Tempe Menghilang, Tak Masalah Bagi Kami - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 15 Maret 2014

Tempe Menghilang, Tak Masalah Bagi Kami

Ribut-ribut soal tempe yang konon menghilang di pasaran, saya baru tahu siang ini setelah membaca beberapa berita dan tulisan di media online.

Menurut saya berita menghilangnya tempe tersebut, terasa sangat berlebihan. Karena pada berbuka puasa dan makan sahur tadi malam, istri saya masih menghidangkan tempe yang dibacem, yang ia beli dari seorang tetangga kami yang etnis Jawa.

Saya tidak mudah percaya dengan rumor menghilangnya tempe. Saya sudah mengecek di daerah kami, masih banyak tempe dan tahu dijual. Lagi pula kenapa tempe dan tahu di daerah kami tak ikut menghilang ? Itu disebabkan warga di daerah kami bukan termasuk pemakan berat tempe dan tahu, karena mayoritas warga kami adalah berasal dari etnis Banjar dan Bugis, atau campuran dari keduanya.

foto : suarapengusaha.com


Tempe dan tahu di mata warga kami identik dengan etnis Jawa. Jadi tentu yang paling banyak mengkonsumsi kedua penganan yang terbuat dari kedelai itu adalah orang-orang Jawa.

Jadi kalaulah ada yang mengidentikkan orang Indonesia sebagai bangsa tempe, tak sepenuhnya benar. Karena yang benar-benar identik dengan tempe adalah suku bangsa Jawa, bukan keseluruhan bangsa Indonesia.

Bagi warga di daerah kami (non Jawa), tempe dan tahu hanya merupakan penganan camilan atau makanan sampingan, bukan untuk lauk pauk makan. Biasanya dibikin tempe goreng dengan sambal petis, atau tahu isi dengan sayuran, baru mengundang selera dan air liur. Warga di daerah kami kebanyakan belum terbiasa makan nasi dengan lauk tempe atau tahu saja, apalagi cuma dengan kerupuk. Bukan warga kami sombong, tapi memang belum terbiasa seperti suku bangsa Jawa. Makanan pokok bagi warga kami adalah nasi dengan ikan, telur, daging, dan sayur, tanpa tempe atau tahu, tak masalah, apalagi masalah besar. Jadi jika pun tempe atau tahu turut menghilang di daerah kami, pasti tak masalah, tapi masalah bagi warga dari etnis Jawa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.