Ayah Kami Tak Mengajarkan Poligami - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 01 April 2014

Ayah Kami Tak Mengajarkan Poligami


-Kami meniru ayah

Hari itu sudah kuniatkan bangun agak siang karena ingin istirahat setelah datang mengunjungi beberapa desa. Tapi niatku ini tak kesampaian, istriku membangunkanku dengan setengah memaksa. Aku pun bangun dengan malas, jam belum menunjukkan angka sembilan.

Rupanya ayahku yang datang ke rumahku sehingga istriku membangunkanku setengah memaksa. Aku hanya cuci muka lalu menemui ayahku yang sedang duduk *balapak di lantai sambil menikmati segelas kopi yang disuguhkan istriku.
Tanpa basa basi aku menanyakan maksud kedatangan ayahku. Aku memang sudah terbiasa berbicara apa adanya dengan ayah sejak aku masih kecil, aku lebih dekat dengan ibu. Apalagi sejak ibu meninggal aku semakin jarang berkomunikasi dengan ayah hingga aku berkeluarga. Sifatku dengan ayah berbeda jauh, orang-orang yang mengenal keluarga kami selalu mengatakan aku lebih mewarisi sifat ibuku yang terbuka kepada siapa saja dan pandai bergaul. Hanya satu hal agaknya yang kuwarisi dari ayah; praktik poligami.


Ayahku hari itu tampak agak marah kepadaku. Itu bisa kulihat dari ekspresi wajahnya yang mengeras dan nada bicaranya yang bertekanan berat. Aku ia tuduh telah mengajari seorang adik lelakiku berpraktik poligami. Istri adikku rupanya telah mengetahui perihal adikku atau suaminya menikah lagi secara diam-diam, dan melapor ke ayahku, dan aku lah yang menjadi tertuduh.

Tentu saja aku tak terima atas tuduhan ayahku. Karena selama ini aku memang tak pernah menganjurkan ke adikku agar mengikutiku berpoligami. Bahkan aku menganjurkan agar berpikir dulu berkali-kali sebelum memiliki keinginan untuk berpoligami. “Tak ada yang mengajarinya berpoligami, tidak juga aku, tapi dia telah menirunya dari ayah,” inilah pembelaanku yang membuat ayahku pulang hanya berpamitan dengan istriku. Jawabanku tersebut rupanya sangat telak.

-Keluarga poligami

Aku menjadi anak tertua di keluarga kami setelah anak pertama meninggal saat masih kecil. Aku memiliki lima saudara; dua pria dan tiga wanita. Masa-masa kecilku dan para saudaraku adalah masa-masa kami berbagi kasih seorang ayah dengan istri-istri ayah yang lain serta anak-anaknya, atau saudara seayah kami.

Seingatku ayah sudah berpoligami saat aku masih duduk di bangku SD. Kala itu aku belum mengerti, yang kutahu ayah dan ibuku sering bertengkar, dan ayah jarang berada di rumah. Setiap kali kedua orangtuaku bertengkar, aku lebih memilih keluar rumah sambil mengajak adikku. Hal yang membuatku agak jengkel adalah aku sering mendapat ejekan dari teman-teman sekolah; aku punya ibu baru. Selebihnya aku merasa biasa-biasa saja, karena aku lebih dekat dengan ibu yang penuh perhatian.

Ayahku bukan seorang pria berduit. Ayah hanya seorang pegawai negeri berpangkat rendah yang sering dimutasi ke berbagai pelosok kecamatan. Karena tempat tugas ayah yang jauh dari tempat tinggal kami di ibukota kabupaten, ibu jarang mau mengikuti ayah. Apalagi antara letak ibukota kabupaten dengan tempat-tempat tugas ayah dipisahkan oleh laut; ibukota kabupaten berada di pulau tersendiri, sedangkan letak kecamatan-kecamatan berada di daratan pulau kalimantan. Kondisi inilah yang membuat ibu jarang mau ikut ayah.

Karena sendiri tanpa keluarga berada di tempat tugasnya, inilah kemungkinan yang membuat ayahku bebas dan berbuat menurut keinginannya, termasuk main perempuan. Konsekuensi dari itu semua adalah ayahku menikah di tempat tugasnya. Dan itu ia lanjutkan lagi di tempat tugasnya yang lain hingga seingatku ayah menikahi enam wanita selain ibuku. Ini artinya selama hidupnya ayahku sudah menikah sebanyak tujuh kali.

Dalam beberapa hal aku dan saudara-saudaraku pria kalah dari ayah terutama dari segi penampilan. Ayah kutahu adalah seorang yang sangat memperhatikan penampilan dalam berbusana; ayah selalu parlente jika keluar rumah. Meski usiaku dan ayah terpaut hampir tigapuluh tahun, tak jarang orang mengatakan antara aku dan ayah seperti kakak beradik.

