Bawa Kembali Amplop Itu! - ISP68

Xticker

Merangkai Kata Merajut Asa

Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung
Klik atau Tekan Saja Foto di Bawah Ini Untuk Pemesanan Langsung

Rabu, 05 Maret 2014

Bawa Kembali Amplop Itu!


Wajah AKBP Dul Mintasukma, Kapolres Kota Barujadi, tampak masam dan uring-uringan saat memasuki ruang kerjanya pagi ini.
Para petugas penjaga piket di Sentra Pelayanan, pun dengan sigap berdiri dalam posisi tegak dan siap tatkala atasannya itu melewati mereka.

Di belakang AKBP Dul, beberapa meter, tampak ajudannya Brigadir Patuh Satya berjalan tergopoh-pogoh sambil membawa tas hitam mengiringi komandannya itu. Ia pun tak memperdulikan para petugas piket yang meski dalam posisi siap namun wajah mereka tak urung menampakkan keheranan.

Dalam hati para penjaga itu bertanya-tanya ada apa gerangan tingkah AKBP Dul Mintasukma yang biasanya selalu tampak ramah dan bersahabat itu, justru sepagi ini sudah tampak kusut.
“Wah, ada hal yang gawat rupanya sedang menimpa komandan kita,” cetus Bripda Mat Sani.
“Iya kayaknya,” sahut rekannya Bripda Tabrani.
“Hus, diam ! Jangan sok menerka-nerka gitu,” celetuk Bripda Aman.

Dul Mintasukma menghempaskan pantatnya di kursi kerjanya setelah berada di ruangan. Sedangkan ajudannya mengambil tempat di sebuah kursi disamping meja kerja atasannya itu.
Dul menarik nafas panjang seolah mengeluh. Sementara itu ajudan duduk diam tak berani bergerak, menunggu kalimat atau perintah.

“Ajudan, apa pendapatmu tentang pertanyaan wartawan tadi yang nadanya seperti menuduh ada oknum polisi yang mencuri peralatan truk-truk itu ?” Tanya Dul ke Ajudannya.
“Siap Ndan ! Pertanyaan yang tidak etis, Ndan,” jawab Ajudan.
“Terus apa langkah kita untuk mengantisipasi berita yang kemungkinan bakal muncul di koran ?” Tanya Dul lagi.
“Siap Ndan ! Apa perlu kita panggil kesini wartawan yang bersangkutan untuk diajak diskusi ?” Saran Ajudan.
“Ide bagus, coba kamu hubungi dia sekarang,” perintah Dul.

Ajudan pun dengan sigap dan cekatan merogoh ponselnya dari tempatnya. Kemudian ia mencari nomor wartawan dimaksud.
Tak lama kemudian Ajudan tampak mulai bicara dengan seseorang.
“Halo, apakah saya bicara dengan wartawan koran Serba Serbi ?” Tanya Ajudan dengan suara dibikin berwibawa.
“Iya, benar. Ada yang bisa saya bantu ?” Balik lawan bicaranya.
“Anda diminta untuk bisa datang segera ke ruang kerja Kapolres, ada sesuatu hal yang perlu didiskusikan,” pinta Ajudan.
“Maaf, saya tidak bisa kesana, saya sedang sibuk menulis berita,” sahut wartawan itu.
“Tolonglah mas, datanglah sebentar kesini,” pinta Ajudan lagi dengan suara agak pelan.
“Maaf, sekali lagi maaf, saya belum bisa kesana saat ini, lain kali saja,” kata wartawan itu tetap ngotot menolak.
Karena sudah berusaha membujuk agar si wartawan bersedia datang, namun tetap ditolak secara halus, Ajudan pun akhirnya menyerah.

“Maaf Ndan, wartawan itu menolak untuk datang kesini,” ucap Ajudan dengan raut muka pasrah.
Dul Mintasukma cuma diam saja mendengar perkataan Ajudannya itu. Pikirannya semakin berkecamuk tak keruan. Karena ia sudah kenal karakter wartawan tersebut yang sulit diajak kompromi.
Dul pun bangkit dari tempat duduknya, berjalan mondar mandir sambil menyulut rokok dan menghembuskan asapnya ke atas. Meski ruang tempat kerjanya ber-AC, Dul Mintasukma tetap berkeringat. Tubuhnya terasa gerah, gerah karena terbawa pikirannya yang sedang berkecamuk.

