Soto Banjar, Bak Air Hujan Dikasih Micin - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Minggu, 07 Januari 2018

Soto Banjar, Bak Air Hujan Dikasih Micin

Suatu hari saya ditanya oleh kenalan lebih tepatnya teman baru yang berasal dari Sumatera yang sedang berkunjung ke Banjarmasin, mereka tanya tentang masakan khas Banjar, saya langsung jawab Soto Banjar. 

Mendengar jawaban saya itu teman-teman saya minta penjelasan sekilas terkait Soto Banjar. Untunglah pengetahuan saya tentang kuliner ini lumayan, maksud saya lumayan kurang paham meski tak gagal paham.
Saya jelaskan saja tentang Soto Banjar dengan perbandingan Soto Lamongan; "Soto Banjar itu menggunakan kuah sop, nyaris mirip dengan Nasi Sop kalau disini, bedanya kalau Soto Banjar pakai lontong ataupun ketupat, Nasi Sop menggunakan nasi seperti halnya Soto Lamongan. 

Mereka pun mengajak saya untuk mencicipi Soto Banjar setelah mendengar penjelasan saya.
Kami pun pergi mencari warung makan yang menyediakan kuliner Soto Banjar, yang berakhir di satu warung makan di kawasan Km 1 Banjarmasin.
Tak lama pula setelah memesan, Soto Banjar pun dihidangkan oleh pelayan berikut sate ayam, karena biasanya Soto Banjar disantap bersama sate. 

Courtesy : infokuliner
Saya mempersilakan teman-teman dari luar daerah itu menyantap duluan sedangkan saya belakangan, ini saya maksudkan untuk mengetahui reaksi mereka saat suapan pertama.
Tapi apa lacur, pada suapan pertama wajah-wajah mereka menampakkan ekspresi kecut seperti usai menyantap buah Tanduy yang didaerah saya dikenal sebagai buah yang sangat masam rasanya.
"Gimana rasanya?" tanyaku ke mereka. Seorang teman yang bersebelahan duduknya denganku berujar dengan berbisik, "kok rasanya seperti air hujan dikasih micin."
Saya tersentak kaget dengan jawabannya. Saya pun menyantap Soto Banjar jatah saya, memang benar kata mereka, rasanya aneh begitu.

Meski rasanya saya rasakan seperti kata mereka air hujan dikasih micin, Soto Banjar yang kami santap tetap habis berikut sate ayamnya.
Saya pikir dengan rasa masakan tak seperti yang biasa saya santap ini, ada sesuatu yang kurang beres dengan pemilik warung makan. Saya dengarkan percakapan pemilik rumah makan dan para pekerjanya, logat bahasanya seperti satu suku di wilayah Jawa Timur yang memang banyak bermukim di Banjarmasin.

Sudahlah, soto Banjar itu dibikin oleh orang yang memang bukan ahlinya sata pikir, yang bikin tampaknya lebih ahli bikin sate yang memang spesialisasinya, hehehe.....bikin sate kambing terutama.

Namun perihal rasa ini jangan dianggap remeh lho, ini terkait soal ekonomi pula, maksud saya peningkatan ekonomi. Kuliner yang dibikin enak tentu akan berdampak terhadap banyaknya penggemar dan order sehingga meningkatkan penjualan dan pemasaran. 

Soal rasa ini sangat wajib hukumnya dipertahankan bilamana perlu sampai titik liur penghabisan, hihihi....... Karena tak jarang jenis satu masakan yang mulanya sangat enak dan lezat dirasakan oleh penggemarnya, sebab sangat laris dan laku keras; berangsur-angsur rasanya berubah lama kelamaan jadi kurang, dan akhirnya ditinggalkan oleh para penikmatnya.

Meski saya bukan penikmat kuliner seperti halnya Mendiang Bondan 'Maknyus' Winarno, setidaknya lidah saya mewakili banyak orang yang satu selera dengan saya, hehehe........
Saya ingat dulunya suka sekali makan ayam goreng kampung yang digoreng renyah dan rapuh hingga ke tulang-tulangnya. Sebut saja namanya rumah makannya Ayam Goreng Tega. Rumah makan ini punya cabang di berbagai daerah di 'Banua' saya. Dulunya rasa ayam tersebut lumayan sedap dan lezat dengan hidangan tambahan sayur asem Jakarta, petai goreng dan sambal yang maknyus bikin selera makan meningkat. Tapi kini apa yang terjadi dan saya alami, ayam goreng itu memang tega meninggalkan selera saya yang mungkin juga selera para penggemarnya yang lain, rasanya sudah tak seenak dulu, rasanya seperti ayam yang digoreng gosong, atau rasa ayam yang dibakar gosong, alamak tega kali kau ayam........

Ada lagi nasi goreng kesukaan saya yang tial kali saya pesan selalu menunggu antrian cukup panjang, pokoknya para pembelinya pada nunggu giliran lumayan lama, maklum rasanya enak sih.
Nah setelah sekian lama menikmati kelarisan yang menggembungkan pundi-pundi pemilik rumah makannya, lama-lama itu nasi goreng berubah rasa kurang enak dan penggemarnya pun ramai-ramai hunting nasi goreng lain apalagi setelah yang punya rumah makan sepulang menunaikan ibadah haji. 

Ah sangat sayang tak dapat mempertahankan rasa, ibarat seorang juara ia cukup sekali jadi juara tanpa bermaksud jadi juara bertahan hingga pensiun, hiks...hiks....hiks....
Jadi intinya soal rasa ini jangan sampai berubah dari rasa sedap menjadi kurang sedap apalagi sampai dapat sebutan seperti air hujan dikasih micin, oooh........

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.