Sudahkah Menitip Surat ke si Imel? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Senin, 24 Maret 2014

Sudahkah Menitip Surat ke si Imel?

Cerita ini terjadi pada pertengahan tahun 1990-an dimana yang namanya Electronic Mail atau kini keren disebut E-Mail (imel) baru dikenal di kampungku.
Pada waktu itu di kampungku, sebuah kampung besar (malu menyebutnya kota) yang sedang berkembang, hanya orang-orang tertentu pula yang memiliki Personal Computer (PC), atau komputer rumahan, apalagi yang namanya internet.
Yang namanya ‘imel’ pun juga cuma orang tertentu yang mengetahuinya; ada yang bisa menyebut tapi tak tahu tata cara memiliki dan penggunaannya, termasuk aku (jujur).


Suatu hari seorang temanku berbicara masalah imel ini saat kami makan siang di sebuah rumah makan di kampung kami. Selain kami berdua, temanku mengajak seorang teman wanita yang memang kami kenal, temanku itu tampaknya sedang ada hati terhadap teman wanita yang lumayan cantik dan seksi.



Meski aku cukup lama kenal dengan teman wanita kami tersebut, namun aku kurang mengetahui pasti latar belakang pendidikannya. Namun dalam tiap percakapannya yang sering kudengar, kukira ia cukup berpendidikan dan berwawasan cukup luas pula, karena pembicaraannya dengan kata-kata yang sering bercampur dengan istilah asing.

Sambil menyantap makanan, temanku itu membicarakan masalah si imel tadi.
“Sudah waktunya kita tak lagi menulis dan berkirim surat seperti yang selama ini dilakukan kebanyakan orang,” ungkap temanku.
“Terus kita mesti bagaimana ?” tanyaku ingin tahu.
“Cara-cara dulu itu pemborosan waktu dan biaya, serta tidak efektif. Ada cara terbaru yang praktis dan modern,” jelasnya.
“Iya, tapi aku tidak paham arah dan maksud pembicaraanmu itu kemana,” sahutku makin penasaran dan sedikit jengkel.
“Ada teknologi terbaru yang sangat praktis untuk menulis dan berkirim surat, melakukannya dengan mengirim lewat imel,” ungkap temanku itu akhirnya dengan perasaan bangga.


Sebetulnya aku sempat terbaca masalah imel ini di kolom teknologi pada sebuah koran terkenal di daerahku. Namun karena membaca cuma sepintas lalu, jadinya aku hanya bisa menyebut saja tanpa mengetahui sejelasnya tentang si imel ini.
Makanya meski temanku dengan bersemangat berbicara masalah imel, dalam benakku tetap sulit membayangkan seperti apa dan bagaimana makhluk baru bernama imel tersebut.


Rupanya disela-sela makannya, teman wanita kami itu mengikuti pembicaraan kami berdua.
“Tak usah repot-repot kalau ingin berkirim surat, nanti titipkan saja ke temanku Imel, aku selalu menitip ke dia, karena dia paling rajin ke kantor pos berkirim surat,” cetus teman wanita kami itu sambil menyudahi santapannya dan mengelap mulutnya.
Mendengar perkataannya itu aku spontan tercengang, kagum dengan tanggapannya atas pembicaraan kami berdua tadi.
Sedangkan temanku sempat terkekeh menahan ketawanya agar tidak meledak.


“Temanmu si Imel itu patut diacungi jempol karena rajin berkirim surat, pasti banyak relasinya di tempat yang jauh,” ujar temanku dengan bijak agar tak mempermalukan teman wanita kami itu.
Aku cuma tersenyum simpul sambil bergumam dalam hati; cantik tapi respon terhadap topik pembicaraan jeblok.


Setelah kejadian di rumah makan itu, aku sering berolok-olok ke temanku, “sudah menitip surat ke si Imel ?” 
Dan kami berdua pun terbahak-bahak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.