Sementara itu Tegar, wartawan Koran Serba Serbi, sedang mengetik berita di rumahnya yang terletak di tengah Kota Barujadi.
Sambil terus mengetik, Tegar mengingat-ingat kejadian yang baru saja terjadi saat dia konfirmasi dengan AKBP Dul Mintasukma. Kapolres Kota Barujadi itu tak urung menggebrak meja dikarenakan pertanyaan Tegar yang dianggapnya menyudutkan kepolisian.

Kemarin di sebuah warung minum dekat Mapolresta Barujadi, Tegar sempat ketemu salah seorang pengusaha bidang perkayuan yang mengaku 2 unit truk miliknya diamankan pihak kepolisian. Kedua truk milik H. Hartawan itu ditangkap dan kemudian diamankan Polresta karena diduga mengangkut kayu hasil pembalakan liar.

H. Hartawan uring-uringan setelah mengetahui beberapa peralatan didalam mobil truknya ada yang hilang.
“Masa truk yang diparkir di halaman Polresta, peralatan didalamnya bisa sampai hilang,” ungkap H. Hartawan dengan muka heran.
“Yang hilang apa saja pak haji ?” Tanya Tegar sambil menyeruput kopinya.
“Tape, ban serep, peralatan kunci-kunci, bahkan solar di tangki mobil aja sampai kering,” jawab H. Hartawan sebal.
“Kunci kontaknya siapa yang pegang, pak ? Tanya Tegar lagi.
“Kunci kontaknya kan juga ikut disita polisi,” sahut H. Hartawan dengan suara masih terdengar sebal.
“Okelah kalau begitu, nanti pihak Polresta akan saya konfirmasi terkait masalah itu,” ujar Tegar.
“Terima kasih, mas. Masalah ini perlu diberitakan biar polisi-polisi itu tahu diri,” semangat H. Hartawan sambil berdiri dan membayar minumannya berikut kopi yang diminum Tegar.

Pagi tadi Tegar usai sarapan di sebuah warung dekat pasar induk Kota Barujadi, menelpon AKBP Dul Mintasukma.
“Halo, selamat pagi, pak. Mohon waktunya untuk ketemu, ada sesuatu hal yang akan saya konfirmasikan,” telpon Tegar.
Antara AKBP Dul Mintasukma dan Tegar sudah saling mengenal sejak Kapolresta itu mulai menjabat lebih setahun yang lalu.
“Selamat pagi juga. Oh silakan datang saja ke kantor. Saya tunggu di salah satu ruangan Satuan Lalulintas,” sahut AKBP Dul.
“Terima kasih, pak. Saya segera kesana sekarang,” ujar Tegar.
“Oke, saya tunggu,” balas si Kapolres yang kemudian memutus pembicaraan telpon.

Sesampainya di ruang yang telah ditentukan, tampak AKBP Dul Mintasukma bersama Ajudannya sedang menunggu.
Tegar pun menyalami keduanya.
“Silakan duduk,” kata AKBP Dul.
Tegar pun mengambil tempat duduk. Di depan tempat duduk mereka terdapat meja terbuat dari kayu yang diatasnya tersedia beberapa botol air mineral dan sejumlah makanan ringan.
“Silakan sambil diminum dan dicicipi,” tawar AKBP Dul.
“Terima kasih, pak. Saya langsung pada pokok masalah saja,” sahut Tegar sambil mengeluarkan alat perekam dan menghidupkannya.
“Oh silakan,” kata Kapolresta sambil memperbaiki posisi duduknya yang tadinya agak berjauhan.

“Saya mendapat informasi, kemarin pihak Polresta telah mengamankan 2 unit truk bermuatan kayu setengah jadi, apa benar demikian, pak ?” Tanya Tegar.
“Benar, kedua unit truk tersebut berikut 2 sopirnya kami amankan. Dugaan kami sementara kedua unit truk itu mengangkut kayu hasil pembalakan liar,” jawab Kapolresta.
“Sekarang kedua unit truk tersebut diamankan dimana, pak ?” Lanjut Tegar.
“Kedua unit truk kami amankan di halaman Mapolresta,” sahut AKBP Dul.
Tegar berhenti sejenak meminta ijin menyalakan rokoknya.

