Ahmadiyah dan Mainstream - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Sabtu, 01 Maret 2014

Ahmadiyah dan Mainstream

Dengan adanya kejadian yang menimpa jemaah Ahmadiyah, saya jadi berpikir, di satu pihak terdapat yang menganggap Ahmadiyah telah menodai Islam, sedangkan di lain pihak berpikir dan berbicara tentang kebebasan dan perbedaan kepercayaan, agama, penafsiran terhadap ajaran agama.

foto : republika online


Tak sedikit pihak yang menganggap dan menuding tindakan massa yang menyerang jemaah Ahmadiyah sebagai kaum ekstemis agama, anarkistis, teroris, dan melanggar HAM.

Permasalahannya saya kira cukup sederhana, mayoritas umat Islam tak ingin ajaran yang telah mereka terima dan anut berabad-abad itu menjadi rusak dikarenakan adanya ajaran lain yang mengakui terdapat nabi lain sesudah Rasulullah Muhammad SAW (khataman nubuwwah).

Jika mayoritas umat Islam membiarkan ajaran yang sudah melenceng dan keluar dari mainstream itu, ini sama saja memberikan peluang kepada pihak-pihak yang berniat dan akan memecah belah dan menghancurkan Islam.

Bayangkan saja jika dibiarkan, bukan tidak mustahil akan banyak lahir nabi-nabi dari berbagai bangsa dan etnis, karena mungkin mereka berpendapat setiap bangsa dan etnis pun berhak memiliki nabinya.

Logika saya yang sangat teramat awam dan kampungan ini mungkin tak sebanding dengan pendapat dan pikiran para pendekar HAM manapun di dunia ini.

Saya tak bermaksud memprovokasi siapapun dengan uneg-uneg saya ini, apalagi umat Islam dimana saya adalah salah seorang diantara mereka. Saya hanya berpikir betapa mudahnya seseorang atau sekelompok orang dengan seenaknya, dengan penafsirannya merubah ataupun menambahkan sesuatu diluar mainstream yang sudah ada terdahulu dan baku.

Pembelaan terhadap mainstream ajaran agama ini tak hanya terjadi di Islam, juga pada agama-agama lain. Gereja Katholik Roma menganggap aliran Protestan yang dipelopori oleh Martin Luther sebagai keluar dari mainstream agama Katholik, yang pada akhirnya menjadikan lahirnya agama baru.

Saya tak menganggap remeh HAM ataupun hak-hak individu setiap orang untuk memperoleh hak-haknya baik sebagai manusia maupun sebagai seorang warga dari sebuah negara. Namun apakah cukup adil membela yang segelintir dengan mengabaikan yang lebih banyak, dan sudah eksis terlebih dahulu ? Saya kira menusia dengan logika berpikirnya, dengan berbagai pedoman yang tersedia, akan dapat mengetahui mana yang benar yang patut dibela, mana yang salah yang pantas dikalahkan. Di dunia ini hanya terdapat 2 hal yang saling bertentangan, benar dan salah. Jika pun kita dapat membuat kedua hal itu kompromi, maka ini ibarat api dalam sekam yang suatu saat membesar , dan akan membakar apa saja yang terdapat di sekitarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.