Bahasa Banjar: Ungkapan, Peribahasa dan Idiom (Bag 4) - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 02 April 2014

Bahasa Banjar: Ungkapan, Peribahasa dan Idiom (Bag 4)

Kembali saya akan melanjutkan tulisan tentang ungkapan, peribahasa dan idiom dalam Bahasa Banjar.

-BARAMBUT DUA; artinya memiliki rambut dua, ungkapan ini bermakna jika ditujukan kepada seseorang yang dimaksud adalah seseorang tersebut kepalanya sudah ditumbuhi uban.

-BA’IGAL DIATAS BABUN; menari diatas gendang, maksudnya seseorang sedang berada di puncak kesuksesan atau ketenaran.

-TIMPULU BAGUNG JADI RAJA; mumpung Bagong (salah seorang punakawan dalam lakon cerita pewayangan) sedang menjadi raja, maksud dari ungkapan ini adalah aji mumpung; selagi sedang mendapat kesempatan yang sangat bagus mesti dimanfaatkan sebenar-benarnya.

-LIUR BAUNGAN; memiliki liur seperti ikang baung (sejenis ikan patin), ungkapan ini ditujukan kepada seseorang (pria) yang tidak bisa menahan diri setiap kali melihat wanita cantik maka ia pun menginginkannya.

-MUHA KAYU; memiliki muka seperti kayu, maksudnya sangat tidak tahu malu.

-TAHADAPI NASI TAMBAH; sedang menghadapi nasi tambahan, maksudnya seseorang yang dimaksudkan oleh peribahasa ini sedang memghadapi dan melawan orang yang hebat dan berkuasa.

-TAKACAK PUNTUNG API; terpegang puntung sedang menyala, maksudnya sedang menghadapi persoalan rumit.

-NANGKAYA TIWADAK TAHANTAK; seperti cempedak yang terhentak ke tanah, maksudnya jika ditujukan kepada seseorang berarti orang itu sangat jelek (fisiknya).

-MAHARAP KAGUGURAN INDARU; berharap kejatuhan sesuatu dari langit, maksudnya hampir seperti ungkapan bagai pungguk merindukan bulan.

-AMPUN URANG DISURUNG AMPUN SAURANG DISINTAK; milik orang lain didorong milik sendiri ditarik, maksudnya tak mau nengorbankan milik sendiri; sangat pelit, memanfaatkan milik orang lain.

-BAHINAK DI BUMBUNAN; bernafas di ubun-ubun, maksudnya sangat kepayahan.

-KADA SASUAI KALU’UNG; tak sesuai tempat, maksudnya apa yang dibicarakan tak sesuai dengan keadaan si pembicara.

Sampai disini dulu, nanti disambung pada tulisan berikutnya. Semoga bermanfaat bagi yang ingin mengetahui Bahasa Banjar lebih jauh.

1 komentar:

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.