Usai menyalakan rokok dan mengisapnya, Tegar kembali melanjutkan pertanyaannya.
“Keterangan yang saya peroleh dari pemilik kedua truk itu, beberapa peralatan didalam mobil itu ada yang hilang, bahkan solar di tangkinya pun kering,” jelas Tegar.
“Maksud kamu apa ?” AKBP Dul balik tanya dengan raut muka berubah mengeras.
“Pertanyaan saya adalah, kira-kira menurut bapak, maling model bagaimana yang berani sekali mencuri di halaman Mapolresta ?” Tanya Tegar dengan intonasi suara terdengar tenang.
Braaaaakkkkkk !!! Tiba-tiba saja AKBP Dul Mintasukma berdiri dan menggebrak meja. Air mineral dan makanan ringan yang berada diatasnya pun berhamburan dan berjatuhan ke lantai.
Ajudannya yang tadinya berdiri di belakang atasannya, tampak kaget. Namun ia buru-buru bergerak memunguti yang berhamburan di lantai dan meletakkannya kembali di atas meja.
“Kamu berarti menuduh polisi anggota saya yang melakukan pencurian,” geram AKBP Dul sambil telunjuknya menuding ke arah Tegar. Namun Tegar tetap tak beranjak dari tempat duduknya. Meski Tegar sempat juga kaget, namun ia cepat menguasai diri dan bersikap tenang.
“Saya tak menuduh polisi yang mencuri. Saya cuma tanya maling model bagaimana yang berani sekali mencuri itu,” tangkis Tegar.
“Sama saja. Pertanyaan kamu itu sengaja ingin menyudutkan polisi,” suara AKBP Dul terdengar masih emosi.
“Saya tak mau menjawab pertanyaanmu itu,” tegas AKBP Dul.
“Terserah, itu hak bapak. Saya akan tetap membuat berita sesuai dengan apa yang telah saya peroleh, dan saya permisi,” kata Tegar sambil memasukkan alat perekamnya, kemudian berdiri dari tempat duduknya, dan melangkah meninggalkan ruangan dan AKBP Dul beserta Ajudannya yang masih berdiri membelakangi pintu keluar.

Dalam hati Tegar, ia bertekad kali ini akan memberi pelajaran terhadap pihak Polresta. Ia akan meminta pimpinan redaksinya agar menempatkan berita tersebut di halaman depan sebagai berita headline.
Tegar pun telah meyelesaikan berita yang dibuatnya. Kini tinggal mengirimkannya ke redaksi melalui email, dan kemudian menelpon pimpinan redaksi agar beritanya bisa dijadikan headline di halaman depan.

AKBP Dul yang tampak masih uring-uringan disebabkan pertanyaan Tegar itu, rupanya mendapat ide.
“Ajudan, coba kamu telpon si Gentar yang dari LSM Swara Mandiri itu, suruh ia datang kemari,” perintah AKBP Dul.
“Siap Ndan, dilaksanakan !” Sahut Ajudan.
“Saya ingin meminta bantuan Si Gentar untuk membujuk wartawan itu supaya tak menurunkan pemberitaan mengenai kehilangan di kedua unit truk itu,” ungkap AKBP Dul dengan suara yang nyaris tak kedengaran.

Beberapa saat kemudian Gentar, seorang aktivis LSM yang dikenal dekat dengan Kapolresta dan kalangan wartawan, sudah berada di ruang kerja AKBP Dul Mintasukma.
“Tolong tinggalkan kami berdua di ruang ini,” pinta AKBP Dul kepada Ajudannya.
“Siap Ndan !” Sahut Ajudan berdiri tegak sambil menyilangkan tangan kanannya ke kening tanda hormat, lalu kemudian meninggalkan ruangan.

Sepeninggal Ajudan, AKBP Dul pun menceritakan perihal konfirmasi yang dilakukan seorang wartawan beberapa jam yang lalu, mengutarakan maksudnya memanggil Gentar.
“Saya minta pertolongan kamu untuk membujuk wartawan itu agar jangan sampai menurunkan berita tersebut,” pinta AKBP Dul kepada Gentar.
“Sedapat mungkin akan saya usahakan membujuknya, pak,” kata Gentar.
“Ya, usahakan sebisanya,” ujar AKBP Dul penuh harap.
Kemudian ia pun menarik laci meja kerjanya. AKBP Dul mengambil sejumlah uang, menghitungnya, lalu memasukkannya kedalam amplop besar berwarna coklat. Sejumlah uang lagi tak ia masukkan ke amplop. Ia pun melangkah ke arah tempat duduk Gentar.
Sambil mengangsurkan amplop berisi sejumlah uang itu, AKBP Dul berkata, “ini didalam amplop ada Rp 25 juta. Berikan kepada wartawan itu dengan permintaan tak usah menurunkan pemberitaan. Dan ini Rp 2 juta buat kamu. Bila berhasil, nanti buat kamu akan saya tambah lagi.”
Gentar pun menerima amplop tersebut dan uang buatnya.
“Terima kasih, pak. Saya akan berusaha membujuknya semampu saya,” ucap Gentar sambil menyalami Kapolresta, dan berlalu dari ruangan diiringi AKBP Dul hingga ke depan pintu.

