Tuhan Itu Cuma Nama - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Kamis, 03 Oktober 2019

Tuhan Itu Cuma Nama


Tak sedikit orang berpendapat adalah tabu jika membicarakan masalah agama secara terbuka apalagi di media sosial. 

Bicara masalah agama menurut mereka lebih 'afdhal' jika di suatu forum tertutup semacam majelis yang dihadiri oleh para ahlinya.

Namun kalau kita pikir secara tanggungjawab maka masalah agama ini adalah soal ranah privat dan tanggungjawab pribadi kepada Tuhan kelak, bukan menjadi tanggungjawab para ahli ataupun pakar, hanya saja para ahli dan pakar (baca; ulama) wajib menyampaikan (tabligh), soal sesudah itu adalah urusan sendiri-sendiri.

Makanya tak sedikit orang yang seolah sangat mengerti agama (baca; Islam), dan memiliki pendapat sendiri dalam hal apa saja dan menunjukkan seolah dirinya paling tahu dan mengerti.
Misalkan saja ada orang yang berpendapat percuma shalat kalau tak kenal kepada yang disembah, dan menyebut orang yang shalat cuma menyembah nama bukan si pemilik nama.

Lalu, jika tak mengenal siapa yang disembah (Tuhan), bagaimana mungkin seseorang bisa dituding melakukan kemusyrikan atau syirik; menyekutukan Tuhan, sedangkan kenal kepada Tuhan saja tidak. Bingung kan ?

Bagaimana mungkin seseorang mengaku beragama, percaya Tuhan tapi malah tak mengenal Tuhan yang ia percayai ? Kalau demikian maka lebih baik baginya tak usah mengaku beragama dan tak usah saja percaya Tuhan wong ga kenal Tuhan juga kok (?)

Setiap yang mengaku Muslim dan Muslimah dipastikan sangat yakin dan percaya kalau Allah itu Maha Besar, sehingga saking besarnya Allah itu meliputi semesta alam; dari langit yang tak diketahui dimana pembatasnya hingga milyaran galaksi atau gususan planet dan satelit, sehingga bagaimana mungkin dapat melihat (visibility) Tuhan yang sedemikian besarnya itu. Dan tak dapat pula dibayangkan Tuhan itu seperti apa karena sudah diultimatum melalui Qur'an Surah Al Ikhlas; 'tak ada sesuatu pun serupa Allah.'
Jadi bagaimana mungkin mengenal dan tahu Allah itu Tuhan kalau bukan dari namaNya melalui apa yang sudah difirmankan di dalam kitab suci (Qur'an) ? 

Lalu ada yang menyerupakan Allah itu sebagaimana makhluk ciptaan yang memiliki sosok, jasad dan lain sebagainya (anthrofomorhism); ini sudah jelas menentang Surah Al Ikhlas.
Ada yang berkeyakinan Tuhan itu bersifat subjektif; imanen (Latin, immanere), yang maksudnya keberadaan Tuhan itu sangat dekat sekali dengan diri MakhlukNya; berada dalam diri, sehingga terdapat kalimat yang sering kita dengar 'sesungguhnya Aku (Tuhan) lebih dekat daripada urat lehermu.'

Namun ada pula yang berkeyakinan Tuhan itu bersifat objektif; transenden (Inggris: transcendent; Latin: transcendere), Tuhan itu melampaui apa yang terlihat, yang dapat ditemukan di alam semesta, Tuhan begitu jauh, berjarak dan mustahil dipahami manusia.

Akhirnya kita semua akan kembali kepada diri masing-masing apakah kita mau beriman dengan menerima keberadaan Tuhan dari namaNya, atau kita seumur hidup menyia-nyiakan waktu hanya ingin mengenal Tuhan saja bukan dari namaNya. (ISP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.