“Berjuang” untuk Kursi Legislator - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Selasa, 01 April 2014

“Berjuang” untuk Kursi Legislator


Melihat banyaknya minat orang untuk maju sebagai Caleg (Calon Legislator), timbul pertanyaan dalam pikiran saya; apakah mereka semua rata-rata mengerti politik ? Ini mengingat latar belakang, disiplin ilmu dan ptofesi mereka yang beragam dan berbeda-beda.

Saya ambil contoh saja seorang yang berlatar belakang dan memiliki profesi sebagai artis, entertainer. Setiap waktu yang dilakukannya adalah memberikan atau menghibur orang lain. Lalu kapan ia melakukan aktivitas politiknya ? Ini tentu sangat berbeda jauh dengan mereka yang memang memiliki latar belakang politik, ditambah dengan disiplin ilmu politik tentunya, serta dalam kesehariannya melakukan aktivitas terkait hal-hal politis.

Sah-sah saja jika tiap orang ingin terjun (kebanyakan terjun bebas dengan gaya bebas pula) ke kancah perpolitikan. Ini hak tiap warga negara, apapun latar belakang sosial, budaya dan ekonominya. Dengan demikian seperti yang kita ketahui, beragam profesi yang maju sebagai Caleg.

Apakah untuk bisa terpilih dan duduk di kursi Legislator itu cukup hanya dengan ketenaran nama dan figur ? Tunggu dulu. Masyarakat kini kebanyakan mulai sadar dalam memperlakukan para Caleg. Mereka mungkin suka terhadap Caleg tertentu, tapi belum tentu langsung menentukan pilihannya. Tak pelak lagi mereka pun butuh “sesuatu” yang dapat membuat mereka benar-benar menentukan pilihannya. Sesuatu itu bisa saja berupa pemberian untuk menarik simpati dan menyenangkan hati mereka; kalender tahun terbaru, kaos, sembako hingga uang.

Apakah salah memberikan sesuatu untuk menarik simpati seseorang ? Apakah ini yang disebut politik uang ?
Saya sering mendengar istilah “tak ada sarapan pagi gratis”. Artinya tak ada sesuatu hal pun yang didapat tanpa membayarnya, termasuk untuk duduk di kursi Legislator tentunya. Silakan saja Anda yang sudah mengaku paham dan sadar dalam berpolitik untuk tidak menerima pemberian berupa apapun dari Caleg. Tapi disana, di tiap pelosok perdesaan dan kampung di seluruh negeri ini masih banyak orang yang belum seperti Anda. Mereka tak jarang berpendapat lebih baik mencari uang untuk kebutuhan keluarga daripada sekedar pergi ke TPS untuk mencoblos. Ini akan menjadi berbeda jika mereka sudah menerima pemberian dari Caleg sebagai pengganti waktu mereka yang terbuang, anggap saja pemberian tersebut untuk sekedar mengganti biaya transport.


Untuk bisa terpilih sebagai seorang Legislator maupun di jabatan lainnya, intinya adalah “berjuang”, berjanji dan uang.
Calon mesti pandai menarik minat dan simpati para pemilih dengan berbagai janji muluk. Visi dan misi yang bagaimana pun baik dan brilian, tak akan berguna jika tak dilontarkan sebagai janji. Lalu, jangan lupa sedia uang. Tanpa uang dipastikan berbagai rancangan dan rencana hebat bakal pupus tak bisa berjalan. Silakan tanya nanti kepada para Caleg yang terpilih; berapa banyak janji dan uang yang mereka keluarkan. Jika terdapat diantara sekian banyak Caleg yang terpilih ada yang gratis tanpa sepeser pun keluar uang, yang lain patut belajar dari dia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.