-Kesetiaan ibuku sampai mati

Karena kedekatanku dengan ibu, sebagai anak tertua, aku paling tahu dan mengerti betapa sakit hatinya ibu karena dipoligami. Namun aku salut terhadap ibu yang bisa menyembunyikan perasaan sakit hatinya itu. Ibu selalu menyuguhkan senyum terbaiknya kepada orang-orang yang selalu ingin tahu perihal keluarga kami, terutama tentang praktik poligami ayahku. Ibu selalu berusaha mengalihkan pembicaraan orang-orang yang iseng ingin mengetahui perihal kehidupan keluarga kami.
Untuk menutupi dan menekan perasaan sakit hatinya itu ibuku menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan usaha yang menghasilkan uang. Ibu membuat, menjual dan melayani kue-kue pesanan orang. Ibu juga membuka kios sembako di rumah kami, serta membuka warung minum yang melayani tetangga sekitar serta para pekerja perusahaan kayu yang pabriknya tak begitu jauh dari tempat tinggal kami. Aku lah dan adik-adikku yang membantu ibu dalam menjalankan usahanya. Sedangkan ayah, ia jarang pulang karena mesti membagi waktu untuk istri dan anak-anaknya yang lain.


Ketika ku sudah beranjak remaja, menamatkan SMA, disinilah aku mulai mengerti akan kondisi keluarga, hubungan antara ibu dan ayah. Muncul berbagai perasaanku; kasihan terhadap kondisi ibu, jengkel dan marah terhadap perilaku ayah.
Pernah kusarankan kepada ibu agar melaporkan saja perilaku dan perbuatan ayah yang suka kawin itu kepada atasannya. Pada masa itu seorang pegawai negeri dilarang berpoligami karena melanggar PP Nomor 10. Tapi jawabanku ibuku tak setuju atas saranku tersebut. “Kalau ayahmu dipecat dari pekerjaannya apakah itu menyelesaikan masalah ?” tanya ibuku.
Tapi argumenku adalah karena selain berpoligami ayahku juga sangat jarang membiayai kami. Selama ini yang kutahu membiayai kehidupan ibu dan saudara-saudaraku adalah hasil kerja keras ibuku.


Andai ayahmu itu setengah manusia dan separuh babi pun, tetaplah ayahmu yang mengalirkan darah dalam tubuhmu,” ujar ibu tetap dengan senyum terbaiknya.
Aku selalu kalah jika berhadapan dengan ibu yang sangat sempurna menyembunyikan perasaannya.


Kejengkelan dan kemarahanku terhadap ayah mencapai puncaknya ketika mengetahui ayah menghabiskan uang yang diterimanya beberapa minggu setelah pensiun dari pekerjaannya sebagai seorang pegawai negeri. Ayah memperoleh uang Taspen, uang tersebut ia habiskan dengan seorang ibu tiriku, berpergian keluar daerah tanpa sepeser pun memberi ibuku, istri pertamanya.
“Jangan ijinkan lagi ayah menginjakkan kaki di rumah ini,” geramku.
Lagi-lagi ibuku bergeming dengan kejengkelan dan kemarahanku. Senyumnya yang arif kembali menghiasi bibirnya. “Biarkan saja ayahmu pulang ke rumah ini, ini juga rumahnya,” kata ibu.


Aku gagal, selalu gagal membuat ibu marah dan membenci ayah. Sungguh aku tak mengerti terbuat dari apakah sebenarnya hati ibuku hingga tetap setia kepada ayah. Dan kesetiaan ibuku ini ia bawa hingga ke liang kuburnya.

Aku yang sudah terlanjur membenci ayah atas perlakuannya terhadap ibu dan kami, memutuskan meninggalkan rumah sebelum ayah kembali ke rumah kami. Dengan berlinang air mata ibu memberi ijinnya dan membiarkanku pergi dari rumah. Tujuanku ke sebuah daerah dimana terdapat beberapa kerabatku dan juga teman-temanku.
Aku sempat lama baru menginjakkan kaki di rumah ibuku. Terakhir kali aku menginjakkan kaki disana saat ibuku terbaring sudah tak bernyawa lagi. Ibu meninggal beberapa jam setelah ditabrak sebuah sepeda motor yang melaju sangat kencang saat menyeberang jalan di depan rumahnya. Dalam bathinku pasti ibu sangat menderita menahan rasa sakit yang luar biasa sehabis ditabrak, namun dalam tidur panjangnya itu bibir ibuku tetap tersenyum persis ketika di masa hidupnya.
Hati dan perasaanku sangat sedih ditinggal ibu, namun kutahan agar air mataku tidak tumpah. Kesedihan baru benar-benar kurasakan setelah beberapa hari ibu dikuburkan. Aku tak kuasa menahan air mataku tumpah. Tak pernah sebelumnya aku merasa benar-benar larut dalam kesedihan yang dalam. Dan baru kali ini di usia dewasa aku menangis.


-Membalas sakit hati ibu

Aku kembali meninggalkan rumah dimana ibu semasa hidupnya tinggal. Tak ada kata pamit ke ayahku, hanya pamit kepada saudara-saudaraku.
Kehilangan ibu lah yang membuatku berpikir untuk menikah lagi setelah pernikahan pertamaku kandas tanpa membuahkan anak. Aku ingin mencari perhatian seorang ibu dari wanita yang kunikahi.


