Turunkan Foto Ulama itu - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Jumat, 28 Maret 2014

Turunkan Foto Ulama itu

Sudah menjadi semacam kebiasaan di kampung kami, memajang foto-foto ulama yang dianggap kharismatik dan berpengaruh.
Tak jarang foto ulama yang dipajang di dinding ruang tamu itu dalam ukuran besar, berpigura yang harganya cukup mahal.


Yang cukup mengherankan; tak sedikit diantara para pemajang foto ulama itu, hanya ikut-ikutan. Mereka sama sekali tak mengenal ulama tersebut selain namanya sering disebut-sebut.

Perihal ikut-ikutan memajang foto ulama ini juga menjangkiti istriku. Suatu hari ketika pulang dari berkerja, saat duduk istirahat di ruang tamu, pandanganku tertuju ke dinding. Betapa kagetnya aku, sempat terpana beberapa saat. Di dinding itu terpajang foto seorang ulama kharismatik di daerah kami yang selama ini sering disebut-sebut banyak orang, bahkan cenderung dikultuskan.

Foto ulama di dinding itu sangat menyolok. Ukurannya cukup besar dengan pigura berukir berwarna kuning emas. Sementara itu fotoku, istri berserta anak kami sangat kecil dibandingkan foto ulama tersebut.

Secara pribadi aku tentu sangat kesal dan jengkel dengan adanya foto ulama itu terpajang di dinding. Kupikir ini pasti perbuatan istriku yang tanpa permisi dan koordinasi main pajang foto orang di rumah kami.

Dengan berang aku perintahkan kepada istri agar menurunkan foto tak kuinginkan itu. Aku menyuruh istri untuk memajangnya di tempat lain asal tidak di ruang tamu.
Kepada istri kukatakan akan lebih baik memasang foto-foto orangtua kami dalam ukuran sebesar apapun yang dia mau. Menurutku tak ada manusia di dunia ini yang lebih pantas dihormati setelah Rasul Allah Muhammad SAW selain orangtua; ibu, kemudian ayah.



*Mohon maaf, tulisan ini bukan bermaksud merendahkan apalagi melecehkan para ulama, namun mengingatkan betapa lebih pentingnya menghormati Allah, Rasul-Nya, serta ibu dan ayah yang sangat berjasa terhadap kita. Disamping itu juga menghindari pengkultus individuan terhadap ulama, sehingga seorang ulama bukan lagi dianggap sebagai sosok manusia biasa, namun seolah dianggap sebagai Wakil Allah di dunia yang bukan mustahil akan diperlakukan melebihi Allah. 
Shalawat dan salam selalu kita panjatkan untuk Rasul SAW; اللحم صل ال محمر

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.