Kriiiiinnnngggg…………..Tegar memeriksa ponselnya siapa gerangan yang menelponnya. Tampak di layar ponsel muncul tulisan Gentar, LSM SM.
Tegar pun mengangkatnya.
“Halo, iya bang, ada apa, bang ?” Tanya Tegar.
“Saya akan ke rumah kamu, posisi dimana sekarang ?” Suara Gentar balik tanya.
“Sekarang saya sedang di rumah,” sahut Tegar.
“Tunggu aja di rumah, jangan kemana-mana dulu, saya segera kesana,” pinta Gentar.

Saat Gentar datang ke rumah, istri Tegar sedang keluar ke rumah salah seorang familinya. Gentar pun datang sendiri tanpa teman.
“Saya datang kesini ingin minta tolong kamu,” Gentar membuka percakapan.
“Minta tolong mengenai apa, bang ?” Tanya Tegar heran.
“Mengenai konfirmasi kamu ke Kapolresta tadi pagi,” lanjut Gentar.
“Apa hubungannya dengan Bang Gentar ?” Tanya Tegar tak mengerti.
“Beliau meminta melalui saya agar masalah itu tak usah diberitakan,” ungkap Gentar sambil mengeluarkan amplop dari dalam tas yang dibawanya.
“Oh…..begitu,” ujar Tegar akhirnya mengerti akan maksud kedatangan Gentar.
“Beliau sangat berharap sekali berita tersebut tak terbit. Dan beliau menitipkan amplop ini, didalamnya ada uang Rp 25 juta,” kata Gentar sambil meletakkan amplop diatas lantai di hadapan Tegar.

Beberapa saat Tegar terdiam melihat amplop besar berwarna coklat di hadapannya itu.
Pikirannya jadi berkecamuk antara mau manerima dan mengambil amplop itu dengan membatalkan berita yang sudah terlanjur dikirimnya, serta telah pula diketahui oleh pimpinan redaksinya.
“Bila amplop itu kuterima, maka harga dari profesiku cuma segitu. Pimpinan Redaksi pun pasti curiga jika meminta berita itu dibatalkan, salah-salah aku bisa dipecat,” bathin Tegar.

Diamnya Tegar beberapa saat tampaknya bisa dibaca oleh Gentar.
“Pikirkanlah untuk menerimanya. Uang didalam amplop itu cukup banyak, bisa kamu gunakan untuk berbagai keperluan. Teman-teman kamu belum tentu bisa memperoleh sebegitu banyak,” Gentar mencoba mempengaruhi pikiran Tegar.
“Tidak, bang !” Cetus Tegar tiba-tiba.
Sambil menggeser amplop itu ke arah Gentar, Tegar melanjutkan, “saya tak bisa menerima amplop ini. Maaf, saya tak bisa membantu, sampaikan saja permintaan maaf saya ini ke Kapolresta.”
Gentar tampak kaget. Ia tak menyangka Tegar bakal menolak pemberian tersebut. Padahal tadinya ia sangat yakin Tegar mau menerima seperti beberapa rekannya sesama wartawan yang pernah Gentar bawakan amplop.
“Apa sudah kamu pikir masak-masak penolakan ini ?” Gentar coba membujuk.
“Sudah saya pikirkan, saya tak bersedia menerimanya,” Tegar tetap pada keputusannya.
“Baiklah, itu hak kamu untuk menolaknya,” ujar Tegar dengan raut muka tampak kecewa.

Didalam mobil dalam perjalanan pulang dari rumah Tegar, sambil menyetir Gentar bergumam sendiri, “aku tak habis pikir. Apa sih sebenarnya dicari Tegar. Tolol sekali dia tak mau dengan uang sebegitu besar.”
Sementara itu sepeninggal Gentar, Tegar tersandar di kursi di depan komputernya. “Uang tadi itu cukup banyak. Aku tak ingin memperolehnya hanya sekali saja, aku harus bisa mendapatkannya berkali-kali kelak,” gumam Tegar dalam hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar singkat & padat.
Tak bernuansa SARA.
Tak membully.