Beberapa bulan setelah ibuku meninggal, aku menikah untuk yang kedua kalinya. Keinginanku untuk menemukan sosok seperti ibuku pada istriku, gagal. Setelah melahirkan putra pertama kami dan putra kami berusia jalan dua tahun, istriku jadi tak betah di rumah. Putra kami sering ditinggal ibunya yang lebih asyik berkumpul dengan teman-temannya. Sementara aku disibukkan oleh pekerjaan mencari nafkah. Putra kami lebih banyak tinggal di rumah seorang bibiku. Jika aku sedang tak ada pekerjaan, akulah yang mengasuh putra kami.
Kehancuran rumah tanggaku agaknya tinggal menunggu waktu. Dan saatnya pun tiba, istriku kuketahui berselingkuh di luar. Tak ada kata maaf bagi istri yang selungkuh, kami bercerai tanpa melalui pengadilan agama, putra kami pun ikut denganku, karena ibunya tak bersedia mengasuhnya dengan alasan ingin bebas.


Hidup berdua dengan putraku, terasa berat memang. Untunglah bibiku bersedia membanguku mengasuh jika aku sedang berkerja. Kondisi ini sempat kujalani berbulan-bulan hingga kutemukan seorang wanita single yang bersedia kunikahi dan bersedia pula mengasuh putraku.

Mulanya tak ada niatku untuk berpoligami. Namun tiap kali mengingat mendiang ibuku, lalu perilaku mantan istriku, muncul perasaan benciku terhadap wanita. Pernah tersirat dalam pikiranku akan membalaskan sakit hati ibuku terhadap wanita. Aku pun mulai main perempuan di luaran tanpa sepengetahuan istriku. Dari cuma iseng main perempuan, lama kelamaan aku menjadi serius dengan perempuan yang kuanggap mau mengerti aku. Ini karena aku membanding-bandingkan antara istriku dengan perempuan lain. Aku pun nikah secara diam-diam.

Perbuatan buruk yang disembunyikan betapapun rapinya suatu saat akan ketahuan, ungkapan ini sudah diketahui oleh setiap orang. Istriku pun akhirnya mengetahui perbuatanku berpoligami. Istriku marah, mengamuk. Dengan caraku ku membela diri. Kepada istriku kuberi 2 pilihan; jika masih menginginkanku menjadi suaminya, ia mesti mengikuti cara hidupku, jika tidak bersedia, bercerai. Istriku tak mau kami bercerai, maka ia terpaksa menerima dipoligami.

Seperti yang pernah dilakukan ayahku, aku tak berhenti sampai disitu. Aku yang sudah memiliki dua istri, kembali bertualang. Dalam petualanganku, kembali aku tertarik dengan perempuan lain, dan kami menikah lagi secara diam-diam. Sama seperti sebelumnya, argumenku pun begitu. Dan lagi-lagi kedua istriku terdahulu tak bersedia dicerai.
Satu pelaminan untuk empat orang; aku beristrikan tiga orang.


Keinginanku untuk kembali nikah tak dapat kutahan. Tapi aku tak ingin beristri empat perempuan sekaligus. Salah satu dari tiga istriku mesti ada yang kucerai. Pilihanku jatuh kepada istriku yang tak dikaruniai anak, disamping itu ia kuanggap lebih banyak menuntut daripada yang lain. Aku pun kembali menikah setelah salah seorang istriku kuceraikan.

Petualanganku belum berhenti. Seorang perempuan kembali memikat hatiku. Lagi-lagi aku harus memilih salah satu dari istriku diceraikan. Pilihan kembali kepada istri yang tak memiliki anak.

Kini istriku tinggal dua orang. Salah seorang istriku kuceraikan beberapa bulan lalu karena kami sudah tak memiliki kecocokan lagi setelah lebih dari lima tahun berumah tangga, disamping itu ia juga tak memiliki anak dariku.
Aku belum tahu langkahku selanjutnya. Kujalani saja hidup ini seperti air mengalir. Terkadang kupikir apakah yang sudah kulakukan ini terhadap istri dan mantan istriku sebagai wujud dari membalaskan rasa sakit hatiku mendiang ibuku. Yang jelas selain aku, seorang adik lelakiku pun berpoligami entah apa alasan yang mendorong dan mendasarinya.
Adapun tiga orang adik perempuanku tak sudi dipoligami oleh suaminya. Ketiga adik perempuanku sudah berkali-kali kawin cerai. Mereka semua lebih memilih bercerai daripada dipoligami. Ini berbeda dengan apa yang aku dan adik lelakiku lakukan.


Ayahku, ayah kami tak pernah menganjurkan apalagi mengajari kami untuk berpoligami, tapi kami meniru apa yang sudah ayah lakukan. Kini ayah kami sudah tua, ia pun kini hidup dengan satu istri; perempuan kedelapan yang ia nikahi, istri-istri ayah yang lain sudah lama ia ceraikan.

*Balapak, dari bahasa Banjar, artinya sama dengan lesehan dalam bahasa jawa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.