Maaf, Saya Tak Pergi ke Sekumpul - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 16 Maret 2019

Maaf, Saya Tak Pergi ke Sekumpul

Guru Ijai (Guru Sekumpul)
Seorang kenalan saya tampak sedih karena batal akan pergi menghadiri acara haulan Guru Sekumpul di Martapura Kabupaten Banjar, padahal ia dan keluarganya sudah memesan mobil carteran untuk pergi kesana untuk bergabung dengan ribuan orang lainnya yang datang dari berbagai penjuru tempat. Batal pergi karena mobil carteran yang sedianya berada di kampung tempatnya tinggal malahan saat sopirnya ditelpon mengatakan masih sedang berada di Banjarmasin dan sedang bersiap akan berangkat menjemput kenalan saya dan keluarganya. Alhasil kenalan saya itupun merajuk dan membatalkan niatnya pergi.

"Yah sudahlah niat saya belum kesampaian untuk pergi kesana, mudah-mudahan lain kali bisa juga pergi kesana," ungkap kenalan saya itu dengan wajah murung.

Peringatan haul Guru Sekumpul atau Guru Ijai (Muhammad Zaini Abdul Ghani) ini sejak wafatnya beliau selalu diperingati setiap tahun oleh warga terutama di tanah kelahiran ulama atau Tuan Guru itu di kawasan Sekumpul Martapura Kabupaten Banjar Kalsel.

Tuan Guru tersebut sangat terkenal tidak saja di Kalsel, tapi juga hingga keluar daerah. Nyaris di tiap daerah di Kalsel umat Islam banyak yang memajang foto Guru Sekumpul ini di rumah mereka. Dan acara haulnya pun dihadiri oleh nyaris umat Islam dari berbagai tempat di Indonesia. Singkatnya Guru Sekumpul ini tenar dan mashur kemana-mana.

"Kamu kok tidak pergi ke Sekumpul, padahal kamu mudah saja kalau mau pergi kesana karena punya mobil sendiri," cetus kenalan saya itu.

Nah, ini dia pertanyaan yang akhirnya dilontarkan kepada saya keluar dari mulut kenalan saya itu, padahal ini pertanyaan yang sudah sangat sering saya jawab ke beberapa teman dan sahabat serta kenalan lainnya.

Pertanyaan yang gampang bagi saya namun sangat sulit menjawabnya. Gampang saja sebenarnya menjawabnya jika jawaban itu hanya sebagai semacam alasan untuk menghentikan pertanyaan berikutnya. Sulit karena jika jawaban itu menyangkut prinsip keyakinan, karena belum tentu setiap orang mau mengerti, dan ujung-ujungnya nanti malah dituding tak mengikuti 'orang banyak'.

Setelah berpikir maka saya pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan tersebut sesuai dengan prinsip keyakinan, karena bagi saya soal keyakinan itu adalah tanggungjawab pribadi saya kepada Tuhan Sang Pencipta bukan kepada siapapun terkecuali memang urusan yang terkait antara manusia dengan manusia (hablumminannas).

"Kenapa saya tak ikutan pergi ke Sekumpul ?"

Inilah jawaban saya untuk kenalan saya itu; (1) Saya tak kenal dengan Guru Sekumpul terkecuali hanya mendengar tentang ulama itu dari perbincangan orang-orang dan melihat foto beliau, (2) Guru Sekumpul itu bukanlah guru saya, karena selama beliau hidup jangankan saya berguru ke beliau bertemu muka saja saya tak pernah, dan (3) Saya tak kenal yang namanya haul, dan ini saya buktikan sejak ibu saya meninggal puluhan tahun lalu tak pernah sekalipun saya mengadakan acara haul untuk ibu saya terkecuali selalu mendoakan ibu saya setiap kali usai shalat.

Apakah saya penganut Islam ?

Jawaban saya adalah pasti. Karena saya bersyahadat mengakui bahwa tak ada Tuhan yang layak disembah dan dimintai pertolongan kecuali hanya Allah semata dan tak ada sekutu bagi Allah dalam bentuk apapun dan siapapun. Dan saya mengakui Muhammad adalah Rasul Utusan Allah, hanya Utusan Allah bukan bagian dari keilahian Allah.

Apakah saya tak cinta ulama ?

Jawabannya; saya cinta para ulama yang adalah pewaris para Nabi (waratsatul anbiya).

Lalu kenapa saya tak ikut acara haul para ulama manapun ?

Bagi saya mencintai ulama itu adalah dengan mengamalkan apa yang mereka sampaikan bukan dengan cara-cara yang sama sekali tak dianjurkan oleh agama Islam, dan tak berlebihan dalam mencintai sehingga dapat terjerumus pada sikap pengkultusan sebagaimana pernah dilakukan oleh banyak umat di masa lalu. Karena kecintaan yang berlebihan kepada para orang shaleh maka akhirnya terjerumus pada kesyirikan sebagaimana kaum Arab Jahiliyah yang menyembah berhala-berhala para orang shaleh seperti Latta, Uzza, Manan dan Baal.

Ayat alquran ini menjawab semua itu.

أَلَا لِلَّهِ ٱلدِّينُ ٱلْخَالِصُ وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوْلِيَآءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلْفَىٰٓ إِنَّ ٱللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِى مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهْدِى مَنْ هُوَ كَٰذِبٌ كَفَّا

"Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. Sesungguhnya Allah akan memutuskan diantara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar." (Q.S Azzumar 3)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.