Generasi Pitsin Makan Fried Chicken Now - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 02 Desember 2017

Generasi Pitsin Makan Fried Chicken Now

Entah kenapa orang-orang di kampung saya menyebut penyedap rasa dengan sebutan pitsin (biar pakai hurup V tetap saja bunyi P), sampai saya mengetahuinya dari seorang guru tua, guru saya sendiri (semoga husnul khatimah kalau beliau sudah wapat).
Menurut guru saya ini, sebutan untuk penyedap rasa itu dulunya berasal dari 1 merk; Vitsin. Entahlah mungkin beliau benar, tapi kebanyakan people jaman now menyebutnya Micin, mirip singkatan Mocin alias Motor Cina, hehehe.......


Courtesy : andertoons
Dulu pitsin yang paling terkenal itu cap mangkuk merah. Masakan apapun rasanya belum apdol jika tak ditaburi penyedap rasa yang bintang iklannya sempat menampilkan seorang pelawak legendaris; Mendiang Bagio, cup, cup, cup.....
Dalam perkembangan selanjutnya si Pitsin ini menjadi berbagai merk yang tak lagi dimonopoli oleh cap mangkuk merah, dan rasanya pun menjadi bervariasi; rasa kaldu ayam, rasa sapi, rasa saos tiram, dan sebagainya. Dan konon epek dari kebanyakan makan pitsin seseorang akan jadi goblok, bloon alias aikiu jongkok, hiks, hiks, hiks.......

Lupakan tentang aikiu jongkok, saya tak sedang membahas itu tapi istilah-istilah yang diambil dari merk sesuatu barang.
Ada lagi celana tebal yang sebagian orang menyebutnya celana jins (jin dalam bentuk jamak atau berjamaah) tapi yang sangat terkenal dengan sebutan celana lepis (sebutan di kampung saya), atau lepais (levis, mirip nama kue kampung), hahaha......
Apapun merk-nya jika kainnya tebal; maka sebutannya celana lepais. Meski ada sedikit orang yang menyebutnya Denim, tapi lepais tetap lengket di benak banyak orang.

Nah, ini satu lagi. Padahal lebih nyaman jika disebut saja dalam bahasa Endonesa; ayam goreng ketimbang fried chicken. Karena untuk gaya-gayaan maka sering disebut dalam bahasa Inggris, padahal itu ayam digoreng pakai minyak, hanya saja dibalut pakai tepung seperti mengolah pisang goreng yang jika di kampung saya disebut sanggar atau gaguduh. 

Ada-ada saja people jaman now mau disebut gaya, seolah intelek, pakai bahasa mancanegara ala Vicky Prasetyo ataupun Tukul Arwana, meski terdengar lucu asalkan gaya, hehehe.......
Sudahlah ngelanturnya nanti bisa-bisa saya malah dituduh kebanyakan makan pitsin. Sorry saya ogah menyebutnya Micin karena bukan bahasa ibu saya, hehehe........ ciao.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.