia tak pernah menduga dirinya telah dijual oleh tetangganya itu. Malang tak dapat ditolak, untung pun tak bisa diraih, Mimin pasrah dengan keadaan.
Setelah beberapa hari dengan profesi barunya itu, Mimin mulai agak melupakan kebodohannya, & mulai terbiasa menerima keadaan pekerjaannya. Ini karena mengetahui keadaan yang sama dialami oleh beberapa temannya.

Meski di tempat itu tampak tak ada kesedihan, namun jauh di lubuk hati Mimin yang paling dalam, ia menangis sendu, ingat anak, keluarga, & dosa atas perbuatannya. Ia bertekad kembali ke jalan yang benar bila sudah dapat menebus dirinya, & keluar dari lembah hitam itu.
Hentakan musik berirama keras masih terdengar kencang meski malam sudah sangat larut. Mimin sedang tergolek di dipan setelah melayani tamu ke-5. Matanya menatap atap daun nipah yang membayang muka anaknya, adik & orangtuanya. “Maafkan aku anakku, maafkan kakakmu, maafkan anakmu, & ampuni dosa hamba-Mu ini,” bisik hati Mimin.
Suara binatang malam lebih terdengar merdu di telinga Mimin ketimbang suara musik yang berganti-ganti irama.


(Kisah ini cuma rekaan. Kesamaan karakter, nama tokoh & tempat hanyalah kebetulan saja)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.