Untuk Apa Semua Ijazah Curian Itu? - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 08 Maret 2014

Untuk Apa Semua Ijazah Curian Itu?

“Besok persiapkan lamaran pekerjaanmu untuk bisa diangkat jadi Tenaga Honorer Tetap,” perintah Kepala Kantor dimana aku bekerja sebagai Tenaga Honorer di Kantor Resort Pemangkuan Hutan yang waktu itu pertengahan 1980-an dibawah Kantor Wilayah Kehutanan Propinsi Kalsel.

Aku pun bergegas membereskan pekerjaan rutinku, mengecek arsip dokumen pengiriman kayu yang dikeluarkan oleh kantor kami.
Usai membereskan pekerjaan, aku pun pulang ke rumah dengan berjalan kaki, karena jarak antara kantor dengan rumahku kurang dari 1 kilometer.

Keadaan rumah tampak lengang, pintu depan yang menghadap ke sungai, terbuka lebar. Kulihat adik perempuanku sedang mencuci di bantaran sungai, agaknya hari ini ia tak pergi ke sekolah. Aku tanyakan ke adikku kemana ibu dan adik bungsuku pergi, ia jawab ke pasar.

Aku pun memasuki rumah, membuka lemari dimana aku simpan ijazahku berikut beberepa surat penting termasuk beberapa lembar uang yang jumlahnya kuingat sebesar Rp 125 ribu (waktu itu harga emas per gramnya Rp 18 ribu).
Masya Allah ! Begitu aku menyibak dan memindahkan pakaian yang berada diatas dokumen berharga itu, tak kutemui selembar pun ijazahku. Padahal ijazahku mulai dari SD, SMP hingga SMA tersusun berurutan tadinya disana.
Aku mulai berkeringat dingin membayangkan semua ijazahku itu benar-benar hilang. Aku terduduk lemas tersandar di kursi rotan yang berada di ruang tamu.

Aku tanyakan ke adikku yang sedang mencuci apakah ia ada melihat orang atau apapun yang mencurigakan datang ke rumah kami, adikku menjawab tidak ada.
Makin galau lah perasaan dan pikiranku. Harapanku satu-satunya adalah menunggu ibu pulang dari pasar. Mungkin ibu yang memindahkan berkas tersebut dari tempat asalnya, pikirku.

Sudah beberapa batang rokok kuhabiskan, akhirnya ibu pun datang dari pasar. Aku langsung bangkit dari tempat dudukku seolah seperti melompat.
Kutanya ibu apakah ia mengetahui dan telah memindahkan ijazahku dari tempatnya, ibu menjawab tak ada.
Lemaslah seluruh persendianku mendengar jawaban ibu. Ijazahku hilang, ada yang mencuri ! Itulah kesimpulan kami semua yang ada di rumah. Tapi siapa pencurinya, dan kapan hilangnya ?

Teringatlah kami pada seseorang yang sempat kami tampung beberapa lama di rumah kami. Sebut saja namanya Anto. Pria berumur sekitar 20 tahunan itu sempat aku tampung, dan kucarikan pekerjaan. Pria lajang yang mengaku berasal dari pulau Jawa itu, kutemukan saat akan dikeroyok oleh sekelompok pemuda kampung yang sedang pesta Miras.
Karena kedatanganku lah para pemuda teler itu melepaskan ‘mangsanya’. Karena mereka segan terhadapku sehingga mereka mengurungkan niatnya mau memukuli pria itu.

Si Anto ini kuajak ke rumahku. Dari mulutnya kuketahui kedatangannya ke tempat kami untuk mencari pekerjaan. Sedikit pun dalam pikiranku tak ada prasangka buruk terhadap orang yang kutampung itu. Bahkan melalui seorang kenalanku, ia diterima di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan.
Namun hanya sekitar 2 minggu bekerja di perusahaan itu, Anto diberhentikan. Keterangan yang kuperoleh dari kenalanku itu, Anto diberhentikan karena malas bekerja, sering tidur di tempat kerja.
Aku pun maklum, meski perasaanku malu terhadap kenalanku itu yang sudah mau membantuku.

Adapun alasan Anto kenapa ia malas bekerja, karena menurutnya pekerjaan itu tak cocok buatnya. Kepadanya kukatakan agar bersabar aku akan mencarikan pekerjaan yang benar-benar cocok dan sesuai keinginannya.
Selama belum dapat pekerjaan, aku minta ke dia agar di rumah saja ikut membantu pekerjaan rumah, seperti mengambil air dari sungai.

Dan kami ingat lebih dari seminggu yang lalu, Anto pamit ke ibuku dengan alasan akan pergi ke daerah lain.
Dan tudingan kami semua, Anto lah yang telah mencuri seluruh ijazahku. Namun anehnya uang yang terdapat di tumpukan ijazah itu tak ia bawa sekalian. Menurut ibu dan adik-adikku, hanya ijazah itu yang ia incar dan butuhkan. Tapi bagaimana mungkin ia bisa mempergunakan semua ijazahku itu ? Ah, aku malas memikirkannya.
Aku pun melaporkan kejadian tersebut ke pihak Kepolisian setempat, aku memperoleh surat tanda kehilangan.

Aku tak punya ijazah lagi dari hasil sekolahku, 12 setengah tahun. Surat kehilangan yang kuperoleh dari kepolisian, kuselipkan di dompet. Namun karena kelamaan, entah bagaimana dan dimana, surat keterangan itu pun hilang dari dalam dompetku.
Aku tak lagi mau mengurus surat kehilangan tersebut. Aneh juga pikirku, surat kehilangan dimintakan surat kehilangan lagi, hehehe…….

Kejadian yang menimpaku itu terjadi pada 1986, aku masih fresh graduate alias baru beberapa bulan lulus dari SMA.
Hingga kini aku tak lagi pegang ijazah selembar pun. Beberapa kali aku sempat bekerja di perusahaan, tak menggunakan ijazah, tapi melalui koneksi. Dan sejak 1988 aku mengundurkan diri dari kantor tempatku bekerja di Resort Pemangkuan Hutan.
Setelah puluhan tahun aku melupakan ijazahku, beberapa hari lalu Mantan Bupati di daerahku memintaku agar ikut mencalonkan diri sebagai anggota DPRD di 2014 nanti. Perihal kejadianku ini pun kuceritakan kepada Beliau. Dan, Beliau minta agar aku segera mengurusinya kembali agar bisa ikut maju sebagai calon anggota legislatif daerah.
Jika Tuhan menghendaki, 2014, I’m coming !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.